Romo Wibowo,

Saya sangat sepakat dgn opini Romo. Sesudah Orba jatuh, sangat jelas
keadaan Indonesia yg terkungkung oleh lembaga moneter internasional
ala Bretton Woods! Terlebih lagi, "jebakan utang" yg sangat membebani
pemerintah menjadi sesuatu yg nyata bagi Indonesia. Apakah Indonesia
sudah keluar dari kungkungan IMF & Bank Dunia, meskipun pemerintah
bbrp wkt lalu telah melunasi utang luar negeri? Saya rasa, pertanyaan
itu belum terjawab! Setidaknya untuk sekarang ini!!

Untuk beberapa hal, memang Indonesia berbeda dgn negara-negara
Sub-Sahara Afrika! Tp, dalam bbrp hal juga memiliki kemiripan!! 

Buktinya? Indeks Persepsi Korupsi di Indonesia tidak jauh beda dgn
negara-negara Sub-Sahara Afrika!!! Indeks Pembangunan Manusia di
Indonesia juga "beda-beda tipis" dgn negara-negara Sub-Sahara Afrika!
Tingkat kemiskinan ekstrim (absolute poverty) tidak jauh lebih baik
dari negara-negara Sub-Sahara Afrika!!
Indeks "human poverty" (versi UNDP)juga begitu!!

Tidak percaya? Mari kita cek bersama-sama di situs resmi Bank Dunia
(untuk tingkat kemiskinan ekstrim & kategorisasi "high,middle,&low
income countries"), UNDP (untuk Indeks Pembangunan Manusia & Human
Poverty Index), & Transparency International (Indeks Persepsi Korupsi
& Akuntabilitas Pelayanan Publik)...


Memang butuh jiwa besar untuk mengakui "Indonesia the Beautiful" kita
sebagai negara dunia ketiga (periphery countries ala Immanuel
Wallerstein) :-)  

Salam "Indonesia the Beautiful",

Patrick Hutapea 



--- In [email protected], "I. Wibowo" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Bung Andie,
> 
> Persoalannya bukan bahwa kita membangun atau tidak membangun. Jelas,
Orde Baru sudah melakukan sesuatu.'  Yang selalu diperbincangkan orang
adalah bahwa kita dapat melakukan sesuatu yang "lebih" dari yang telah
ada ini. Seandainya ketika kita sedang mengalami "oil boom" pada tahun
1970-an, dan memanfaatkan dana yang ada, kita bisa jauh lebih maju
daripada sekarang. Ke mana uang-uang itu menguap? Sekarang kita merana
seperti ini, dan tidak uang dari minyak lagi. 
> 
> Tapi diskusi jangan dialihkan kepada "jasa-jasa" satu orang. Apa
yang terjadi selama 30 tahun di Indonesia itu sesuatu yang struktural,
baik di tingkat nasional maupun global. Struktur global akhir tahun
1960-an memaksa Indonesia condong ke Barat (Amerika), sementara
struktur nasional kita dijepit oleh militer.  Perhatikan, semua rezim
militer yang didukung Amerika mengalami kehancuran ekonomi maupun
politik, rezim di Afrika, Amerika Tengah, ataupun Amerika Latin. Pada
kasus-kasus ini selalu Amerika diuntungkan, baik secara ekonomis
maupun politis. Indonesia, misalnya, menghadiahkan Freeport (dll)
kepada Amerika dan rezim militer yang  sangat kanan. Amerika juga yang
memaksa supaya Indonesia jatuh dalam pelukan World Bank dan IMF
(silahkan baca The Confession of An Economic Hitman).  Anehnya, saat
ini, ketika kita mengadakan reformasi, kita masih condong ke Amerika,
baik secara ekonomi dan politik. Desain yang kita punya sekarang
(demokrasi plus kapitalisme) persis seperti yang dikhotbahkan oleh
petinggi-petinggi Amerika (silahkan, baca Manfred Steger, Globalism).
Ya, tidak heran karena "tukang intelektual" nya adalah lulusan Amerika
semua, dari presiden sampai menteri-menteri. Kali ini Amerika bermain
cantik,  tidak memakai "hard power" (militer), melainkan "soft power"
(akademisi).  Yang jelas, entah dengan hard power atau soft power,
secara struktural kita terus-menerus ada di dalam kerangkeng sebuah
struktur yang diciptakan oleh Amerika. Cina - ajaibnya - tidak ikut
terperosok ke lubang ini, dan kini mulai mencicipi sesuatu yang
sebenarnya bisa dikenyam oleh Indonesia juga. Oh, Indonesia ... !
> 
> Salam
> iww
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke