iscab: Saya rasa semua penerbit di dunia tidak ada yang mau rugi. Bisnis penerbitan buku adalah bisnis beresiko. Suatu buku yang dijual belum tentu menguntungkan.
Saya pernah bilang kepada dosen saya kalau buku karangannya tentang Neuro Fuzzy sulit dibaca dan kurang contoh (example) serta banyak sekali inkonsistensi dalam menggunakan simbol dan rumus terutama pada perkalian matriks dan vektor. Oh, ya judul buku itu Computational Intelligence in Time Series Forecasting terbitan Springer Verlag (Jerman). Buku ini berbahasa Inggris, tetapi terbitan Jerman. Nama dosen saya Ajoy K. Palit. Dia bilang kalau dulu dia ingin memasukkan banyak contoh tapi penerbit yang tidak mau. Semakin tebal buku, biaya produksi meningkat, dan belum tentu ada banyak yang beli. Penerbit biasanya menjual buku yang beresiko dengan harga tinggi. Harga buku bisa berkalilipat dari harga produksi. Di Jerman, buku teknik dalam bahasa Jerman, bisa didapat dengan harga minimal 10 Euro. Ini bukan buku bekas. Nah, buku yang berbahasa Inggris tetapi dengan penerbit dari Jerman, seperti Springer, harganya minimal 40 Euro. Orang Jerman suka malas berbahasa asing termasuk bahasa Inggris, jadi resiko rugi untuk buku berbahasa selain Jerman tinggi. Oh, ya, novel di Jerman, bisa didapat dengan harga 1 Euro. Yang bekas, bisa didapat dengan harga 50 cent. Di Indonesia, juga mirip. Buku-buku dijual dengan harga minimal 4 kali biaya produksi. Oh, ya, kembali ke minat baca. Dewi Lestari (Dee) dalam pengantar dalam bukunya pernah menulis tentang minat baca. Dia pernah bilang, kalau kita menabung 1000 rupiah per hari, maka dalam sebulan kita sudah dapat membeli satu buku. Nasi goreng paling murah 2000 rupiah, rasanya kaga enak. Condro --- In [email protected], [EMAIL PROTECTED] wrote: > > Pak Bambang, > Saya setuju dengan anda. Rasanya kecendrungan penerbit sekarang kebanyakan > memang mengejar target profit ketimbang kualitas. Lebih banhyak buku2 pop > yang dikonstruksikan sebagai 'best seller', tapi sebenarnya kurang > mendidik. Saya heran saja banyak juga buku2 textbook, kalau di bidang saya > misalnya untuk sosiologi banyak yang sebenarnya kurang bermutu, tapi tetap > terbit, biasanya dibuat sebagian intelektual akademisiyang menulis cuma > ngejar target credit utk urusan kepangkatan etc. Budaya membaca rendah > juga budaya menulis, banyak penerbit yang gak punya proof reader untuk > mengkritisi kelayakan suatu naskah. Kapan negara benar2 peduli pada budaya > baca lagi..penerbitan macam Balai Pustaka saja terseok2..kita tenggelam > jadi bangsa yang lehernya terikat pada kait budaya instan. >
