Mas Radityo,
Saya setuju dengan usulan anda itu. Kalau di Amerika,
hampir mustahil pemerintah memberikan sumbangan lewat
dana non-bujeter ke ormas atau orpol. Tetapi, di
Indonesia lain sama sekali. Negara Indonesia adalah
seperti negara kerajaan dalam zaman klasik. Pemerintah
dianggap baik kalau mau "sedekah" ke perorangan atau
lembaga-lembaga sosial, bukan lewat mekanisme resmi,
tetapi lewat "sedekah informal". 

Usulan saya kemaren, kalau "praktek feodal" ini tak
bisa dihilangkan, ya sekurang-kurangnya diresmikan dan
dikontrol, jangan lewat bawah tangan. 

Ulil

Ulil Abshar-Abdalla
Department of Religion
Boston University


--- radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Mas Ulil,
>    
>   Jawabannya adalah: "Kemandirian Ormas".
> Masing-masing ormas kan punya anggota dari berbagai
> kalangan.
>   Ada yang tajir dan adapula yang kantongnya
> pas-pasan. Untuk menghindari perselingkuhan politik
> dan bisnis, mustinya ormas, apalagi ormas bernuansa
> agama, tidak "mengemis-ngemis " ke departemen dan
> perusahaan-perusahaan milik konglomerat. Ini adalah
> bagian dari perwujudan dari semangat mewujudkan
> clean governance, clean government, clean society,
> clean country. Saya banyak mendengar para pengusaha
> besar mengeluh dimintai sumbangan ini itu. 
>    
>   Kalau Mas Ulil setuju dengan urusan pemisahan
> agama dan pemerintah, nantinya kelak kalau
> panjenengan jadi pejabat tinggi (amin saya
> doakan..minimal Menteri), saya sarankan untuk
> bersikap seperti itu. 
>    
>   Kalau ormas Islam tidak bisa mandiri, ya lebih
> baik bubar saja....

Kirim email ke