Pada dasarnya prinsip jual beli saham adalah caveat emptor atawa buyer beware, investor akan menjual saham kalau merasa akan rugi dan begitu sebaliknya. Dalam kapitalisme murni harga sepenuhnya ada pada pasar sedang pemerintah tidak ikut campur. Harga yang anjlok pada saatnya akan mencapai dasar dan rebound dengan sendirinya, demikian juga harga yg naik akan mencapai puncak dan terkoreksi pada saatnya. Tapi itu kalau benar2 murni, pada kenyataannya SEC atau Bapepam akan men-suspend saham2 tertentu dari perdagangan selama beberapa hari untuk kepentingan umum atau melindungi investor. Demikian juga NYSE ataupun BEI bisa "halts" ataupun "delays" perdagangan stock2 tertentu. ---In [email protected], <SADAR@...> wrote :
Terimakasih bung Nesare, pencerahan yang diberikan sehubungan perubsahaan publik dan penghisapan kali ini, ... bisa di mengerti. Tapi, kalau lain kali timbul penangkapan saya miring jangan segan-segan diluruskan lagi, ya! Hanya saja, masih ada pertanyaan dalam benak saya, seandainya saja diperkenankan 80% saham perusahaan kapitalis itu dilepas kepublik, bagaimana pengontrolan Pemerintah, agar saham perusahaan itu benar-benar mempunyai nilai segitu? Kalau ternyata perusahaan itu sudah dalam keadaan kritis dan sahamnya harusnya sudah JATUH drastis, kan yang dirugikan publik? Sedang si kapitalis bisa saja kabur setelah penjualan saham masuk kantongnya, ... Salam,ChanCT From: nesare1@... [GELORA45]Sent: Tuesday, October 25, 2016 7:10 PMTo: [email protected]: RE: [GELORA45] Re: {URECA_SGT} Re: Sie Tik ==> Kontradiksi Chan: Bukankah dengan demikian bisa dikatakan “PERUSHAAN PUBLIK” itu terjadi hambar penghisapan manusia atas manusia, SETIDAK nya bisa dikatakan tidak sekejam perusahaan kapitalis perseorangan, karena BAGIAN keuntungan dari 30% dari saham perusahaan yang sudah dilepas ke publik itu tidak masuk kantong kapitalis perseorangan lagi, ... dimana nilai lebih hasil kerja karyawan/buruh bisa dikatakan sepenuhnya dihisap si kapitalis itu sendiri saja!Nesare: sekali lagi yg bisa menghambarkan penghisapan itu adalah orangnya bukan isme nya. Mau isme apapun kalau orangnya gak bener ya tetap akan ada penghisapan. Begitupun sebaliknya. Saya kasih contoh adanya peralihan kepemilikan dari 1 pemilik ke public itu boleh2 saja bung artikan sbg menghambarkan penghisapan krn rakyat banyak dapat menikmati hasil dari perusahaan. Tetapi kalau ditelusuri lebih lanjut ini adalah praktis bisnis saja. lihat praktis2 bisnis ini sekarang bagaimana? Kan banyak perusahaan gede yg terbentuk yg diklaim banyak orang sbg GREED. Kalau berhubungan dgn perusahaan USA, istilahnya menjadi GREED AMERICAN CORPORATION. Ini yg dipersoalkan oleh banyak orang kiri kan? Bahwa kapitalisme membawa kesusahan. Istilah 1% - 99% itu timbulnya dari sini. Ini kan ceriteranya kapitalisme. Kalau ini terjadi didalam sosialisme pun, ya sami mawon: penghisapan pun bisa terjadi. Mau system proletariat, sentralisasi polit biro dlsbg ya kalau sudah berhadapan dgn praktis bisnis seperti sekarang ini, saya yakin gak akan dapat menghilangkan penghisapan yg jadi slogan itu. Sekali lagi orangnya yg bisa berbuat baik dan buruk bukan isme isme nya.!Selanjutnya saya jelaskan dibawah ini. Chan: Saya semula memperkirakan, ketentuan 70% saham perusahaan itu tetap dipegang kapitalis pemilik modal, karena perusahaan itu HARUS tetap ada pemilik yang menentukan, atau mungkin untuk mencegah jangan sampai akhirnya saham perusahaan itu jadi kosong dan merugikan publik yang telah membeli saham perusahaan itu. Sedang saya perhatikan, konkritnya desa Hua Xi, mengambil cara 20% saham tetap dipegang oleh DESA Hua Xi, 80% dilepas bagikan pada penduduk/petani desa. Dan yang juga menarik, bonus yang seharusnya dibagikan pada PETANI sesuai besaran saham yang jadi “milik”nya itu, dibuat ketentuan, hanya 20% yang bisa diambil, jatuh ketangan setiap petani yang dapatkan bagian, sedang yang 80% dari bonus didapatkan itu dimasukkan kembali ke saham desa Hua Xi sebagai peningkatan jumlah saham yang dimiliki setiap PETANI dan tentunya untuk akumulasi modal produksi tahun berikut. Begitulah mereka di desa Hua Xi itu bisa mencapai perkembangan sangat cepat, ... DESA jadi cepat KAYA, setiap PETANI penduduk desa juga cepat kaya, ... banyak yang jadi jutawan RMB, pemilik saham Desa Hua Xi.Nesare: “ketentuan” mau menjual 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 90% dst itu pertimbangannya bisnis biasanya bukan masalah mau jadi mayoritas atau tidak. kalau perusahaan yg dimiliki sudah sekarat, apanya yang mau dipertahankan? Mau jual saja belum tentu mudah. Dinegara maju memang relative mudah menjual suatu perusahaan, tetapi dinegara berkembang atau miskin perkaranya lain. Di Indonesia kita lihat jangankan jual perusahaan, jual rumah saja susah. Kenapa? Karena sistemnya belum berjalan dgn baik terutama financial instrumentnya masih lemah. Konsumsi itu terjadi dan bisa dipercepat dgn kredit. Dulu orang beli rumah pake’ uang kas jadi sedikit pembelinya. Sekarang dgn ada kredit, rumah2 bisa cepat terjual. Begitu juga dgn perusahaan. Hanya saja diindonesia financial instrument nya belum secanggih dinegara maju. Di negara maju sudah ada private investors, fund management companies, start up investors dll yg jago dalam hal jual beli perusahaan. Istilah yg dipakai bukan jual beli melainkan: buy out, merger acquisition, take over, LBO, MBO dll seperti yg kita bicarakan tempo hari.Masalah huaxia mau mempertahankan 20% kepemilikan itu hanyalah keinginan. Sekali lagi keinginan! Ini bukan mutlak bisa dilaksanakan. Sama saja diidnonesia ketentuan BUMN harus menjadi mayoritas artinya paling sedikit harus pegang 51% saham. Kalau kita rasional kan kelihatan kenapa BUMN dijual kepasar? Ini kan ada masalah baru dijual. Lah kalau masalahnya selanjutnya tidak bisa ditanggulangi dan harus menjual lebih dari 51%? Kan bisa saja. ini masalah bisnis. Bukan masalah mau jadi mayoritas atau tidak. makanya kita bisa lihat banyak perusahaan keluarga menjadi perusahaan public krn keluarganya tidak bisa menangani perusahaan keluarga itu lagi.Masalah ini kalau dilihat kaitannya dgn penghisapan itu begini: keputusan bisnis tidak memandang apakah ada penghisapan atau tidak. keputusan utk menjual saham ke pasar itu jangan dilihat sbg kebaikan pemilik perusahaan. Ini keputusan bisnis saja. walaupun saya pernah mengatakan public company dapat membagikan saham dalam bentuk RSU, stock option dll ke karyawan, ini adalah insentif. Insentif ini digunakan utk menahan sang karyawan supaya jangan keluar dan kerja lebih giat. Jadi ada timbal balik bukan semata2 kebaikan dari pihak pemilik. Walaupun tempo hari saya menulis ini kesannya seperti menghambarkan penindasan dalam public company tetapi lebih jauh dari itu semua ini adalah keputusan bisnis. Bagi saya modal itu tidak memandang apapun termasuk baik, buruk, penindasan dll. Yang bisa baik, buruk, mengurangi dan menambah penindasan itu orangnya.Dulu waktu perusahaan keluarga diindoesia jaya2nya ya bisa saja sang pemilik dermawan. Lihat duit yg diglontorkan ke dunia sport seperti bulutangkis, tenis meja, sepak bola itu kebanyakan dari perusahaan keluarga. Sekarang setelah ada bursa saham yg berarti kepemilikan mayoritas berkurang mengakibatkan keputusan tidak bisa sewenang2 diambil begitu saja oleh 1 pemilik lagi melainkan ada kepentingan shareholders lain yg bermain. Hasilnya