Anggapan bahwa golkar rugi gara-gara berkoalisi dengan PD itu sangat lemah dasarnya. Penurunan suara golkar lebih dikarenakan banyak pentolan golkar berpengaruh yang hengkang atau mendirikan partai baru seperti Gerindra dan Hanura. Tentu pemilih partai baru itu sebagian besar adalah simpatisannya Golkar yang tersedot. Kedua, ditubuh golkar sendiri sejak JK berkuasa telah terjadi perpecahan dielit partainya. JK bersebrangan dengan Akbar Tanjung dan akhir-akhir ini dengan Fadel Muhamad yang tentu membuat marah dan kecewa masa pendukung tokoh itu seperti gus Dur marah dengan PKB-nya Muhaimin. Kematian tokoh besar Golkar yaitu Suharto juga punya pengaruh. Saya tahu ada beberapa orang yang tetap memilih golkar hanya karena ingin melindungi Suharto. Sebab orang ini berpendapat hanya dengan besarnya suara perolehan Golkar maka nasib hidup Suharto bisa lebih mudah diselamatkan secara politik. Tentu Suharto kini telah tiada dan tidak ada lagi beban. Terakhir yang tentunya lebih signifikan adalah karena kegagalan kepemimpinan JK itu sendiri dalam mengkonsolidasi kader golkar. Tanda-tanda kemunduran golkar sudah terlihat dari kalahnya berbagai jago golkar dalam pemilihan kepala daerah. Tapi waktu itu JK tetap berkerlit seolah itu bukan apa-apa. Jadi kalau sekarang golkar kalah banyak tentunya jangan ada yang kecewa. Keberhasilan iklan SBY dalam memikat hati rakyat dengan segala cara tentu ada pengaruhnya terhadap peralihan suara pemilih ke PD tapi ini bukan faktor terbesar anjloknya suara perolehan Golkar. SH
On 4/11/09, Adyanto Aditomo <[email protected]> wrote: > Kalau PD berkoalisi dengan Golkar, untuk jangka pendek mungkin akan > menguntungkan Golkar karena Golkar bisa mendapatkan jatah Wakil Presiden > serta sekitar 50 % kursi di Kabinet (dengan asumsi SBY menang dalam Pilpres > 2009). > > Tetapi berdasarkan pengalaman selama ini, ternyata koalisi tersebut dalam > jangka panjang merugikan Golkar. > Jika Pemerintah berhasil, maka yang dapat nama adalah PD dan bukan Golkar. > Jika pemerintahan gagal, pasti Golkar ikut kena dampaknya. > Dari hasil Pemilu 2009 ini, perolehan Golkar turun sekitar 7 %. > Jika Golkar berkoalisi dengan PD pada pemerintahan 2009 - 2014 (ini > diasumsikan SBY menang dalam Pilpres), dikhawatirkan perolehan suara Golkar > akan hancur lebur, terlepas apakah pemerintahan berhasi atau gagal. > > Jadi kalau Golkar tetap ingin menjadi partai besar pada Pemilu 2014, Golkar > harus menjadi oposisi atau menjadi Partai Pemerintah dimana presidennya dari > Golkar. > > Soal kekalahan PDIP yang beroposisi dalam Pileg 2009 ini, itu lebih karena > faktor nasib baik. > Dari hasil berbagai jajak pendapat, jika Pemilu diselenggarakan pada > pertengahan 2008 dimana harga BBM naik cukup drastis, kemungkinan besar PDIP > yang akan memenangkan Pemilu. > Tetapi karena Pemilu diadakan setelah harga BBM turun drastis dan SBY mampu > memperbaiki kelemahannya dimasa lalu, maka menjadi sangat logis kalau > kemudian PD berhasil memenangkan Pileg 2009. > > Jadi keputusan akhir ada di JK: > Bila Golkar merapat ke PD dan mendapatkan bagian dari "kue kekuasaan", di > pemilu 2014 (dengan asumsi SBY menang dalam Pilpres 2009), Golkar berpotensi > akan hancur dan hanya akan menjadi partai menengah saja. > Bila merapat ke PDIP sebagai Partai Oposisi (dengan asumsi Megawati kalah > dalam Pilpres 2009), Golkar akan tetap menjadi Partai Besar setelah pemilu > 2014. > > Tetapi jika ternyata Megawati menang dalam Pilpres 2009 dan JK menjadi > Wapres, nasib Golkar tetap akan tetap sama dibandingkan jika merapat ke PD > pada Pemilu 2014: berpotensi hancur dan hanya menjadi Partai menengah saja. > > Jadi akhirnya pilihan terserah ke Golkar. > > Salam, > > Adyanto Aditomo
