Pak Paulus,

Saya juga berpikir begitu. Tapi ada satu keprihatinan tentang posisi
Kementrian Pemberdayaan Perempuan; sering dimarginalkan (dianggap
tidak terlalu penting) dalam sistem negara. Misalnya dalam mengikuti
rapat-rapat rancangan undang-undang politik/pemilu dll, kementrian
pemberdayaan perempuan tidak diundang, tidak dilibatkan. Dan sulit sekali
bersinergi dengan kementerian lainnya. Karena masih ada mind-set, urusan
perempuan itu kehamilan, air susu ibu, gizi bayi, puskesmas dll, lebih ke
masalah reproduksi, tidak meraih sampai pemberdayaan politik dan ekonomi.

Kalau kita datang ke kementrian pemberdayaan perempuan, kita bisa lihat
poster-poster yang menunjukkan itu, masalah perempuan masih terepresantikan
sebagai masalah domestik.

Kementerian ini juga tidak bisa mengandalkan menterinya saja, tapi
juga deputi dan staffnya, seberapa pahamkah mereka tentang isu-isu
perempuan.

Sejauh ini kita (aliansi yang terdiri dari organisasi perempuan)
sering melakukan audiensi dengan mereka, sangat intensif, dan
selalu mendiskusikan tentang prioritas masalah-masalah perempuan.
Namun dalam implementasinya, apalagi turun ke lapangan, tantangan
dan rintangan banyak sekali. Banyak instansi-instansi yang belum punya
perspektif perempuan, dunia perempuan, dan pengalaman perempuan
(apalagi di daerah).

Banyak sekali rintangan yang kita hadapi untuk benar-benar
memberdayakan perempuan, dan yang paling sulit adalah kultur atau
kebiasaan kita di sini dalam memandang perempuan.

Mariana

Thursday, July 12, 2007, 2:52:52 PM, you wrote:

> Kalau begitu kesimpulan saya, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia
> Farida
> Hatta Swasono juga tidak mengerti apa yang dia kerjakan donk. Kalau dari
> pihak rakyat, (sebagai contoh diwakili oleh Bu Mariana) memandang
> permasalahan ini dari kualitas pekerjaan yang diterima oleh kaum perempuan.
> Sedangkan Ibu Menteri kita masih melihat dari sisi kuantitas, yang itu pun
> bisa menimbulkan pro dan kontra atau dengan kata lain data dan kesimpulan
> yang mereka buat masih menjadi pertanyaan.
> Nah kalau begitu, program-program pemerintah untuk masalah pemberdayaan
> perempuan pun jadinya tidak akan tepat sasaran kan ?


> Regards,
> Paulus T.

Kirim email ke