apa? lihat saja bulutangkis babak belur, PTMSI tidak ada turnamen yg berarti lagi dan tenis meja merosot parah dst. Chan: Sedang untuk yang menentukan mengambil KEPUTUSAN jalannya perusahaan setelah dilepas kepublik, kalau bentuk nya kolektif seperti Desa Hua Xi, ya Pengurus Desa Hua Xi itu-lah yang masih pegang 20% saham Desa, sedang publik sekalipun 80% saham desa, suara mereka diwakili Serikat Tani saja. Nah, kalau perusahaan itu semula milik negara atau kapitalis perseorang, mestinya juga bisa berlakukan cara itu, ya? Jadi, saham perusahaan yang dipegang perseorang tidak boleh lebih dari 20%, ... lalu bagaimana pengontrolan dan membawakan suaranya bagi yang sudah dilepas kepublik, apalagi kalau lebih banyak yang diluar karyawan/buruh perusahaan itu? Jangan sampai publik hanya pegang sham-kosong, bodong karena ditilap oleh kapitalisnya atau kecurangan pengurusnya??? Mungkin juga untuk mencegah saham-bodong yang merugikan publik, maka dibuat ketentuan hanya 30% saham perusahaan yang boleh dilepas kepublik? Saya tidak tahu.Nesare: tidak ada ketentuan atau teori yg bisa menjelaskan bagaimana seharusnya jalannya perusahaan itu baik dari segi management atau apa saja. semua itu adalah keputusan dan harus diambil. Setiap keputusan ada konsekwensinya. Itu saja. jadi jangan pikir ilmu bisnis, ilmu ekonomi punya resep cespleng dalam bikin keputusan. 20% - 80% silahkan buat huaxia tetapi ini bukan resep. Harus ada pengurus desa ya silahkan juga. Harus ada serikat tani ya silahkan. Itu semua harus ditentukan. Sekali lagi tidak ada teori harus begini dan harus begitu. Makanya tempo hari saya agak tertawa koq bisa2nya ada orang bilang huaxia tidak bisa diterapkan di Indonesia. Gak ada alasan lagi ngasih pendapat begitu. Kan dalam otak orang2 yg ngomong begini kelihatannya mereka ada resep bagaimana harusnya menjalankan program2 ekonomi Indonesia itu. Begitu juga logikanya mereka2 ini kaya’nya tahu benar bagaimana menjalankan koperasi itu. Bagi saya itu semua hanyalah omongan gombal…..gak ngerti bisnis. Menggampangkan masalah saja dan maunya bashing musuh politiknya saja. SalamNesare From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Tuesday, October 25, 2016 12:21 AM To: [email protected]; nesare1@... Subject: Re: [GELORA45] Re: {URECA_SGT} Re: Sie Tik ==> Kontradiksi Lho, ... bukankah bung menyatakan, saya kutip: “Perusahaan public dijaman sekarang adalah milik semua orang baik rakyat suatu negara maupun asing. Semua orang bisa beli saham sbg bukti kepemilikan atas perusahaan apa saja (tempat kerjanya maupun bukan tempat kerjanya). Konsep ini meniadakan kepemilikan tunggal dimana relative bisa terjadi eksploitasi yg bung katakan.” Kemudian dialenea berikiut “Ini hanya ceritera singkat saja dimana penekanan terhadap eksploitasi itu menjadi hambar. “ Kutipan selesai. Bukankah dengan demikian bisa dikatakan “PERUSHAAN PUBLIK” itu terjadi hambar penghisapan manusia atas manusia, SETIDAK nya bisa dikatakan tidak sekejam perusahaan kapitalis perseorangan, karena BAGIAN keuntungan dari 30% dari saham perusahaan yang sudah dilepas ke publik itu tidak masuk kantong kapitalis perseorangan lagi, ... dimana nilai lebih hasil kerja karyawan/buruh bisa dikatakan sepenuhnya dihisap si kapitalis itu sendiri saja! Nesare: tidak ada ketentuan yg dibuat dari segi ilmu ekonomi dan bisnis. Setiap negara mempunyai ketentuan itu sendiri2 demi kepentingan negaranya masing. Disinilah bermainnya ideology kapitalisme dan sosialisme berinteraksi. Semakin tinggi kepemilikan pemerintah atas pasar berarti kepentingan negara lebih tinggi dalam mengurus masalah duit ini, berarti semakin ke kiri ideologinya. Begitu juga sebaliknya kalau pemerintah melempar tanggung jawab duit itu kepasar, artinya pemerintahnya lebih liberal/kapitalis. Chan:Saya semula memperkirakan, ketentuan 70% saham perusahaan itu tetap dipegang kapitalis pemilik modal, karena perusahaan itu HARUS tetap ada pemilik yang menentukan, atau mungkin untuk mencegah jangan sampai akhirnya saham perusahaan itu jadi kosong dan merugikan publik yang telah membeli saham perusahaan itu. Sedang saya perhatikan, konkritnya desa Hua Xi, mengambil cara 20% saham tetap dipegang oleh DESA Hua Xi, 80% dilepas bagikan pada penduduk/petani desa. Dan yang juga menarik, bonus yang seharusnya dibagikan pada PETANI sesuai besaran saham yang jadi “milik”nya itu, dibuat ketentuan, hanya 20% yang bisa diambil, jatuh ketangan setiap petani yang dapatkan bagian, sedang yang 80% dari bonus didapatkan itu dimasukkan kembali ke saham desa Hua Xi sebagai peningkatan jumlah saham yang dimiliki setiap PETANI dan tentunya untuk akumulasi modal produksi tahun berikut. Begitulah mereka di desa Hua Xi itu bisa mencapai perkembangan sangat cepat, ... DESA jadi cepat KAYA, setiap PETANI penduduk desa juga cepat kaya, ... banyak yang jadi jutawan RMB, pemilik saham Desa Hua Xi. Sedang untuk yang menentukan mengambil KEPUTUSAN jalannya perusahaan setelah dilepas kepublik, kalau bentuk nya kolektif seperti Desa Hua Xi, ya Pengurus Desa Hua Xi itu-lah yang masih pegang 20% saham Desa, sedang publik sekalipun 80% saham desa, suara mereka diwakili Serikat Tani saja. Nah, kalau perusahaan itu semula milik negara atau kapitalis perseorang, mestinya juga bisa berlakukan cara itu, ya? Jadi, saham perusahaan yang dipegang perseorang tidak boleh lebih dari 20%, ... lalu bagaimana pengontrolan dan membawakan suaranya bagi yang sudah dilepas kepublik, apalagi kalau lebih banyak yang diluar karyawan/buruh perusahaan itu? Jangan sampai publik hanya pegang sham-kosong, bodong karena ditilap oleh kapitalisnya atau kecurangan pengurusnya??? Mungkin juga untuk mencegah saham-bodong yang merugikan publik, maka dibuat ketentuan hanya 30% saham perusahaan yang boleh dilepas kepublik? Saya tidak tahu. Salam,ChanCT From: nesare1@... [GELORA45]Sent: Monday, October 24, 2016 10:19 PMTo: [email protected]: RE: [GELORA45] Re: {URECA_SGT} Re: Sie Tik ==> Kontradiksi Chan: Baguuus tanggapannya, bung Nesare! Satu hal baru untuk pertama kali saya dengar ulasan perusahaan publik bisa dinyatakan menjadi hambar penghisapan manusia atas manusia nya, ... karena perusahaan itu menjadi milik bersama, kolektif. Nesare: saya tidak bilang perusahaan public akan menghambarkan penghisapan. Saya berpendapat penghisapan itu dilakukan oleh manusia bukan isme nya. Jadi isme apapun bisa ada penghisapan. Kenapa? Karena orangnya yg menghisap bukan ismenya. Saya kasih keunggulan perusahaan public itu sebagai fakta tetapi bukan menghebatkan kapitalisme. Fakta perusahaan public dapat dimiliki oleh semua orang itu tidak bisa dipungkiri tetapi sekali lagi bukan tidak ada penghisapan dalam perusahaan public itu. Chan: Tapi, bukankah dinegara-negara barat, termasuk HK yang saya ketahui, besaran saham yang dijual ke pasar tidak lebih dari 30%, artinya setidaknya 70% saham perusahaan itu TETAP dimiliki kapitalis perseorangan. Dan dengan demikian 70% keuntungan setiap tahun hasil kerja karyawan/buruh perusahaan itu jatuh masuk kantong kapitalis pemilik perusahaan itu! Artinya, nilai lebih hasil kerja karyawan/buruh yang diambil oleh kapitalis 70% tetap diambil kapitalis, ... masih terjadi penghisapan manusia atas manusia! Nesare: tidak ada ketentuan yg dibuat dari segi ilmu ekonomi dan bisnis. Setiap negara mempunyai ketentuan itu sendiri2 demi kepentingan negaranya