Mas Adhie, Saya kurang setuju, jika anda katakan negara kita Indonesia tercinta ini belum pernah menjadi negara yang sesungguhnya, sebab dari cerita paman saya yang pada era awal tahun 60-an bekerja sebagai pegawai bank swasta saat ini bernama "Bank Kopra" yang dikemudian harinya berubah menjadi "Bank Danamon" yang berkedudukan didaerah Jakarta kota (Jalan Kopi) Beliau bergaji saat itu sekitar Rp 3.000,- saja, sementara saat itu harga tiket pesawat terbang ke Palembang hanya seharga Rp 75,- dan harga emas hanya sekitar Rp 30,- saja dan harga berasnya hanya sekitar Rp 15,- saja.
Dari cerita itu menurut saya rasanya era tahun 60-an merupakan puncak jati diri bangsa Indonesia. Salam hangat, Suhaimi ----- Original Message ----- From: Adhie Massardi To: [email protected] Sent: Wednesday, October 22, 2008 9:39 PM Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] PEMBUNUHAN di ruang Pengadilan Negeri Jakpus ! Indonesia belum pernah sungguh-sungguh tumbuh menjadi negara dalam arti sempit maupun luas. Sebab tugas negara adalah melindungi rakyatnya, memfasilitasi kebutuhan rakyatnya. Dan sejak dipraklamasikan kemerdekaannya, Indonesia belum pernah melaksanakan tugas elementer sebagai negara. Jadi pernyataan "sedang menuju negara gagal" salah alamat. Semua peritiwa di negeri ini, korupsi di istana, parlemen, yudikatif, mutilasi di mana-mana, pembunuhan di ruang pengadilan, merupakan dampak dari keberadaan Indonesia yang tidak pernah menjadi sungguh-sungguh negara. Tugas kita (istimewa majelis FPK) untuk menjadikan Indonesia sebagai Negara. Sebab saya bisa klaim bahwa (hanya) kita yang sudah bangun jiwanya, jiwa Indonesia...! Tapi badan kita belum dibangunkan. Jiwa kita yang sudah bangun ini yang menggerakkan kita menulis di milis ini. Tapi badan kita masih teronggok lunglai. tak berdaya. Belum sanggup bangkit dan berjalan bersama mengekpresikan sikap jiwa kita. Tapi saya percaya, pada saatnya nanti, kita bisa bangkit dan bergerak bersama: melawan kedzoliman penguasa, melawan pembodohan penguasa, melawan...! Salam! Adhie M Massardi
