Akhirnya saya tergelitik juga untuk urun rembug masalah minat baca ini, menurut
saya yang pasti menurunnya minat baca diutamakan oleh harga buku yang tidak
terjangkau dibandingkan oleh faktor-faktor lainnya.
Saya ingat pada tahun tujuh puluhan saja semasa masih kuliah hal itu sudah
terasa mulai memberatkan bagi para mahasiswa untuk membeli buku / textbook yang
perlu di baca untuk referensi atau bahan belajar karena harganya telah mencapai
15 rb sampai 40 rb untuk buku bekas dan 2 sampai 3 kali lipatnya untuk buku
baru, (bandingkan dengan biaya hidup yang masih sangat murah untuk mahasiswa
pendatang di yogya yang hanya berkisar 50 rb sampai 150 rb).
Pada masa itu pun sebenarnya sudah umum beredar dikalangan mahasiswa untuk
mensiasatinya dengan sistim copy referensi bacaan / hal yang dicari atau dengan
membeli buku / textbook terbitan INDIA yang sangat murah bahkan bisa lebih
rendah dari harga buku / textbook asli yang bekas.
Menurut desas-desus pada masa itu bahwa buku made in INDIA itu adalah BAJAKAN
dan memang menggunakan kertas yang relatif jelek sehingga ada trik tertentu
dalam peletakannya saat tidak di baca di rak buku.
Indonesia sudah di cap jadi negara pembajak nomor wahid..............kepalang
basah kenapa tidak sekalian saja membajak buku-buku pinter demi kemajuan
bangsa...........toh sudah terbukti dengan kemajuan yang dicapai oleh INDIA
saat ini dengan perlakuan mereka terhadap kebutuhan buku-buku pinter yang dapat
dimiliki secara murah.
Saya tidak tahu apakah saat ini strategi INDIA tersebut masih relevan
dilaksanakan atau masih bisa dijalankan atau tidak, sudah tentu dengan sedikit
nilai tambah dengan alih bahasa ke bahasa Indonesia, mengingat kemampuan bahasa
asing yang masih minim sekali dikuasai oleh para student bangsa kita.
salam,
csd
[EMAIL PROTECTED] wrote:
Pak Bambang,
Saya setuju dengan anda. Rasanya kecendrungan penerbit sekarang kebanyakan
memang mengejar target profit ketimbang kualitas. Lebih banhyak buku2 pop
yang dikonstruksikan sebagai 'best seller', tapi sebenarnya kurang
mendidik. Saya heran saja banyak juga buku2 textbook, kalau di bidang saya
misalnya untuk sosiologi banyak yang sebenarnya kurang bermutu, tapi tetap
terbit, biasanya dibuat sebagian intelektual akademisiyang menulis cuma
ngejar target credit utk urusan kepangkatan etc. Budaya membaca rendah
juga budaya menulis, banyak penerbit yang gak punya proof reader untuk
mengkritisi kelayakan suatu naskah. Kapan negara benar2 peduli pada budaya
baca lagi..penerbitan macam Balai Pustaka saja terseok2..kita tenggelam
jadi bangsa yang lehernya terikat pada kait budaya instan.
salam dari yogya
tia