masing. Disinilah bermainnya ideology kapitalisme dan sosialisme berinteraksi. Semakin tinggi kepemilikan pemerintah atas pasar berarti kepentingan negara lebih tinggi dalam mengurus masalah duit ini, berarti semakin ke kiri ideologinya. Begitu juga sebaliknya kalau pemerintah melempar tanggung jawab duit itu kepasar, artinya pemerintahnya lebih liberal/kapitalis. Utk Indonesia yg namanya persero harus dimiliki oleh pemerintah diatas 51% artinya pemerintah selalu pemilik mayoritas. Disini sudah benar krn prinsip dasar UUD 45 itu adalah mengurus kepentingan rakyat banyak. Kalau pejabat nya benar dan bisa ngurusin duit, kenapa tidak Indonesia memiliki 100% saham2 BUMN. Masalahnya pejabatnya tidak benar. Makanya harus diswastakan dalam arti menjual sahamnya kepublik. Sebetulnya ini jalan mudahnya yaitu go public. Sebetulnya Indonesia bisa tetap mempertahankan status private nya dengan jalan menjual saham BUMN nya ke pihak lain tanpa lewat bursa. Ini yang saya coba ceritakan ke jonathan yg gak mudeng public vs. private company itu. Ada keunggulan private company diatas public company krn lebih irit. Dinegara2 maju banyak perusahaan besar itu adalah private company yg saham2nya tidak diperjualbelikan dibursa. Tetapi saham2nya dimiliki oleh individu2 s/d instansi dan private investors. Contohnya: Koch brothers, Cargill, dell, Bechtel, PWC, IKEA belanda, SC Johnson, KPMG inggris, aldi jerman dll. Chan: Makanya saya ajukan dibalik, 80% saham perusahaan yang dilepas ke publik, sedang 20% saja dari saham perusahaan yang masih boleh dipegang kapitalis, deengan demikian juga agak mengurangi atau membatasi kecepatan makin kayanya kapitalis perseorangan untuk mengangkat lebih baik karyawan/buruh disetiap perusahaan. Yang saya tidak tahu, apakah kemungkinan demikian ini bisa berlaku umum dan berjalan dengan baik??? Begitu yang terjadi dibeberapa DESA-MAJU di Tiongkok, ... artinya 80% saham DESA dibagikan pada PETANI dan 20% saham tetap milik DESA. Tentu kalau yang berlangsung didesa-desa di TIongkok itu, sudah TIDAK BISA dikatakan masih berlakukan penghisapan manusia atas manusia lagi! Semua menjadi karyawan/buruh/tani didesa itu dan semua menjadi kapitalis pemilik saham dengan perbedaan besarannya saja, ...! Nesare: ya silahkan dikutak katik angka/persentase kepemilikan sahamnya. Kutak katiknya tetap harus sesuai dengan hukum dagang negaranya. Patokan yg harus dipegang adalah diatas 50% sbg pemilik mayoritas. Ini tidak bisa diganggu gugat krn menyangkut voting. Kalau mau detailnya memang semua pemilik saham belum tentu memiliki hak milik. Ada yang namanya preferred common stock yang dimiliki tetapi tidak memiliki hak suara. Artinya dibawah 50% pun, pemilik masih bisa jadi pemilik mayoritas. Chan: Tapi, ... apa dalam ilmu ekonomi membedakan upah dan gaji? Hanya saja saya tidak berhasil menangkap dimana perbedaan upah dan gaji itu. Nesare: gampangnya upah itu buat buruh dan gaji utk yg lebih tinggi posisinya. Di USA istilah yg dipakai adalah: exempt dan non exempt. Upah buruh perjam biasanya dan gaji adalah tetap perbulan. Upah biasanya dibayar perhari dan perminggu. Gaji dibayar by weekly, semi montly atau per bulan. Jarang perusahaan bayar gaji sebulan sekali di USA. Di Indonesia kebanyakan dibayar perbulan makanya sering ada istilah: bulan muda dan bulan tua. Gaji itu di USA tidak selalu lebih rendah drpd gaji manager. Malahan kerap kali skilled labor seperti kerjaan construction itu jauh lebih tinggi drpd gaji seorang accounting manager. Tentu saja ada bonus dan stock option yg manager bisa dapat. Kalau labor gak bisa dapat krn upahnya hanya berpatokan ke jam kerjanya. Hanya saja kalau benefit seperti: medical