Rupanya Kompas masih memposisikan dirinya menjadi corong  anti 
rencana kebijakan Menteri Pertanian utk menghapus monopoli 
impor   dgaing , dgn menakut nakuti   soal PMK. dan dgn berita yg gak 
pernah balance

Jubur nya tetap Suhadji yg mantan dirjen dan   Nabgku ssItepu dan 
tentu aosiais terkait


Hari ini di Kompas ada lg beritanya ,  , yg tentu saja 
banyakboongnya, sayang MAS gak pernha mau memuat dr sisi lain kecuali 
ornag ornag ini terus.


Coba lihat satu barius aja :

"Berdasarkan perhitungan IVW, total kerugian akibat wabah PMK yang 
berlangsung lebih dari 100 tahun diperkirakan mencapai Rp 11,6 triliun "

itu rugi 100 tahubn

bayang kan rugi takyar Inbdonesia 100 tahun , kalau harus beli dgaing 
lebih mahal Rp.20.000 aja dr seharus nya

ini itungannya , konusmi perkapota 1.7 kg , jumlah rakyat 240 juta , 
mak apertahun ; Rp.20.000 X 240.juta X 1.7 =  rRp.8,160.000.000.000, 
kalau cuma 30 persen yg diimpor , jumlah kerugian pertahun 
Rp.  2.720.000.000.000. Berapa jumlah  nya utk  100 tahun ???


Kalau ini riil, bisa di kalkulasi sederhana.


Cona suruh mrk kalkulasi angka mrk pastilah penuh asumsi gak je;las.

Yang bagi saya aneh..,kenapa sih Kopmpa s satu stau nya korna yg 
secara gak   berimbang memberitakan ini .



Ada apa Pak Andi Surudji ?/
Ucapab   bebas PMK adalah prestasi monumental , itu apa maknanya sih 
.. ? bhw krn prestasi itu rakyat jadi suash harus beli mahal, dna 
peternakan sapi kita terus terpuruk..


Ayo pak Surudji jawab pertanyaan saya.



HS



Kirim email ke