Masalah kepemudaan dalam kepemimpinan bukanlah masalah usia. Tapi
masalah pemikiran. Perubahan di Indonesia yang terpenting adalah
perubahan budaya politik, perubahan struktur mentalitas dasar gerak
ekonomi-politiknya dan perombakan secara menyeluruh mafia elitisme
yang mengukung Indonesia.

Hade merupakan contoh bagaimana kaum muda hanya diletakkan sebagai
artifisial dari perubahan yang didorong kaum muda. Saya melihat
hanya gerbong Budiman Soedjatmiko saja yang bisa dipercaya untuk
maju, alasannya cuman satu : Di Jaman Orde Baru dia sudah melihat
kesalahan jalannya negeri ini dan berani menyuarakannya. Ini beda
misalnya dengan Dede Yusuf yang asik main film dan mengartikulasikan
kepemudaannya secara khas Orda Baruis yang hedonistik.

Gerbong Budiman Soedjatmiko hanya bisa maju kalau berhasil menguasai
PDIP, sekarang masalahnya bagaimana menghantam unsur-unsur statis
dan kepala batu di dalam tubuh PDIP lalu menggantikannya dengan
kekuatan BS yang radikal, berwatak kerakyatan dan memiliki domain
revolusi di jalan kiri. Cuma satu jawabnya : KEBERANIAN Untuk Tampil!

ANTON

Hidup Budiman, Hidup Mega, Jayalah Kaum Sukarnois!!!!



--- In [email protected], Budiman Sudjatmiko
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Bung Khamid yang baik
> �
> Perlu saya sampaikan di sini mengenai posisi saya. Saya tidak
menolak soal kemungkinan calon muda bisa terpilih pada 2009. Namun
harus saya akui juga bahwa di Indonesia sistem dan kultur politiknya
berbeda dgn di AS. Tradisi politik di AS, sejauh yang saya tahu
partai politik memang relatif hanya memerankan dirinya semacam
organisasi longgar yang meski berjangkauan nasional, namun lebih
mirip semacam komite bagi promosi jabatan2 publik di AS.
Konsekuensinya, mobilisasi vertikal bagi figur2 yg ada lebih banyak
dipengaruhi leh sejauh mana figur2 tersebut dipopulerkan lewat
lembaga2 polling dan media kamp[anye yang bertujuan membangun image
(image building). Sementara tradisi kepartaian kita adalah lebih
menginduk ke Eropa, di mana institusionalisasi politik melalui
partai jauh lebih kuat, shg konsekuensinya adalah adalah promosi
jabatan politik/publik , terutama utk lembaga kepresidenan,
adalah�lewat partai politik. Nah, kenyataan yang terjadi hari ini,
>  jalur2 ini tidak bisa serta merta merespon efek dinamika yang
ditimbulkan oleh munculnya figur semacam Obama di Indonesia. Tentu
sbg semangat, boleh (layak) jika kemenangan Obama dlm konvensi
Partai Demokrat AS menginspirasi kia. Namun yang perlu kita sadari
adalah institutional setting politik kita berbeda dgn AS.
> Image building scr�individual (lewat tayangan2 iklan da
semacamnya), hanya menjelaskan satu asek saja dari kepemimpinan,
yaitu aspek popularitas semata, namun belum mencakup aspek
akseptabilitas. Belum lagi jika juga mengacu pada aspek skill dan
militansi dari proses kelahiran pemimpin (di Indonesia atau tradisi
politik Eropa yang mirip kita), yang mesti meniti dari bawah.
> Yang mengagumkan (dan membedakan) dari Obama dibandingkan banyak
presiden AS sebelumnya sebenarnya bukan terutama dia muda, namun
karena dia berlatar tradisi membangun politik dari bawah (grass
root), yaitu sebagai community organizer di perkampungan kumuh di
Chicago. Dia bukan berasal dari kelompok sosial dominan di AS
(WASP/White, Anglo-Saxon, Protestan dan berasal dari keluarga elite
ekonomi), karena dia Afro-American dan berasal dari keluarga biasa-
biasa saja.�Inilah yang menjadi pembeda dan seharusnya MENJADI
FOKUS PELAJARAN YANG KITA TARIK dari Obama. Nah figur seperti Obama
ini lah yang jika lahir di Indonesia akan jauh lebih bermanfaat dan
instruktif utk kita jadikan acuan. Sebab jika hanya faktor kemudaan,
tentu
> Jeff Bush yang gubernur Florida juga bisa disebut muda sbg
pemimpin AS, walau masih di level negara bagian.
> Maaf, kalau karena saking terfokusnya kita pada kemudaan Obama,
akan terlalu banyak replikasi-replikasi yang tidak pas di negeri ini
nantinya. Asal muda, pasti dianggap menjanjikan (apapun latar
belakang dan track record-nya. Pertanyaan yg bisa saya selipkan di
sini: apakah popularitas keartisan semata bisa menjamin kualitas,
hanya karena semata-mata muda, sebagaimana ditunjukkan dalam kasus
terpilihnya HADE di Jawa Barat?). Karena soal ALIH GENERASI
KEPEMIMPINAN ADALAH�SEBUAH KENISCAYAAN ALAMIAH, TAPI ALIH
PARADIGMA KEPEMIMPINAN ADALAH SEBUAH PILIHAN IDEOLOGIS DAN POLITIS!
Sebuah pilihan yang bisa kita putuskan untuk ambil atau kita
tampik/tolak. Jadi yang mau saya tekankan adalah: mari tarik
pelajaran dari sebuah peristiwa politik yang bisa membantu kita
MENENTUKAN APA YANG AKAN KITA PILIH, bukan menarik pelajaran untuk
diharapkan bisa membantu kita menjatuhkan pilihan pada APA YANG
SECARA ALAMIAH MEMANG SEBENARNYA TAK BISA KITA TOLAK, YAITU ALIH
>  GENERASI...Ini semacam the art of political learning, sebagaimana
jika kita membaca sebuah buku: pembelajar yang baik tidak akan
membaca semua/seluruh halaman dari buku, namun hanya membaca mana
yang memang relevan. Kiranya input dari saya ini bisa membantu
mengklarifikasi masalah dari The Obama's Effect. Terimakasih
>
> Wassalam
>
> Budiman Sudjatmiko

Kirim email ke