Mas Shaladdin harga kira kira Rp.500 juta relatip gak mahal lho apalagi dulu sudah di Surabaya tapi terbakar artinya sudah ada yg bisa operate.
tapi betul juga yg penting man behind the gun nya ayi kita bikin monumen lain.. misal menstop flu burung di unggas yg masih aja terjadi... kan matinya orang karena flue burung krn indoneisa pegang rekor yg mati terbanyak sedunia .. Pernah ke RPH ? pernah ke pasar tradisional ? sedihkan lihat sanitasi dan hygiene nya..itu tanggung jawab drh lho.. ..ayoi kemembalikan keadan hygienis yg ada di jaman Belanda.. masa malah mundur. saya sih inginnya kita impor daging Brazil tapi tetap perhatian menjaga bebas dari PMK. lha memang juga tim risk assesement minta adanya lab .. Tapi jangan di bikin.. gak ada lab ..gak boleh impor melainkan ayo adakan lab .. Rp.500 juta itu ,murah lho.. dibandinh keuntung bis anurunkan harga Rp.10.000 aja . cobadee. itung .. konsumnsi per kapita 1.7 kg rakyat indonesia jumlahnya 240 jt katakan yg diimpor dr Australia 30 persen nya selisih harga Rp.10.000 maka yg di hemat 10.000 X 1.7 X 24.000.000 X 0.3 = Rp. 1.224.000.000.000 Keil; bangetya Rp.500 juta di bandingangka ini gak ada keinginan saya utk merndahkn professi dokter hewan. bisa durhaka saya , spt malin kundang.. (pinjamistilah IJP) lha sebagai aanak bungsu .. yg ayahnya sudah tua, aku di besarkan dan di biatyai sekolah IPB ku oleh kakak iparku. Prof. DR Soewnondo yang saat iru adalah dekan fakultas kedokteran hewan IPB. Tiap hari rumah kakakku itu penuh dgn dokter hewan., dan kalau anda orang IPB, bisa saya pastikan bhw kebanayakan dosen senior anda adalah teman ataukenalan saya.. anda gak jawabpertanyaan saya .. apakah daging tanpa tulang yg berasal dr sapi yg sudah di periksa ante dna post mortem gak ada virus PMK nya, lalu di ageing setidaknya sehari sehingga lebih empuk dan kdicapai phyg neyebabkan kalaupun virus ada dia mati, lalu dia dibekekukan , dimauskkan dalam karton lalu diekspor keindoneisa.., bisa mengandung virus PMK. pastinya dokter hewan yg jujur akan jawab" gak mungkin deee....... ini undenatable kok. berarti kan bagaimana disana kita periksa sistim food safety mereka utk memastikan bahwa ygs seperti itu yg dikirm ke iNdonesia. Jadi ya insya Allah negligible lah risk nya .. ditambah bhw dlm aturan yang di konsep, hanya dua pelabuhan boleh masuk daging iniy aitu Jakarta dan Surabaya.. kan lebih mudah lagi dikontrol,jagain aja di pelabuhan. saya sendiri mau usul.. agar daerah peternakan di pusatkan di Nusa Tenggara Sulawesi dan Irian.. dna ditempat itu kita pastikan daging dr negara belumbebas PMK jangan di beirkan mausk.. utklebih memastikan lagi kesehatan hewan kita. nah duit penhemetan yg maish lebih setelah beliPCR di gunakan utk bangun prasarana di tiga pulau itu Majulah peternakan Indonesia .. majulah rakyat Ibndoensia ..gitu lho.. mikirnya Saya ini udah tahu aja maish semangat cari terobosan.. anda yg muda kok pakai pokoke gak boleh ? O ya kalau mau amanlagi.. utk taraf pertama .. impor hanya utk pabrik pengolahan.. jadi gak nyebar kemana mana.. , gaknyampai ke peternakan. wah banyak dee tindakan mitigasi yg bis adi lakukan.. cuma kalauniat nya lainjadi