insurance, life insurance, pension plan termasuk 401K, cuti sakit, cuti personal day, vacation day dll itu semua labor dan manager sama saja dapatnya. Di Indonesia ini belum ada. Adapun belum kuat jalannya. Makanya saya salut sama Jokowi dengan semua kartu saktinya. Jalannya gak mungkin langsung bagus. Itu semua program kiri yg perlu duit. Di USA saja yg katanya begitu hebatnya medical systemnya, masih harus didorong oleh Obama dengan Obamacare krn banyak rakyatnya tidak ada medical insurance. Apalagi Indonesia yg belum ada sebelumnya selain jamsoktek yg gak pernah dilihat orang. Sekarang luar biasa bergunanya. Saya pernah lihat seorang sopir anaknya kanker dan dibawa ke RS. Cipto di jkt. Orang tuanya gak bayar 1 sen pun sampai ke obat2 gak bayar. Ada yg bayar tergantung plan nya tetapi bayarpun gak banyak. Gak bisa perfect, tetapi harus ada. Apalagi Indonesia itu negara Pancasila dan dalam UUD 45 nya tertera rakyat miskin harus diurus. Kalau gak diurus gimana bisa dikatakan bernegara dan berbangsa. Lucunya ada orang2 yang sok humanis belain orang tergusur tetapi mentertawakan program kartu sakti??!!!! Dan lebih lucu lagi orang2 ini mengaku dirinya sbg democrat????!!!!! SalamNesare From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Monday, October 24, 2016 9:37 AM To: GELORA_In <[email protected]>; nesare1@... Subject: Fw: [GELORA45] Re: {URECA_SGT} Re: Sie Tik ==> Kontradiksi Baguuus tanggapannya, bung Nesare! Satu hal baru untuk pertama kali saya dengar ulasan perusahaan publik bisa dinyatakan menjadi hambar penghisapan manusia atas manusia nya, ... karena perusahaan itu menjadi milik bersama, kolektif.Tapi, bukankah dinegara-negara barat, termasuk HK yang saya ketahui, besaran saham yang dijual ke pasar tidak lebih dari 30%, artinya setidaknya 70% saham perusahaan itu TETAP dimiliki kapitalis perseorangan. Dan dengan demikian 70% keuntungan setiap tahun hasil kerja karyawan/buruh perusahaan itu jatuh masuk kantong kapitalis pemilik perusahaan itu! Artinya, nilai lebih hasil kerja karyawan/buruh yang diambil oleh kapitalis 70% tetap diambil kapitalis, ... masih terjadi penghisapan manusia atas manusia!Makanya saya ajukan dibalik, 80% saham perusahaan yang dilepas ke publik, sedang 20% saja dari saham perusahaan yang masih boleh dipegang kapitalis, deengan demikian juga agak mengurangi atau membatasi kecepatan makin kayanya kapitalis perseorangan untuk mengangkat lebih baik karyawan/buruh disetiap perusahaan. Yang saya tidak tahu, apakah kemungkinan demikian ini bisa berlaku umum dan berjalan dengan baik??? Begitu yang terjadi dibeberapa DESA-MAJU di Tiongkok, ... artinya 80% saham DESA dibagikan pada PETANI dan 20% saham tetap milik DESA. Tentu kalau yang berlangsung didesa-desa di TIongkok itu, sudah TIDAK BISA dikatakan masih berlakukan penghisapan manusia atas manusia lagi! Semua menjadi karyawan/buruh/tani didesa itu dan semua menjadi kapitalis pemilik saham dengan perbedaan besarannya saja, ...!Tapi, ... apa dalam ilmu ekonomi membedakan upah dan gaji? Hanya saja saya tidak berhasil menangkap dimana perbedaan upah dan gaji itu.Salam,ChanCTFrom: nesare1@... [GELORA45]Sent: Sunday, October 23, 2016 10:05 PMTo: [email protected]: RE: [GELORA45] Re: {URECA_SGT} Re: Sie Tik ==> Kontradiksi Sie Tik:Jadi sebenarnya buruh, tani, borjuasi kecil selain yg beli saham ini selain diperas melalu proses produksi kapitalis , tapi diminta juga " menyumbang" kemampuan finansial kapitalis.Untuk memperbesar keuntungan borjuasi kapitalis juga tampak bahwa mereka akan tetap menelan kenaikan upah buruh, tanpa mengabaikan inflasi , tapi dilain pihak mereka menyewa tenaga2 management yg hebat, berapapun upahnya. Dan