Saya setuju sekali dengan pendapan Saudara Paulus. Saya prihatin dengan rakyat Papua. Istilahnya sudah jatuh, terimpa tangga. Setelah "dijahati" oleh para pendatang, sekarang dituduh pengkhianat bangsa.
Saya pribadi juga tidak bisa membela Indonesia. Saya kelahiran Jayapura, karena itu selalu akan ada bagian dari diri saya yang "ketinggalan" disana, walaupun saya asli Sunda-Belitung dan menetap di pulau Jawa. Saya masih mempunyai sanak saudara di Jayapura (yang juga pendatang). Jelas saja saya tidak bisa menutup mata. Sakit hati saya terhadap pemerintah Indonesia masih sangat terasa, dimulai ketika bercokolnya perusahaan-perusahaan asing disana yang mengeruk kekayaan Papua sampai pelanggaran-pelanggaran HAM yang terjadi. Wajar sekali orang Papua ingin melepaskan diri dari Indonesia. Toh, selama ini mereka bukannya hidup maju, tapi malah tambah "melarat". Saya juga akan marah besar kalau ada maling yang masuk kerumah saya. Tapi saya juga tidak rela jika sampai Papua lepas dari Indonesia. Perjuangan pahlawan-pahlawan kita hilang artinya kalau sampai ini terjadi. Papua adalah bagian dari Indonesia dan akan tetap menjadi bagian negara kita. Jangan sampai lepas. salam, Adis Hamidasari Husnaini
