pertama, saya tidak yakin untuk biaya hidup di yogya bisa sebesar 150 ribu (sebulan?). kedua, hampir semua mhs memiliki hape. jika mereka bisa membeli pulsa seratus ribu lebih, kenapa pula tidak bisa membeli buku barang sebuah sebulannya. ketiga, pemerintah sebagai pengelola negara terlalu banyak membebankan pajak kepada penerbit. hal itu pernah diprotes naun nampaknya tak digubris. sangat menarik dengan india, filipina, juga taiwan, yang banyak membebaskan pajak untuk penerbitan. juga untuk india dan filipina, buku dicetak dengan sederhana, yang paling penting bisa dijangkau. keempat, semestinya seperti juga tuntutan kepada anggaran pendidikan yang 20% dari apbn, dengan demikian perpustakaan publik bisa dikembangkan. hal ini perlu kita tekankan benar. saya pernah menulis di forum ini dan tulisan itu berdasarkan penglihatan saya: betapa mewahnya dan besarnya biaya rumah dinas gubernur dan walkot, sementara perpustakaan kota dan wilayah tak berkembang. halim hd.
--- chairil sanie djailany <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Akhirnya saya tergelitik juga untuk urun rembug > masalah minat baca ini, menurut saya yang pasti > menurunnya minat baca diutamakan oleh harga buku > yang tidak terjangkau dibandingkan oleh > faktor-faktor lainnya. > Saya ingat pada tahun tujuh puluhan saja semasa > masih kuliah hal itu sudah terasa mulai memberatkan > bagi para mahasiswa untuk membeli buku / textbook > yang perlu di baca untuk referensi atau bahan > belajar karena harganya telah mencapai 15 rb sampai > 40 rb untuk buku bekas dan 2 sampai 3 kali lipatnya > untuk buku baru, (bandingkan dengan biaya hidup yang > masih sangat murah untuk mahasiswa pendatang di > yogya yang hanya berkisar 50 rb sampai 150 rb). > Pada masa itu pun sebenarnya sudah umum beredar > dikalangan mahasiswa untuk mensiasatinya dengan > sistim copy referensi bacaan / hal yang dicari atau > dengan membeli buku / textbook terbitan INDIA yang > sangat murah bahkan bisa lebih rendah dari harga > buku / textbook asli yang bekas. > Menurut desas-desus pada masa itu bahwa buku made > in INDIA itu adalah BAJAKAN dan memang menggunakan > kertas yang relatif jelek sehingga ada trik tertentu > dalam peletakannya saat tidak di baca di rak buku. > Indonesia sudah di cap jadi negara pembajak nomor > wahid..............kepalang basah kenapa tidak > sekalian saja membajak buku-buku pinter demi > kemajuan bangsa...........toh sudah terbukti dengan > kemajuan yang dicapai oleh INDIA saat ini dengan > perlakuan mereka terhadap kebutuhan buku-buku pinter > yang dapat dimiliki secara murah. > Saya tidak tahu apakah saat ini strategi INDIA > tersebut masih relevan dilaksanakan atau masih bisa > dijalankan atau tidak, sudah tentu dengan sedikit > nilai tambah dengan alih bahasa ke bahasa Indonesia, > mengingat kemampuan bahasa asing yang masih minim > sekali dikuasai oleh para student bangsa kita. > > salam, > csd > > > [EMAIL PROTECTED] wrote: > Pak Bambang, > Saya setuju dengan anda. Rasanya kecendrungan > penerbit sekarang kebanyakan > memang mengejar target profit ketimbang kualitas. > Lebih banhyak buku2 pop > yang dikonstruksikan sebagai 'best seller', tapi > sebenarnya kurang > mendidik. Saya heran saja banyak juga buku2 > textbook, kalau di bidang saya > misalnya untuk sosiologi banyak yang sebenarnya > kurang bermutu, tapi tetap > terbit, biasanya dibuat sebagian intelektual > akademisiyang menulis cuma > ngejar target credit utk urusan kepangkatan etc. > Budaya membaca rendah > juga budaya menulis, banyak penerbit yang gak punya > proof reader untuk > mengkritisi kelayakan suatu naskah. Kapan negara > benar2 peduli pada budaya > baca lagi..penerbitan macam Balai Pustaka saja > terseok2..kita tenggelam > jadi bangsa yang lehernya terikat pada kait budaya > instan. > > salam dari yogya > > tia > > __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com
