Saya pernah menemukan kasus, para "orang miskin" yang mencari nafkah informal 
di Jakarta, sebagian adalah eks buruh tani yang semakin kesulitan mencari kerja 
di kampungnya, dengan upah yang sangat minim, tidak seimbang dengan kerja 
kerasnya.

Di Jakarta, kota yang katanya "kejam", orang masih bisa mendapat uang dengan 
relatif mudah, tanpa harus membanting tulang, misalnya menjadi joki 3 in 1, 
pengamen dll. 

Pointnya, kalau Pemda Provinsi DKI mau menertibkan "orang miskin" tersebut, 
sebenarnya bisa diterapkan metode screening, apa keahlian yang dimiliki, siapa 
"sponsor" yang menjamin biaya hidupnya selama belum bekerja dll, seperti 
prosedur memperoleh Permanent Residence di luar negri.

Selanjutnya Pemda Prov DKI juga harus memperketat pintu-pintu masuk strategis, 
misalnya terminal AKAP Pulogadung,  Pelabuhan Tanjung Priok. Kalau pendatang 
yang tidak lolos screening langsung dikembalikan ke tempat asalnya.

Kejam? Saya rasa ini lebih baik daripada kasus "orang miskin" yang meninggal di 
Jakarta semakin banyak. 
Maaf kalau ada kalimat saya yang kurang berkenan.

Salam.
----- Original Message ----
From: heru suprapto <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, May 10, 2007 8:07:43 AM
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Kekerasan terhadap Orang Miskin di Jakarta

Data awal yang dikelola Yanti adalah data kekerasan Pol. PP terhadap orang 
miskin di Jakarta. Data ini diambil karena sudah semakin sewenang-wenang 
perilaku Pol. PP di lapangan, bahkan Pol. PP relah membunuh anak 14 tahun yang 
sedang bekerja menjadi Joki 3 in 1, Irfan Maulana namanya, pada tanggal 8 
Januari 2007 di Kebayoran Baru. 

Data ini menunjukkan bahwa Pol. PP adalah eksekutor terdepan yang berhadapan 
dengan orang miskin dari sebuah kebijakan kota dan pemerintahan yang anti orang 
miskin. Orang-orang miskin melulu dipaksa menerima stigma yang dapat 
memperkeruh keindahan kota metropolitan. Bukan hanya oleh pemerintah, tetapi 
juga oleh masyarakat kota yang merasa dirinya mapan dan menjadi bagian dari 
"keindahan kota". Tahun ini saja Pemrov DKI Jakarta sudah menganggarkan dalam 
APBD sebesar lebih dari 46 miliar rupiah untuk menangkapi orang-orang miskin. 
Target kelompok yang menjadi objek tangkapan Sutiyoso adalah pengamen, PKL, 
PSK, gepeng, pemulung, dll, ditambah penggusuran. Gila! satu PSK saja 
diangkakan sebesar 3 juta rupiah. Selain itu orang-orang miskin ini diminta 
untuk menebus uang bebas bagi dirinya sendiri, setelah itu ditangkapi kembali, 
mendapat uang kembali dari APBD dan disuruh tebus kembali. Inilah pundi-pundi 
pemrov DKI Jakarta, cermin pemerintahan korup. Pandangan ini juga terjadi
di daerah-daerah lainnya. Saatnya kota menjadi milik semua. Saatnya kota 
memanusiakan warganya. 

Kirim email ke