Badut di JP
   
  Seekor ular besar dan panjang, merayap di tanah dan rerumputan lereng sebuah 
perbukitan atau gunung di Sulawesi Utara. Warnanya coklat, motif sisiknya bagus 
seperti batik. Dari jarak dekat, makhluk menakjubkan itu adalah piton atau 
sanca adanya. Gerakan melatanya tenang, saat Trans 7 menayangkannya di acara 
Jejak Petualang, Senin sore (23/04/07). 
  Tapi keindahan tak berlangsung lama. Sesosok badut tiba-tiba datang 
mengganggu keelokan satwa itu. Berkaos Jejak Petualang, seorang laki-laki 
berlari dan berteriak-teriak ke arah sang ular yang berada dekat sisa sebatang 
pohon lapuk. Seperti orang kesetanan, bongkahan pohon tua disingkirkan hingga 
terguling bersama sisa akar dan tanah yang menempel. Ekor ular segera diraih 
sambil terus berteriak-teriak. Tak kuat menarik, lelaki itu beralih menangkap 
leher dan mulut sang piton berkali-kali. 
  Tak cukup mengganggu dengan peran kesurupan, leher ular dicekiknya, hingga 
mulut sang piton membuka. Kemudian mereka bergumul seperti ada yang perlu 
menaklukkan dan ditaklukkan. Menarik? Lebih tepatnya menjijikkan.
  Patut disayangkan, tayangan semenarik Jejak Petualang pada awal-awal 
episodenya, kini harus tercemar oleh acting pembawa acara yang dangkal 
pengetahuan agama, konservasi dan satwa liar seperti itu. Ular yang sedang 
hidup tenang di alamnya dan tak mengganggu manusia, disiksa sedemikian rupa 
agar tayangannya terlihat menarik di mata penonton yang jauh lebih pintar 
daripada pembuat dan pembawa acaranya.
  Alangkah baiknya jika JP dihentikan sementara dan Trans 7 mencari kembali 
awak produksinya yang lebih berwawasan jika Heru Gundul dan rekan-rekan di 
Jejak Petualang masih gemar bertingkah bodoh dan menyiksa sesama makhluk hidup 
yang ditemuinya di alam raya. Tabik!       
     


       
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
 Check outnew cars at Yahoo! Autos.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke