Bung Budiman,
Saya tunggu jawaban anda yang lengkap atas semua pertanyaan yang telah
diajukan.
Harapan saya, dari jawaban yang anda berikan, akan nampak lebih jelas tentang
Pemahaman Anda tentang masalah yang sedang dihadapi oleh bangsa ini, alternatif
solusi apa saja yang mungkin dilakukan, baik jangka pendek, jangka menengah
maupun jangka panjang serta strategi untuk mencapai sasaran yang dikehendaki.
Bahwa banyak dari members FPK yang ternyata awam terhadap perkembangan
politik di Indonesia, misalnya tidak tahu ukuran keberhasilan suatu Partai
maupun Pemerintahan, ya mohon dimaklumi.
Saya rasanya termasuk yang awam tersebut,
Tetapi sebagai orang yang selama ini mengabdikan hidupnya dibidang
Engineering, tetap berupaya untuk bisa memahami persoalan yang terjadi.
Maklum, Politik bukanlah bidang saya.
Jadi usul saya, Bung Budiman jangan berkecil hati, apalagi terus ngambek,
melihat kenyataan kalau banyak anggota members FPK yang "tidak cukup cerdas"
dalam menilai perkembangan suatu Partai atau Pemerintahan.
Bagaimanapun kondisi saya, saya tetap rakyat yang setia kepada NKRI dan
dinyatakan berhak menjadi anggota milis di FPK, walaupun saya buta politik.
Salam,
Adyanto Aditomo
Budiman Sudjatmiko <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Rekan2 FPK yang baik
�
Terimakasih atas sejumlah pertanyaan. Pada saatnya saya akan menjawab secara
panjang lebar, sejumlah pertanyaan yang muncul. Hanya ada satu catatan kecil
dari saya:
Tadinya saya mengira FPK adalah forum di mana para pesertanya memang orang yang
benar2 well-informed (apalagi berani mendeklarasikan sebagai forum pembaca
salah satu surat kabar yang berkualitas dan berpengaruh di Indonesia). Tapi
saya ihat sejumlah posting menunjukkan ada sejumlah members yang tidak cukup
mengikuti perkembangan. Misal: tidak tahu ukuran berhasil atau tidaknya sebuah
partai (ini menunjukkan sejumlah orang tdk mengikuti berita ttg survey dr
berbagai lembaga survey independen yang kredibel dan banyak menghiasa surat
kabar), tidak atahu apa itu tolok ukur kinerja sebuah pemerintahan (ttg
indikator ekonomi, pengurangan kemiskinan dan sebagainya).
Nah, hal-hal yang sebenarnya elementer ini, seringkali tdk dijadikan acuan,
sehingga yang sesekali muncul adalah demagogi, retorika, dan sinisme yang tdk
didasari argumentasi.
Kita bisa berbeda pendapat bahkan beda ideologi, entah itu kapitalisme,
liberalisme, fasisme, nasiononalisme atau sosialisme...tapi sinisme bukanlah
ideologi.
Itu lebih mirip seoran anak kecil yang berdiri di pinggir jalan, ikut
menyaksikan arak-arakan...tapi bukan mengapresiasi arak-arakan yang menarik
atau memberi kritik jika arak-arakannya kacau balau...yang dilakukannya
hanyalah melempar kulit pisang ke jalan yang dilintasi� arak-arakan.
�Ini sebagai pengantar, setelah itu akan saya jawab sejumlah pertanyaan yang
muncul. Terimakasih
wassalam
Budiman Sudjatmiko