dlm diskusi ini dibanggakan sebagai pemisahan kekuasaan eksekutif, tapi sama sekali tidak disinggung bahwa CEO2 ini disewa guna lebih mengintensifkan keuntungannya, lebih mengintensifkan pemerasannya pada buruh. Pendapatan seorang CEO bisa ratusan kali dari upah rata2 buruh perusahaan, dan tiap tahun bisa meningkat dng prosentage yg tinggi.Nesare: pendapat ini kelihatannya benar tetapi salah kaprah. Sudut pandangnya hanya 1: labor di eksploitir. Sudut pandangnya kalau ditelusuri akan lain. Begini: komponen biaya dari suatu perusahaan itu macem2: upah, gaji, biaya material, biaya bunga pinjaman, biaya asuransi, biaya depresiasi, biaya produksi dll.Yang bung sie tik lihat itu hanya 1: upah buruh. Inipun dibedakan dengan gaji para management. Sebetulnya hakekatnya antara buruh dan menejer itu sama dan statusnya adalah karyawan yang sama2 bekerja dalam perusahaan yang sama.Kalau kita melihat perbedaan gaji dan upah ini lebih lanjut dari segi perusahaan, semakin tinggi posisi seseorang semakin berat kerjanya terutama tanggung jawabnya. Yang saya ketahui banyak karyawan tidak mau naik pangkat krn mereka merasa tidak mampu. Yang mampupun ada yg tidak mau krn tidak mau ngoyo kerjanya. Ini situasi kerja diperusahaan yang saya ketahui. Jadi kalau mau ngomong masalah ekploitasi ini bukan hanya milik buruh saja melainkan semua orang kerja itu adalah hasil dan ujungnya adalah eksploitasi baik tenaga maupun sumber daya alam dll. Jadi bagi saya sekurang2nya sudah tidak relevan utk memilah exploitasi itu hanya milik buruh dan bukan milik semua karyawan. Ini masalah lalu dimana Marx challenge hasil industrialisasi di eropa dulu kala. Sebaiknya bung mencoba utk melihat masalah exploitasi human trafficking kalau memang ingin melihat bagaimana manusia dieksploitasi. Begitu juga lebih relevan kalau bung berbicara ttg illegal immigrant diberbagai belahan dunia ini dimana gaji mereka dikerdilkan dst.Perusahaan public dijaman sekarang adalah milik semua orang baik rakyat suatu negara maupun asing. Semua orang bisa beli saham sbg bukti kepemilikan atas perusahaan apa saja (tempat kerjanya maupun bukan tempat kerjanya). Konsep ini meniadakan kepemilikan tunggal dimana relative bisa terjadi eksploitasi yg bung katakan. Lebih dari itu ada konsep RSU, stock option plan, 401K, bonus dll dimana perusahaan memberikan duit ini ke karyawan sbg motivasi/insentif supaya lebih giat kerjanya. Artinya semakin untung perusahaannya semakin tinggi penghasilan karyawannya. Bukan hanya diperusahaan public saja ini bisa terjadi. Perusahaan privat pun bisa seperti Johnson & Johnson perusahaan privat (yg tidak menjual sahamnya dibursa) pun bisa memberikan insentif duit seperti ini. Insentif non monetary juga ada dalam bentuk: sick day, personal day, ruang buat laktasi (menyusui), free coffe dan donut, family day, joint fitness club, konsultasi gratis ke ahli hokum, nurse, pshikolog dll. Semua ini berlaku utk semua karyawan. Tidak ada pembatasan. Tidak ada diskriminasi. Semua sama dari buruh s/d CEO.Ini hanya ceritera singkat saja dimana penekanan terhadap eksploitasi itu menjadi hambar. Masih banyak contoh didunia ini yang dapat menganalisa ttg eksploitasi. Dalam ilmu ekonomi banyak ahli yg ngomon ttg ini. liberal theory juga banyak yg ngomong ttg ini. begitu juga neo classical. Hanya memang Marx luar biasa ekstrim dalam memandang issue labor ini. kalau kita mengikuti jalan pikirannya marx itu mudanya tidak begitu ekstrim. Seperti juga bung Karno itu berbeda waktu muda dan tuanya. Saya tidak yakin marx kalau hidup jaman sekarang dgn melihat contoh public company yang ada sekarang ini akan tetap bertahan dgn prinsip eksploitasi buruh ini. jaman sudah