Saya rasa inilah wujud "Borderless World" yang dicetuskan oleh Kenichi Omae 
tahun 90-an doeloe.

Kasus lain yang menarik, misalnya :
- Di Iran, Coca Cola laku keras (padahal buatan USA).
- Di USA, cerutu Kuba laku keras.
- Di Singapore yang segalanya sudah high-tech, restoran ayam 
   goreng Ojo Lali (asal Indonesia), laku keras.

Salam.
----- Original Message ----
From: si_andi <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, May 10, 2007 8:14:53 AM
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Budaya, musik, sinetron Indonesia tetap 
"menguasai" Timor Leste

Saya malah akan heran kalau hanya dalam 8 tahun Timor Leste bisa 
meminggirkan sama sekali budaya Indonesia. Saya pernah lihat koran 
sana masih menuliskan sebagian artikelnya dalam Bahasa Indonesia.

Barangkali sebagai cermin, kita yang sudah enampuluh tahun lebih 
merdeka saja masih bekerja di kantor (dari bahasa Belanda kantoor), 
beli cabe 2 ons (satuan Belanda), makan kroket dan poffertjes 
(makanan Belanda). Bahkan mengeja huruf pun masih pakai cara Belanda.

Andi 

Kirim email ke