Hambatan pengembangan "fuel cell" memang pada produksi hidrogen memang benar buanget. Seluruh profesor dari semua bidang ilmu (teknik dan fundamental) sedang bekerja keras menemukan metode produksi hidrogen dengan harga murah dari bahan baku air. Metode elektrolisis sudah ditinggalkan karena mengkonsumsi enegi listrik yang mahal. Perkembangan terakhir produksi hidrogen di jepang berasal dari limbah pabrik baja dan pabrik soda, juga dari methanol dan gas alam. Produksi dari keseluruhan industri mencapai 1 ton hidrogen cair/jam. Cukup untuk memenuhi kebutuhan hidrogen sebagai bahan bakar mobil yang mesinya "Fuel cell" dari jenis proton exchange membrane fuel cell. Di Jepang yang negaranya sempit dan penduduknya banyak juga mengembangkan Solid oxide fuel cell" untuk pembangkit listrik. Sel ini suhu operasinya diatas 650C sehingga limbah panasnya bisa juga untuk dimanfaatkan sebagai pembangkit uap. Dan rupanya ini yang sedang dikembangkan oleh LIPI. Sedangkan yang sedang dikembangkan oleh BPPT adalah jenis fuel cell" yang suhu operasinya rendah dibawah 100 C untuk mengganti mesin mobil. Oke Mas bodo (anda yang menamakan dirinya bodo lho bukan saya), kini semua mata dan hati ilmuwan sedang mengembangkan elektrolisis dengan bantuan sinar matahari dan logan Rutenium atau Titanium dan Tungsten ditambah dengan dye sensitizer agar dapat menggunakan sinar nampak yang kompsisinya 48 % dari seluruh sinar matahari untuk menghasilkan hidrogen dari air. Skala lab sudah berhasil tapi konversinya paling tinggi baru 3 % (tidak ekonomis). Andai konversi air menjadi hidrogen mencapai 10 %, wah ini sudah ekonomis, dan mungkin seluruh mesin bakar akan diganti dengan fuel cell. Dunia akan berubah, dimana energi akan menjadi sangat murah. Salam Bu reni
----- Original Message ---- From: bodo_kerlchen <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Friday, June 15, 2007 1:06:25 PM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: PLTN : UNTUK SIAPA ? Rekan-rekan FPK yth, Terutama Bu Reni, Thema "fuel cell" memang sungguh sangat menarik dan amat sangat menjanjikan sebagai "Tomorrow's Energy"?? Tapi kok pembahasannya terkesan hanya sambil lalu gitu? Tentu akan banyak rekan yang lebih gembira bila Ibu dapat menginformasikan mengenai perkembangan terakhir dari teknologi tersebut, dan apakah benar pemerintah kita sudah mulai/sedang berfikir kearah itu? Bila iya, tentu sangat positive, namun tentu masalahnya tidak sesederhana yang Ibu uraikan, sebab sejauh yang saya ketahui pada awal 2004, para ahli di Eropa masih belum mendapatkan solusi "jitu" dalam memproduksi H2 yang effective dan ramah lingkungan, agar proses "keseluruhan" dalam memanfaatkan energi dari hydrogen ini tidak secara "saru" menjadi tidak effective dan tetap membebani lingkungan. But overall .. jangka panjang hydrogen pasti lebih layak dari pada Nuklir dan Fosil. Prinsip dasar yang saya mengerti sebagai orang awam itu seperti ini (mohon para ahli membenarkan pabila ada kekeliruan): Hidrogen adalah substan yang paling banyak terdapat di universum kita, alias tidak ada habisnya, kecuali kiamat. Sedangkan proses yang akan kita manipulir untuk mendapatkan manfaat energi adalah kebalikan dari proses elektrolisa (kalo ngga salah namanya hidrolisa ya?). Dengan kata lain, sebelumnya kita harus mewujudkan proses elektrolisa nya dulu untuk mendapatkan H2 dari H2O dengan menggunakan tenaga listrik .. disinilah mulainya paradoksi, masa ingin memproduksi listrik menggunakan listrik?? Sedangkan yang Ibu maksudkan SOFC dengan mereformasi gas alam, memang benar, pada awal 2004 saja sekitar 98% dari kebutuhan dunia akan H2 adalah hasil dari Gas alam dengan menggunakan "steam reformer"? dengan CO2 sebagai emisinya. Mudah-mudahan sekarang ini para ahli telah menemukan jalan keluar yang lebih baik, saya pribadi percaya bahwa pemikiran hydrogen sebagai tomorrow's Energy itu suatu arah yang sudah benar. Salam, Bodo
