Yuli, beruntunglah anak-anak yang mempunyai orang tua yang hobi membaca dan mengajarkan "cinta membaca" sejak usia dini.
Tantangannya, seperti kata Mas Totot, karena harga buku yg mahal, buku masih dianggap kebutuhan sekunder/tersier dll. Yang memprihatinkan, library yang bagus seperti British Council (Jakarta) malah ditutup, padahal dulu saya paling betah berlama-lama membaca di sana, karena suasananya yang "cozy", bisa pinjam tiga buku sampai dua minggu dll. Paling-paling kalau saya lagi pingin menikmati aura membaca yang enak, pilihannya tinggal ke Pusat Kebudayaan Perancis (Salemba) atau The Japan Foundation. Mau ke toko buku? QB sudah lama di tutup (kurang laku?), kalau Aksara terlalu jauh, jadi pilihannya tinggal Kinokuniya yg koleksinya cukup lengkap.Disana masih banyak pecinta buku dan kutu buku tulen yang betah berlama-lama membaca tanpa takut diusir (asal tahan malu aja!). Yah, memang Jakarta masih perlu waktu lama, untuk menumbuhkan komunitas membaca (ada masyarakat yang gila buku, ada library yang cozy, ada deretan toko buku yang koleksinya lengkap dll - nggak usah seperti Boston, bisa seperti Singapore saja sudah bagus!). Salam. ----- Original Message ---- From: Yuliati Soebeno <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Monday, May 7, 2007 8:07:10 PM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Minat baca yang kurang! Mas Totot, Minat membaca memang harus dimuali dari kedua orang tua kita, bagaimana mereka memberi contoh bahwa membaca buku lebih berguna dari pada nonton TV, atau keluyuran di malls. Saya senang membaca karena orang tua saya senang membaca, dan tanpa kita sadari kitapun ikut meniru kebiasaan mereka. Kami juga terbiasa diam dengan buku bacaan yang mengasyik-kan. Jarang kami nakal dan urakan, karena kami dibiasakan menghargai orang lain yang sedang membaca, yang memerlukan ketenangan, jadi kita tidak boleh ribut dan berteriak-teriak se-enaknya. Terutama sewaktu kita pergi ke perpustakaan, yang membolehkan kita membaca sepuasnya dan juga menghargai orang lain dengan selalu tenang dan tidak berisik. Didalam perpustakaan lah anak-anak bisa belajar menghargai orang lain, dan lingkungan sekitar nya. Tidak seperti di mal-mal, anak-anak berlari-lari dan berteriak-teriak se-enaknya. Main dengan mobil-mobilan yang ada control nya, sehingga mainan mobil nya menabrak-nabrak orang lain. Dan orang tuanya hanya diam saja. Aneh, bukan? Kami belajar menabung uang jajan kita, jika ingin membeli buku yang agak mahalan. Jadi dari kecil sudah terbiasa menghargai mana yang lebih baik bagi kita, jajan atau membeli buku yang bagus. Sampai sekarangpun saya masih menjalankan menabung untuk membeli buku-buku. Kalau sudah ada buku yang kepingin saya beli dan uang kurang cukup, ya badget yang untuk "laundry", misalnya, terpaksa dipotong dan baju-baju sutra saya cuci sendiri dengan tangan, instead of sending them to the laundry. Karena tidak bisa masuk ke mesin cuci. Kalau ingin punya buku-buku bagus memang harus pandai "ngirit". Tidak hanya di Indonesia, diluar negripun buku-buku tidak murah. Hanya kalau diluar negri kita bisa ke "Library" dan bisa meminjam beberapa buku (biasanya 3 buah buku sekali pinjam) untuk 2 atau 3 minggu, dan bisa diperpanjang lagi dengan meminta di-stempel perpanjangan waktu. Maka harapan saya semoga pemerintah sekarang ini membangun banyak "Library" dari pada malls. Biar anak-anak menjadi pandai dan juga tidak "Hyper active"; juga bisa belajar menghargai orang-orang lain yang memerlukan keheningan dan ketenangan untuk membaca. Bagi saya "library" atau perpustakaan yang bagus itu, tempat yang damai dan indah (karena banyak hal-hal yang bisa kita pelajari dan juga bisa mencerdaskan otak kita dengan membaca buku pengetahuan yang berguna). Kalau saya sedang punya buku bagus, saya sering ingin membaca nya sampai selesai dan bisa-bisa saya duduk membaca sampai larut malam dan lupa waktu. Mungkinkah itu maka burung hantu sering digambarkan memakai kaca mata dan memegang buku? Karena burung hantu tidak tidur dimalam hari. -:) Salam, Yuli
