Harnomi juga sedang dipakai oleh China (saat ini) untuk meredam berbagai 
potensi gejolak di sana. Walaupun ekonomi China tumbuh pesat, namun ketimpangan 
perkembangan antar wilayah (pantai timur dan daratan misalnya), jurang kaya 
miskin, isu lingkungan (tingkat polusi sudah mendekati kota kota besar di dunia 
lainnya), masalah buruh dll mulai menimbulkan ketegangan sosial. 
   
  Tidak ada yang keliru dengan konsep Harmoni, kecuali kalau Harmoni dianggap 
sebagai das sein dan bukan das Sollen. Orde Baru, dengan meminjam buidaya Jawa 
menganggap Harmoni sebagai sesuatu yang das sein, sehingga seluruh kritik, 
oposisi, ketegangan sosial dianggap menjadi faktor gangguan dari das sein 
tersebut. Gangguan pada Harmoni adalah ancaman pada stabilitas. Harmoni 
dianggap sudah ada. Bah.....
   
  Kita harus menolak konsep seperti itu. Sebaliknya jika Harmoni dianggap 
sebagai das sollen dan seluruh dinamika yang berkembang adalah proses atau 
osilasi menuju kondisi Harmoni yangdiinginkan maka oposisi dan kritik tidak 
perlu ditolak namun dianggap sebagai dinamika yang sehat. Sekali lagi tese 
utama di milenium ketiga adalah bahwa satu satunya yang pasti adalah 
ketidakpastian dan satu satunya yang tetap adalah perubahan. So, sesuatu yang 
das sein hanya berlaku untuk suatu korrdinat ruang dan waktu tertentu yang 
terus berubah. So, pencapaian Harmoni adalah suatu never ending process.....
   
  Kritik yang kedua thd konsep Harmoninya Orde Baru adalah terkesan kuat sekali 
bahwa yang disebut sebagai harmony umumnya adalah State Harmony dan buka Social 
Harmony. Dalam bahasa stabilitas, state stability dan bukan social stability. 
   
  Jika SBY berpegang pada pemahaman Harmoni seperti Suharto, dia jelas out of 
date dan tidak akan pernah cocok atau sukses membawa negara dan (multi) bangsa 
ini memasuki milenium ketiga....
   
   
  Salam, Irry.
   
   
   
  

sidikpam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Menarik dan memberi saya pencerahan. Terima kasih Pak Tjipta. 
Tetapi saya memiliki pertanyaan lanjutan, baik kepada Pak Tjipta atau
pun para miliser sekalian: Lantas bagaimana masyarakat Indonesia -
yang kebanyakan orang Jawa dan juga sangat dipengaruhi Budaya Jawa
melihat itu? Saya teringat pada tesis Ben Anderson tentang Kuasa bagi
orang Jawa, yaitu bahwa Kuasa adalah an sich bagi dirinya sendiri.
Orang tidak pernah mempertanyakan asal-usul dan bagaimana kuasa itu
didapatkan. Sehingga akibatnya, oposisi di Indonesia ini sering
diasosiasikan sebagai yg negatif, membahayakan kuasa atau negara yang
memegang kuasa, lebih jauhnya tidak populer. 

Demikian. Salam.

Sidik Permana

Kirim email ke