Pak Manneke dan Pak Rahadian,

Saya sengaja tidak menanggapi soal Megawati dan Gerwani agar tidak 
menyimpang dari topik utama. Tapi berhubung ke'diam'an saya malah 
membuat Pak Manneke menambahi cap saya dengan rabun gender (mungkin 
ditaruh di sebelah cap macho kemaren) izinkan saya membahas agak 
menyimpang sedikit:

Bayangkanlah kalau idola massa sekaliber Megawati ternyata anggota 
Dewan Syuro PKB atau PPP atau PBB. Akan ada jugakah penolakan yang 
Anda kutip itu? Megawati ditentang karena dia adalah lawan, Pak. 
Bukan karena keperempuanannya. Alasan kepemimpinan perempuan itu 
cuma masakan politikus yang kebetulan sedap benar untuk dikunyah 
massa tapi sebenarnya sedikit saja yang menelan. Buktinya PDI-P 
menang saja kan ketika itu? Soal Megawati kalah di MPR itu kan lain 
cerita. 

Bukti lagi? Pernahkah kemudian para penentang itu meributkan bupati-
bupati atau camat-camat perempuan yang makin banyak itu dengan 
alasan jender? Kalau agama alasannya, mestinya harga mati, toh? 
Kenapa Megawati dilawan tapi Rustriningsih atau Haeny Relawati 
dibiarkan? Jangan-jangan Anda percaya juga kalau Marissa Haque kalah 
di pilgub Banten karena dia perempuan? 

Soal Gerwani, maafkan kalau saya salah menanggapi lagi karena belum 
baca bukunya. Tapi yang saya tahu yang mau ditembak dari mitos 
Gerwani adalah imoralitas paham komunisme, bukan masalah karena 
Gerwani itu perempuan. Mitos imoralitas ini juga dikobarkan dengan 
adegan penyiksaan di film G30S yang amat-sangat-graphics itu (dan 
pelakunya tidak cuma Gerwani). Sama juga halnya dengan penghujatan 
atas Pramudya atau Sitor Situmorang (yang ternyata tidak ada komunis-
komunisnya itu) tidak lantas diterjemahkan sebagai orde baru 
berpaham menindas sastrawan.

Terima kasih atas gosokannya, Pak :-) Ilmu saya cuma cukup untuk 
eyel-eyelan warung kopi saja; jangan terlalu diseriusi.

Andi

--- In [email protected], manneke budiman 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Inilah yang disebut dengan "rabun gender" itu (bahasa Inggrisnya 
sih "gender blind", tapi daripada diterjemahkan jadi "buta", lebih 
baik jadi "rabun" aja). Makanya, bagi Bung Andi ini sangat sulit 
sekali untuk bisa melihat pelbagai permasalahan sosial dari 
perspektif perempuan. Dikiranya, kalo buat laki-laki tak ada 
masalah, maka pasti buat perempuan juga tak bermasalah. 
>    
>   Sebetulnya yang perlu dilakukan mudah saja. Berhenti sejenak 
untuk melihat apakah suatu kebijakan, pernyataan, gagasan, 
aturan/hukum punya dampak khusus pada perempuan yang tak dialami 
oleh laki-laki. Jika ini mau dilakukan, niscaya akan bisa mulai 
terlihat bagaimana perspektif perempuan ini bisa difungsikan dalam 
analisis-analisis sosial.
>    
>   Terus terang aja, Bung Andi ini ilmunya hebat. Malah bisa jadi 
narasumber kopi darat FPK. Cuma ya itu, nggak ada perspektif 
gendernya.
>    
>   manneke
>   
> Rahadian Permadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Maaf Pak Andi jika saya menganggap anda mungkin tidak 
menangkap sarkasme
> Manneke.
> 
> Saya tidak setuju dengan premis anda bahwa gender tidak ada 
kaitannya
> dengan politik dan kekerasan. Untuk poin yang pertama, politik dan
> gender, contoh termudah adalah ketika Megawati ramai di calonkan 
menjadi
> presiden menjelang selesainya masa pemerintahan Habibie. Waktu itu
> sebagian kalangan mempermasalahkan 'keperempuanan' Megawati bukan
> kemampuannya. Mereka bilang bahwa perempuan tidak dapat menjadi
> pemimpin. Contoh ini jelas menunjukkan bahwa posisi sosial dan 
politik
> ditentukan oleh persoalan identitas seksualitasnya. Kenapa 
demikian? Ini
> lantaran gagasan bahwa pemimpin itu identik dengan pekerjaan laki-
laki
> dianggap sebagai sesuatu yang 'lumrah' dan 'alamiah'. Catatan, 
pemimpin
> itu sendiri sebagai sebuah posisi mungkin tidak bergender, tetapi
> digender-kan atau diberikan atribut maskulin untuk menunjukkan 
dominasi
> laki-laki.
> 
> Kaitan antara kekerasan dan gender sangat kental disamping 
identitas
> lain seperti kelas atau suku. Contoh mudahnya adalah propaganda 
Orba
> tentang Gerwani. Cerita bohong tentang tari telanjang dan pesta 
seks
> yang melibatkan Gerwani sengaja dibuat untuk menunjukkan bahwa apa 
yang
> dilakukan oleh perempuan-perempuan Gerwani bukanlah sikap 
perempuan yang
> 'normal'. Dengan kata lain, cerita-cerita itu dimaksudkan untuk
> menjelaskan kepada publik bahwa femininitas yang diterima sebagai 
nilai
> bukanlah seperti yang dilakukan oleh para perempuan Gerwani 
tersebut.
> Melalui propaganda ini, kelompok di AD bermaksud mendapatkan 
justifikasi
> untuk menghancurkan perempuan-perempuan tersebut.
> 
> Dalam kasus kekerasan rumah tangga, kaitan antara gender dan 
kekerasan
> lebih jelas lagi. Kekerasan yang dilakukan suami terhadap istri 
jika
> menggunakan analisis gender akan menggiring kita pada bagaimana 
posisi
> perempuan dan laki-laki dalam sebuah keluarga. Sudah menjadi 
semacam
> maxim bahwa suami adalah kepala keluarga dan istri harus menurut 
apa
> yang dikatakan oleh suaminya. Ketika si istri dianggap `melawan'
> otoritas suami, kekerasan dipakai untuk menunjukkan pada si istri
> tentang maxim tersebut. Kekerasan dipakai untuk menunjukkan 
dominasi.
> 


Kirim email ke