Ikut nimbrung, Mas Bodo. Selama kita belum bisa "menambang" hidrogen langsung dari udara, maka hidrogen harus dihasilkan dari hidrokarbon atau dari air. Produksi hidrogen dari kedua sumber itu butuh banyak energi. Steam reforming, umpamanya, dilakukan dengan mereaksikan gas alam dengan air pada suhu sekitar 1000 C. Pemanasnya? Ya dengan membakar gas alam juga. Energi yang dibawa hidrogen ini kemudian dikirim ke konsumen untuk dikonversi menjadi listrik dengan perantaraan sel bahan bakar. Artinya dalam keseluruhan siklus ini hidrogen hanya berfungsi sebagai "alat" transportasi energi. Sumber energinya tetap gas alam yang (1) tidak terbarui (2) baik pembakarannya maupun reaksinya menghasilkan karbondioksida, a.k.a gas rumah kaca.
Demikian juga kalau hidrogen ini dihasilkan lewat elektrolisis. Tetap harus ada sumber energi bagi elektrolisis ini. Untuk saat ini pilihan sumber energinya masih tetap jatuh ke bahan bakar fosil atau nuklir. Hidrogennya sendiri cuma sebagai penghantar energi dari pembangkit ke konsumen. Saya bisa paralelkan dengan PLTG. PLTG juga menghasilkan listrik dengan membakar gas alam. Gas alam dibakar di dalam turbin, turbin berputar menghasilkan listrik. Listrik ini dihantarkan ke penggunanya menggunakan kabel listrik. Jadi fungsi kabel listrik sama persis seperti fungsi hidrogen dalam paragraf sebelumnya: alat transportasi. Mana yang lebih efisien? Sel bahan bakar sendiri efisiensinya bisa mencapai 80% (memang jauh di atas internal combustion engine yang cuma 25%). Tapi energi yang diperlukan untuk menghasilkan hidrogen jauh lebih besar dari energi yang diperlukan untuk memompa dan memurnikan gas alam. Dugaan saya hasil akhirnya jatuhnya akan di situ-situ juga. Jadi pendapat saya kurang tepat kalau kita bicara soal hidrogen sebagai "sumber energi" apalagi sebagai pengganti energi nuklir. Lebih tepat kalau hidrogen itu diposisikan bersaing dengan METODE TRANSPORTASI ENERGI yang lain. Umpamanya kalau orang sudah bisa menemukan cara penghantaran listrik yang lebih efisien daripada lewat kabel seperti sekarang, atau kalau orang sudah bisa menemukan aki (battery) yang sanggup menyimpan energi listrik dalam jumlah besar dalam waktu yang lama, maka bisa jadi hidrogen ini tidak akan terpikirkan lagi. Kalau kita lihat teknologi aki juga sudah semakin canggih, terutama didorong oleh lakunya mobil bertenaga hibrida. Soal sumber energi pengganti bahan bakar fosil, tetap saja pilihan terbaik jatuh pada energi terbarui (angin, air, pasang surut). Energi nuklir itu sepertinya juga bukan energi terbarui karena uranium adalah bahan tambang dan suatu waktu akan habis. Kecuali kalau nanti kita sudah bisa menambang uranium dari asteroid seperti di film-film itu. Maaf kepanjangan. Kalau omong-omongan teknik begini semangat '45 saya keluar, hehehe. Andi --- In [email protected], "bodo_kerlchen" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Rekan-rekan FPK yth, > Terutama Bu Reni, > Thema "fuel cell" memang sungguh sangat menarik dan amat sangat > menjanjikan sebagai "Tomorrow's Energy"?? Tapi kok pembahasannya > terkesan hanya sambil lalu gitu? Tentu akan banyak rekan yang lebih > gembira bila Ibu dapat menginformasikan mengenai perkembangan > terakhir dari teknologi tersebut, dan apakah benar pemerintah kita > sudah mulai/sedang berfikir kearah itu? Bila iya, tentu sangat > positive, namun tentu masalahnya tidak sesederhana yang Ibu uraikan, > sebab sejauh yang saya ketahui pada awal 2004, para ahli di Eropa > masih belum mendapatkan solusi "jitu" dalam memproduksi H2 yang > effective dan ramah lingkungan, agar proses "keseluruhan" dalam > memanfaatkan energi dari hydrogen ini tidak secara "saru" menjadi > tidak effective dan tetap membebani lingkungan. But overall .. > jangka panjang hydrogen pasti lebih layak dari pada Nuklir dan > Fosil. Prinsip dasar yang saya mengerti sebagai orang awam itu > seperti ini (mohon para ahli membenarkan pabila ada kekeliruan): > Hidrogen adalah substan yang paling banyak terdapat di universum > kita, alias tidak ada habisnya, kecuali kiamat. Sedangkan proses > yang akan kita manipulir untuk mendapatkan manfaat energi adalah > kebalikan dari proses elektrolisa (kalo ngga salah namanya hidrolisa > ya?). Dengan kata lain, sebelumnya kita harus mewujudkan proses > elektrolisa nya dulu untuk mendapatkan H2 dari H2O dengan > menggunakan tenaga listrik .. disinilah mulainya paradoksi, masa > ingin memproduksi listrik menggunakan listrik?? Sedangkan yang Ibu > maksudkan SOFC dengan mereformasi gas alam, memang benar, pada awal > 2004 saja sekitar 98% dari kebutuhan dunia akan H2 adalah hasil dari > Gas alam dengan menggunakan "steam reformer"? dengan CO2 sebagai > emisinya. Mudah-mudahan sekarang ini para ahli telah menemukan jalan > keluar yang lebih baik, saya pribadi percaya bahwa pemikiran > hydrogen sebagai tomorrow's Energy itu suatu arah yang sudah benar. > Salam, > Bodo > > > --- In [email protected], reni renata > <mahreni_03@> wrote: > > > > Sebenarnya kini PLN sedang memikirkan sumber energi alternatif > pengganti PLTN yang kontroversi ini yaitu teknologi ramah lingkungan > (bebas emis gas buang) "Sel bahan bakar hidrogen". Dunia kini > optimis pada suatu saat kita dapat memproduksi hidrogen dengan harga > murah dari air sehingga tidak perlu lagi bahan bakar fosil. Solid > oxide fuel cell (SOFC) dicanangkan sebagai salah satu jenis sel > bahan bakar hidrogen yang dapat menghasilkan energi listrik skala > besar dengan bahan bakar gas alam (NG). Mengingat cadangan gas di > Indonesia sangat besar mencapai trilyunan cuft Indonesia sangat > potensial untuk mengembangkan teknologi SOFC ini. Jadi yang tidak > setuju dengan PLTN masih punya harapan untuk mendapatkan > penggantinya, mudah-mudahan dalam waktu dekat SOFC dapat dibuat di > Indonesia dan menjadi sumber energi pengganti Nuklir. > > Salam > > Bu Reni > > > > > > ----- Original Message ---- > > From: Zakariyya El Anshariyy <zach_icon@> > > To: [email protected] > > Sent: Tuesday, June 12, 2007 2:13:26 PM > > Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] PLTN : UNTUK SIAPA ? > > > > Shalawat Anti-PLTN > > > > > > Eling-eling sira manungsa, > > PLTN gawe sengsara, > > Mumpung durung diputusna, > > Mula sira padha mikira > > > > Eling-eling sira manungsa, > > PLTN bisa cilaka, > > Mumpung durung ditutugna, > > Mula sira padha nolak¢a > > > > Nuklir ora kaya mebel ukir, > > Nuklir beda karo lampu senthir, > > Nuklir uga dudu untir-untir, > > Proyek Nuklir mara¢ake fekir. > > (Proyek Nuklir mara¢ake kenthir) > > > > > > > > Terjemahan bebas : > > > > Ingat-ingatlah wahai manusia, PLTN membuat sengsara, > > Mumpung belum diputuskan, maka hendaknya kalian berpikir!!! > > > > Ingat-ingatlah wahai manusia, PLTN bisa celaka, > > Mumpung belum dilanjutkan, maka hendaknya kalian menolak!!! > > > > Nuklir tidak seperti meubel ukir, Nuklir berbeda dengan lampu > teplok, > > Nuklir juga bukan kue tambang, Proyek Nuklir membuat jadi fakir- > miskin! ! > > (Proyek Nuklir membuat jadi gila!!!) > > > > > > Shalawat Anti-PLTN ini sebagai bentuk perlawanan terhadap > hegemoni. Shalawat Anti-PLTN diciptakan oleh Zakariya Anshori pada > tahun 1997 dalam rangka Gerakan Anti-PLTN Muria Jepara. Silakan > menyebarluaskan Shalawat Anti-PLTN ini. Zakariya Anshori tinggal di > Jl. KH. Yasin 148 Jepara 59414, email : [EMAIL PROTECTED] com > > >
