Saya juga sangat pro pada persatuan di bawah NKRI, tapi justru untuk bisa mempertahankan NKRI kita perlu mendengarkan kebutuhan saudara- saudara kita yang memilih bergabung dengan gerakan separatis.
Mengenai masalah istilah separatis, mau tidak mau memang mereka harus bernaung di bawah tudingan separatis. Karena separatisme memang pada dasarnya menginginkan perpisahan dari negara. Tapi apakah kebenaran dan keadilan yang mereka perjuangkan? Ini baru bisa dijawab dengan kenyataan di lapangan. Mampu tidak NKRI menjawab dan memenuhi kebutuhan dasar mereka untuk dianggap sebagai manusia utuh bagian dari Bangsa Indonesia?! --- In [email protected], "Hamidasari Husnaini" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Saya setuju sekali dengan pendapan Saudara Paulus. Saya prihatin > dengan rakyat Papua. Istilahnya sudah jatuh, terimpa tangga. Setelah > "dijahati" oleh para pendatang, sekarang dituduh pengkhianat bangsa. > > Saya pribadi juga tidak bisa membela Indonesia. Saya kelahiran > Jayapura, karena itu selalu akan ada bagian dari diri saya yang > "ketinggalan" disana, walaupun saya asli Sunda-Belitung dan menetap di > pulau Jawa. Saya masih mempunyai sanak saudara di Jayapura (yang juga > pendatang). Jelas saja saya tidak bisa menutup mata. Sakit hati saya > terhadap pemerintah Indonesia masih sangat terasa, dimulai ketika > bercokolnya perusahaan-perusahaan asing disana yang mengeruk kekayaan > Papua sampai pelanggaran-pelanggaran HAM yang terjadi. Wajar sekali > orang Papua ingin melepaskan diri dari Indonesia. Toh, selama ini > mereka bukannya hidup maju, tapi malah tambah "melarat". Saya juga > akan marah besar kalau ada maling yang masuk kerumah saya. > > Tapi saya juga tidak rela jika sampai Papua lepas dari Indonesia. > Perjuangan pahlawan-pahlawan kita hilang artinya kalau sampai ini > terjadi. Papua adalah bagian dari Indonesia dan akan tetap menjadi > bagian negara kita. Jangan sampai lepas. > > > salam, > Adis Hamidasari Husnaini >
