Mau ikutan ngopi ah...cerita ngalur ngidul. Amin Rais ini, kalau menurut orang tua dulu, terlalu keberatan bawa nama. Sehingga sepak terjangnya ya seperti ular keblinger tabrak sana-tabrak sini. Dan hampir bisa disimpulkan apa yang di katakannya selalu bertentangan dengan apa yg diperbuat dan dikatakanya berikutnya.
Dulu, pada tahun 90 an, saya paling gemar dan merindukan tulisannya di kompas, kritikannya terasa enak. Begitu juga saat beliau meneropong kasus busang, yg mungkin menjadi cikal-bakal krisis kita. Namun saat era reformasi, entah karena apa kok kekaguman saya bak di bayclean...tur luntur. Beliau keblinger minta diakui orang paling hebat, orang paling pintar, orang paling tahu segalanya tentang negeri ini. Itu yang terkesan di masyarakat sehingga terbukti saat pemilihan presiden jadi no paling buntut. Rasanya selama Indonesia tidak di pimpin Amin Rais, tak ada presiden yg baik menurut Amin ini. Beliau ini juga bak virus HIV, yg ngikut gabung sana sini, namun menurunkan daya tahan org lain. Ikutan mahasiswa saat menurunkan Pak Harto, bergabung dg Gus Dur, Mega, Hamengkobono, menganjal Habibi. Kemudian Mega di ganjal untuk meloloskan Gus Dur, dengan issue gender. Lalu membabat Gus Dur, dengan demikian Mega cukup jadi Presiden 2.5 tahun saja. Karena menurut perhitungannya kalau Gus Dur tetap, kemungkinan besar Mega jadi lawan yg berat di pemilu 2004, karena target beliau mau jadi Presiden. Jadi selama jadi ketua MPR itu pantatnya kepanasan, gelisah karena kursi itu bukan targetnya Dia. Nah, begitu gagal jadi Presiden, dia benci sama Rakyat Indonesia yg tak memahami keinginannya. Dia bilang pemilih Indonesia belum intelek. Saat ini giliran Presiden ini yg di ubek-ubek. Amin amin, Ingat sombong itu hasilnya takabur. Makanya Istigfarlah. salam. rzain <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Sewaktu menerima cek mestinya Amin sadar bahwa uang itu uang korupsi, masa iya dia tidak tahu kalau Rokhmin nyogok agar kelak kalau menang dia tidak dilupakan. Jangan setelah konangan di pengadilan baru ngaku, maksudnya agar mendapat keringanan hukuman. Di mancing jangan2 yang lain juga dapat agar pengadilan dihentikan. Ketika tembakannya ga kena dia menawarkan damai dengan menawarkan menyudahi polemik DKP. Sekarang dia sibuk cari peluru baru. Ga akan dapat. Dia hanya mimpi kalau masih mau ikut di 2009. rzain --- In [email protected], steven lenakoly <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Amien Rais dan Capres 2009 > > Hehe...ini sebenarnya hanya omong kecil ala warung tegal. > > Masih hangat pembicaraan mengenai dana non bugdjeter Departemen Kelautan dan Perikanan yang disalahgunakan untuk dana kepada tim sukses calon presiden pada tahun 2004 silam. Beberapa nama tersebut dalam kasus ini. Mulai dari Presiden SBY hingga Gus Dur. > > Dana yang diterima masing-masing tim sukses tidak sama. Ada yang mendapatkan ratusan juta hingga yang mendapatkan puluhan juga. Banyak yang membantah menerima dana tersebut namun adapula yang mengaku dengan lantang menerima dana, yang lebih heroik, siap menjadi tahanan. Ia adalah Amien Rais. > > Jangan keburu senang dengan pengakuannya. Jangan-jangan ia berencana menjadi Calon Presiden dalam Pemilu 2009 mendatang. Sebab pencitraan dan settingnya mirip dengan Wiranto ketika menuduh Habibie melakukan kudeta. Keluarkan buku tuduhan dan menjadi calon presiden dari partai bau yang dibuatnya. Hanura. Luar biasa. > > Hal ini menjadi kemungkinan karena saat ini banyak calon presiden dan bakal calon presiden yang sedang menunggu momen yang pas untuk keluar dari "sarangnya". Bukan dengan, cara lama, membuka diri secara terang-terangan kepada masyarakat kalau dirinya akan menjadi Capres. Melainkan dengan menunggu saat yang pas. Misalnya, peringatan Mei 1998, polemik dana non Budgeter Departemen Kelautan dan Perikanan. > > Dengan cara terakhir calon presiden membuat dirinya bagai pahlawan. Pahlawan yang siap membongkar kebusukan dalam pemerintahan. Sayangnya capres ini juga membawa bangkai sendiri dalam bajunya. hehehe... >
