Dari 190-an negara yang diranking HDI-nya, Indonesia berada di 
urutan 110-an. Negara-negara Afrika Sub-Sahara adanya di ranking 170-
an ke bawah dari 190 negara. Kita levelnya medium HDI. Afrika Sub-
sahara itu low HDI. Kira-kira kalau satu kelas isinya 40 orang, kita 
ranking 24, negara Afrika itu ranking 40. Tidak ada dekat-dekatnya 
sama sekali. 

Soal kemiskinan juga begitu. Orang Indonesia yang hidup dengan $1 
sehari sekitar 7.5%. Jauh dibandingkan Angola atau Mozambik yang di 
atas 50%. Beda-beda tipis dari mananya?

Jebakan utang Anda bilang? Utang luar negeri Indonesia saat ini di 
bawah 40% GDP. Termasuk yang paling rendah di ASEAN. 

Apakah Indonesia sudah keluar dari "kungkungan" IMF? Utang kita ke 
IMF sudah lunas. Sekarang kita anggota yang membayar iuran. Artinya 
uang kita yang sedang diutangkan ke orang lain.

Apakah Indonesia termasuk negara "dunia ketiga"? Negara "dunia 
ketiga" itu cuma ungkapan sisa perang dingin yang artinya bukan blok 
barat dan bukan blok timur. Dalam soal pendapatan ada yang namanya 
negara miskin (low income) ada yang berpendapatan menengah (middle 
income) ada yang tinggi. Indonesia termasuk negara berpendapatan 
menengah. Silakan cek situs badan-badan PBB yang Anda kutip itu.

Mengeluh itu pekerjaan mudah; tapi butuh jiwa besar untuk mengakui 
bahwa selama 60 tahun merdeka banyak juga hal-hal yang baik dan 
benar yang dilakukan para pendahulu kita.

Andi

--- In [email protected], "Patrick" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Romo Wibowo,
> 
> Saya sangat sepakat dgn opini Romo. Sesudah Orba jatuh, sangat 
jelas
> keadaan Indonesia yg terkungkung oleh lembaga moneter internasional
> ala Bretton Woods! Terlebih lagi, "jebakan utang" yg sangat 
membebani
> pemerintah menjadi sesuatu yg nyata bagi Indonesia. Apakah 
Indonesia
> sudah keluar dari kungkungan IMF & Bank Dunia, meskipun pemerintah
> bbrp wkt lalu telah melunasi utang luar negeri? Saya rasa, 
pertanyaan
> itu belum terjawab! Setidaknya untuk sekarang ini!!
> 
> Untuk beberapa hal, memang Indonesia berbeda dgn negara-negara
> Sub-Sahara Afrika! Tp, dalam bbrp hal juga memiliki kemiripan!! 
> 
> Buktinya? Indeks Persepsi Korupsi di Indonesia tidak jauh beda dgn
> negara-negara Sub-Sahara Afrika!!! Indeks Pembangunan Manusia di
> Indonesia juga "beda-beda tipis" dgn negara-negara Sub-Sahara 
Afrika!
> Tingkat kemiskinan ekstrim (absolute poverty) tidak jauh lebih baik
> dari negara-negara Sub-Sahara Afrika!!
> Indeks "human poverty" (versi UNDP)juga begitu!!
> 
> Tidak percaya? Mari kita cek bersama-sama di situs resmi Bank Dunia
> (untuk tingkat kemiskinan ekstrim & kategorisasi "high,middle,&low
> income countries"), UNDP (untuk Indeks Pembangunan Manusia & Human
> Poverty Index), & Transparency International (Indeks Persepsi 
Korupsi
> & Akuntabilitas Pelayanan Publik)...
> 
> 
> Memang butuh jiwa besar untuk mengakui "Indonesia the Beautiful" 
kita
> sebagai negara dunia ketiga (periphery countries ala Immanuel
> Wallerstein) :-)  
> 
> Salam "Indonesia the Beautiful",
> 
> Patrick Hutapea 
> 
> 
> 
> --- In [email protected], "I. Wibowo" <iww@> 
wrote:
> >
> > Bung Andie,
> > 
> > Persoalannya bukan bahwa kita membangun atau tidak membangun. 
Jelas,
> Orde Baru sudah melakukan sesuatu.'  Yang selalu diperbincangkan 
orang
> adalah bahwa kita dapat melakukan sesuatu yang "lebih" dari yang 
telah
> ada ini. Seandainya ketika kita sedang mengalami "oil boom" pada 
tahun
> 1970-an, dan memanfaatkan dana yang ada, kita bisa jauh lebih maju
> daripada sekarang. Ke mana uang-uang itu menguap? Sekarang kita 
merana
> seperti ini, dan tidak uang dari minyak lagi. 
> > 
> > Tapi diskusi jangan dialihkan kepada "jasa-jasa" satu orang. Apa
> yang terjadi selama 30 tahun di Indonesia itu sesuatu yang 
struktural,
> baik di tingkat nasional maupun global. Struktur global akhir tahun
> 1960-an memaksa Indonesia condong ke Barat (Amerika), sementara
> struktur nasional kita dijepit oleh militer.  Perhatikan, semua 
rezim
> militer yang didukung Amerika mengalami kehancuran ekonomi maupun
> politik, rezim di Afrika, Amerika Tengah, ataupun Amerika Latin. 
Pada
> kasus-kasus ini selalu Amerika diuntungkan, baik secara ekonomis
> maupun politis. Indonesia, misalnya, menghadiahkan Freeport (dll)
> kepada Amerika dan rezim militer yang  sangat kanan. Amerika juga 
yang
> memaksa supaya Indonesia jatuh dalam pelukan World Bank dan IMF
> (silahkan baca The Confession of An Economic Hitman).  Anehnya, 
saat
> ini, ketika kita mengadakan reformasi, kita masih condong ke 
Amerika,
> baik secara ekonomi dan politik. Desain yang kita punya sekarang
> (demokrasi plus kapitalisme) persis seperti yang dikhotbahkan oleh
> petinggi-petinggi Amerika (silahkan, baca Manfred Steger, 
Globalism).
> Ya, tidak heran karena "tukang intelektual" nya adalah lulusan 
Amerika
> semua, dari presiden sampai menteri-menteri. Kali ini Amerika 
bermain
> cantik,  tidak memakai "hard power" (militer), melainkan "soft 
power"
> (akademisi).  Yang jelas, entah dengan hard power atau soft power,
> secara struktural kita terus-menerus ada di dalam kerangkeng sebuah
> struktur yang diciptakan oleh Amerika. Cina - ajaibnya - tidak ikut
> terperosok ke lubang ini, dan kini mulai mencicipi sesuatu yang
> sebenarnya bisa dikenyam oleh Indonesia juga. Oh, Indonesia ... !
> > 
> > Salam
> > iww
> > 
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
>


Kirim email ke