--- In [email protected], Goodman_neverdies <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Goodman: > > Terlepas dari adil atau tidak, justru saya melihat > > ini sebagai salah > > satu kebodohan BPPK. BPPK telah nyata nyata menerima > > surat permohonan > > pembatalan kelulusan > > peserta yang berasal dari DJPBN. ersebut. > > > > ESN: > > Bang, janganlah melepaskan unsur `keadilan' dalam > > hal ini, karena > > nanti jangan sampai kita terkena pepatah ini "rupa > > buruk, cermin > > dibelah" :) > > Goodman: > Sekali lagi terlepas dari adil atau tidak,...bla bla > bla
ESN: baiklah, sudah resmi rupanya "rupa buruk, cermin dibelah" :) > > Kukaraja: > > ..cut .. > > Lain hal kalau Pihak DJPb mengeluarkan surat sebelum > > test > > dilaksanakan. Justru surat tentang persetujuan > > beasiswa d4 datang dari > > Sekretariat ditjen Perbendaharaan (suratnya pake Kop > > Instansi Juga Lho > > Goodman: > Ketika dua produk hukum yang memiliki kekuatan yang > sama, maka berlaku asas hukum positif dimana hukum/ > peraturan yang keluar belakangan (uptodate) > mengalahkan/ meniadakan hukum/ peraturan yang > terdahulu. Kasus yang sama terjadi, dimana kita > 'dipaksa' memperpanjang cuti bersama. ESN: oo, jadi abang merasa 'dipaksa' juga ya? :) hehehe...baguslah untuk hal ini kita sepakat, kita sepakat kalo kita sedang 'dipaksa' bedanya adalah apakah kita menerimanya dengan 'terpaksa' juga atau dengan ikhlas? :) klo kasus cuti bersama, yang udah ngabisin jatah cutinya pasti bersorak kegirangan akibat 'dipaksa' :) saya juga pasti ikut loncat klo cuti saya sudah habis :) atau saya di jawa hehehe.... > >Kukaraja: > > Harusnya ada pihak yang bisa mengontrol Kantor Pusat > > dalam setiap > > kebijakannya..... > > Bagaimana bung ? setuju ? > > Goodman: > Meski terkesan sangat mencampuri urusan intern, tapi > untuk yang satu ini saya terpaksa SETUJU. Barangkali > pihak lain itu bisa berupa 'Badan Kesejahteraan > Pegawai DJPBN' yang menjadi mediator bagi seluruh > pegawai yang merasa terkena dampak suatu keputusan. > > > ESN: > > (sayang postingannya tidak saya save) Tapi kira kira > inti yang saya tangkap: ...Saya saat ini sudah bisa > menerima keputusan tersebut hanya prosesnya yang saya > tidak terima. Sekali lagi prosesnya. ESN: saya senang abang setuju :) (sekarang siapa lagi yang setuju??) ya saya (dan mungkin beberapa kawan) terima keputusannya dengan kesadaran penuh bahwa saya (kami) adalah bawahan dan pimpinan DJPB adalah atasan saya (kira2 artinya 'terpaksa' ga ya??hehe...) , tapi saya tidak terima proses dan alasannya :) > Goodman: > Saya rasa prosesnya sudah benar: > 1.Terbit surat No.S - 2929/PB.1/2007 tertanggal 24 Mei > 2007 yaitu mengenai "Penerimaan Mahasiswa Baru Prodip > IV dan Prodip III khusus Spesialisasi Akuntansi STAN > tahun Akademik 2007/2008" > 2.Terbit surat (sayang No dan tgl tidak diketahui, > meski keberadaan surat ini diakui beberapa orang) yang > menyatakan permohonan pembatalan kelulusan pegawai > DJPBN yg ditujukan ke BPPK. > 3.Terbit surat (BPPK) Peng-003/PP/2007 tgl 14 > September yang tetap mencantumkan kelulusan pegawai > DJPBN. > 4. Sehubungan dengan surat pengumuman BPPK tersebut > kemudian keluar surat No.S-6224/PB.01/2007 yang isinya > sebenarnya menegaskan surat terdahulu yaitu pembatalan > kelulusan, hanya karena tetap dicantumkan sebagai > pegawai yang lulus maka redaksinya dirubah menjadi > kira kira DJPBN tidak akan mengirim pegawainya untuk > mengikuti D3 khusus dan D4. (Walau saya pribadi kurang > setuju dengan alasannya). > > Jadi kalo dibilang secara prosedur/ proses, lahirnya > surat No.S-6224/Pb.01/2007 (yg menyesakkan) adalah > SUDAH BENAR, hanya isinya yang belum/ TIDAK bisa > diterima oleh sebagian (besar) pegawai DJPBN (yg > lulus). ESN: apanya yang benar??apakah perlu membuat kami, para peserta menunggu dengan sia-sia selama 3 bulan? dan mengikuti tes yang ga gampang materi dan lokasi ujiannya (sulit dicapai) hanya untuk dibatalkan????surat nomor 2 itu pun tidak diberitahukan!(untuk lebih horornya saya tau nomor dan tanggal surat yang ke 2 itu :) tapi tidak perlu saya beritahu disini, ngga etis) kalo menurut saya ini bentuk intervensi DJPB kepada BPPK, dan lagipula klo memang benar alasannya kenapa sih DJPB ngga pede ngasihtau tuh surat ke pegawainya? upload aja di perbendaharaan.go.id, sama seperti S-2929/PB.01/2007, gitu aja kok repot untuk apa nunggu sampe pengumumannya keluar dulu??lupa??masa lupa sampe segitunya?? kebenaran tersebut adalah kebenaran hirarkis dan wewenang (struktur jenjang atasan - bawahan)masih ingat dengan parodi : Pasal 1. Pimpinan Selalu benar Pasal 2. jika Pimpinan salah/keliru kembali ke pasal 1, bukan kebenaran apologetis (berdasarkan alasan dan proses yg ditempuh), coba lihat alasan dan redaksi pada S-6224 lebih tepat kalo dikeluarkan setidaknya sebelum pengumuman keluar jadi menurut saya (anak bau kencur ini) bilang kalau ini adalah bentuk "kelalaian" dan "keterlambatan" kebijakan yang menelan korban > Sungguh, saya menanggapi postingan ini dengan perasaan > berat hati. Karena jujur saya ikut merasakan > kekecewaan kalian. Kalian adalah adik adik pilihan, > dimana suatu saat saya rela kalian menjadi atasan > saya. ESN: terimakasih bang, tapi sulit saya percaya klo abang ikut merasakannya krn dari ulasan abang yg saya tangkap abang masih merasa klo prosesnya sudah benar.. masa abang merasa merasakan kekecewaan kami karna proses yang kami rasa tidak benar? :) ga penting siapa yang jadi atasan bang! yang penting atasan tersebut memberikan kebijakan yang jelas dan sistematis yang bisa dimengerti bawahannya, bukan kebijakan ujug-ujug..klo ngga ya bawahan kecewa lagi > I Love You All > HaBeWe. nb: tapi biarpun saya bilang seperti ini, saya percaya ma ucapan bung Nanang (kutipan dari bosnya) = "sedikit banyak atasan pernah jadi bawahan, tapi klo bawahan ngga pernah jadi atasan" mungkin itu alasannya kenapa saya masih aja bingung sampai saat ini dengan kebijakan ini, klo masalah cuti bersama, saya ikhlas nyumbang 5 hari cuti demi republik ini bisa liburan ..republik ini lagi banyak pikiran :) semoga republik ini bisa fresh lagi setelah liburan sepanjang itu..hehehe Salam Damai dari Serui ESN