susah.. pokoke gak boleh... HS At 12:08 AM 22-11-08, you wrote: >Shalahuddin, > >PCR yang dimaksudkan u/mengetahui keberadaan >materi genetis suatu virus, yang dipakai baik >u/Penyakit Mulut dan Kuku (pada hewan/ternak) >maupun pada virus penyebab AIDS (HIV) dan Avian >Influenza lewat pendeteksian rantai enzim >polimerasenya ini memang mahal. Sekitar US$ >54,725 per unit (ini pun tergantung dari berapa >sample speciment (virus) yang dapat diperiksa >per kali pakai (menjalankan) alat (PCR) tsb. >Namun alat hanyalah tinggal alat jika tak >dilengkapi o/ketersediaan sumber daya manusia >yang akan menjalankannya. Pemakaian alat PCR ini >sendiri 'hanya" membutuhkan tenaga laboran. Yang >jauh lebih penting yaitu Tenaga u/ Quality >Control, yang harus memahami mikrobiologi, >u/menganalisa dan menerjemahkan hasil >pemeriksaan speciment yang diperiksa lewat alat bernama PCR tadi. > >U/menjalankan PCR dibutuhkan keajegan daya >listrik karena alat ini harus stabil suhu ruang >simpannya (alatnya sendiri tidak terlalu besar >kok. Berupa kotak yg ukuran tingginya sekitar >sedikit lebih dr 30 cm dan lebar 1/2 m.). Bagi >daerah2 yang listriknya seringkali mati maka >harus dipastikan u/memiliki alat pen-stabil daya listrik (UPS). > >Dimana tugas dokter hewan? Yaitu dalam hal >keterjaminan pengambilan sample (speciment) dari >hewan/ternak yang hendak diperiksa material >genetis virusnya. Nah, cara2 pengambilan ini >haruslah lege artis, mengikuti baku internasional yang telah disepakati. > >Jadi, pada persoalan impor daging sapi dan isu >harga dikaitkan dengan keterjangkauan harga bagi >rakyat kebanyakan dapat dibuat sebagai dua >kondisi yang berbeda meski saling terkait. >Keterjangkauan dapat diatasi ketika ada >keinginan politis yang kuat dari pemerintah, >dalam hal ini Departemen Pertanian (c.q. SubDit >Peternakan), u/membangun pusat2 pendeteksi >adanya virus ataupun mikroorganisma lainnya di >daerah2 yang memiliki rumah potong hewan yang >dilengkapi dengan tenaga2 yang tepat menjalankan >pusat2 tsb. Kemudian pemerintah juga harus >membangun 'career path' bagi para pekerja di >unit seperti ini. Selanjutnya, rumah potong >hewan pun perlahan2 harus dibenahi u/dapat >menyiapkan pasokan daging yg memenuhi baku mutu >kesehatan hewan. Disini menjadi tugas penting >dari rekan2 lulusan fakultas peternakan dan kedokteran hewan juga. > >Dibandingkan dengan kepentingannya jangka >panjang maka harga beli yang alat tsb menjadi >tidak mahal lagi. Namun yg jauh lebih penting >yaitu ketersediaan sumber daya manusia kita, >terutama dari lulusan FKH dan FaPet itu sendiri >dalam menjalankan roda pusat2 penelitian tsb dan >bekerja sama dengan rumah potong hewan serta >pasar, baik yang tradisional maupun berupa super >ataupun hyper-market yang menjual dagingnya! > >Nah, Shalahuddin, mari kita berdiskusi u/hal >ini. PCR hanya alat, yang jauh lebih penting >yaitu manusianya. Jangan merasa bahwa profesi >dokter hewanmu tersudutkan atau direndahkan >karena masalah ini. Ini PR besar kita semua kok. > > >Evi Douren > >Yang sudah bersentuhan dengan PCR sejak lama banget :))) > >Sent from my BlackBerry® wireless device from XL GPRS network