berubah. Dijaman sekarang jangankan eksploitasi, sexual harassment dan discrimination saja menjadi momok utk suatu perusahaan bertindak sewenang2. Sedikit contoh masalah sexual harassment saja: dinegara maju dimana perangkat hokum sudah kuat dan berjalan lumayan bagus, seseorang nepok pantat koleganya bisa dituntut sexual harassment. Bayangkan misalnya seorang menejer nepok pantat sekretarisnya dan sekretaris ini bisa menuntut bos nya ini. Ceritera eksploitasi seperti apa yg bisa terjadi lagi didunia ini yg tidak bisa dibawa ke pengadilan?!Bung dikerdilkan dengan pandangan bung sendiri. dunia itu dinamis. Dunia itu berubah. Dengan perubahan nya itulah, seseorang harus pandai2 memilah yg mana yg lebih benar dan yang mana yg lebih salah dalam memandang suatu masalah. Seorang pemimpin yg baik akan dan harus mempunyai visi dan misi ini. kehebatan Lenin dgn NEP dan bung Karno dgn demokrasi terpimpinnya itu bentuk2 pemahaman pemimpin dunia yang tidak hanya terpaku dalam satu framework sempit saja.SalamNesareFrom: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Sunday, October 23, 2016 3:15 AM To: [email protected]; diskusiforum@...; GELORA_In <[email protected]> Subject: [GELORA45] Re: {URECA_SGT} Re: Sie Tik ==> Kontradiksi Sie Tik:Terjadi negasi dari kesatuan lama dng segi2 kontradiksinya menjadi kesatuan baru dng segi2 baru yg berkontradiksi, suatu dinamika materialis. Kelas borjuasi kapitalis bila Rev.Proletar berhasil akan kehilangan sifat2 specifiknya, sebagai pemilik alat2 produksi kebutuhan masyarakat, dan berdasarkan kepemilikan ini serta kekuasaan politiknya merupakan kelas penghisap dan penindas kaum buruh serta rakyat pekerja lainnya. Borjuis besar kapitalis ini dng terwujutnya kemenangan Rev. Proletar dinegasi menjadi Borjuis biasa tanpa kepemilikan alat2 produksi tanpa kekuasaan politik dan bila tetap hendak hidup harus bekerja sebagai mana anggauta masyarakat yg lain, tapi bila melakukan kegiatan anti revolusioner sebelum Rev.Proletar tentu pengadilan rakyat akan menentukan hukumannya, apalagi bila mereka tetap merongrong kekuasaan rakyat/ diktatur proletariat tentu akan mendapatkan hukuman yg setimpal.Dng alasan belum waktunya kekuasaan klas borjuasi kapitalis ditumbangkan, masyarakat masih terkebelakang, kesejahteraan masyarakat belum meningkat dsb. Dan secara sadar menghambat berlakunya hukum negasi dari negasi , dng ini juga maka dinyatakan bahwa kontradiksi kelas kapitalis dng kelas buruh bukan merupakan kontradiksi antagonis, tapi kontradiksi dikalangan rakyat.ChanCT:Saya melihat ada hal2 yang perlu kita tinjau dan perhatikan lebih lanjut dari kutipan pernyataan tsb. Pertama, bahwa proses perkembangan KONTRADIKSI itu berlangsung sesuai BENTUK dan TINGKAT perjuangan yang terjadi. Tidak bisa mengantagoniskan segi-segi yang bertentangan dengan dipaksakan oleh kehendak subjektive seseorang dengan meletuskan Revolusi. Yang menjadi pertanyaan, apakah kontradiksi Kapitalis >< Buruh di Rusia 1919 dan di Tiongkok 1956 itu sudah sampai antagonis pada tingkat saling MENEGASI dan oleh karenanya KAPITALIS patut dimusnahkan, meniadakan hak-milik perseorangan atas alat-produksi??? Saya yakin, TIDAK! Itulah sebab terjadi koreksi Lenin ditahun 1921 itu, kembali memperkenankan kapitalis hidup dan tumbuh di Rusia untuk ikut membangun dan mengembangkan ekonomi Rusia yang masih sangat miskin, dan tenaga produksi sangat terbelakang dengan NEP nya. Begitu juga dengan di Tiongkok tahun 1956, seharusnya tidak melancarkan Rev. Sosialis, dan yang BENAR tetap membiarkan kapitalis hidup, tumbuh dan berkembang. Memberi kesempatan BURUH tumbuh lebih besar dan lebih kuat didalam masyarakat. Ingat, sampai sekarang di Tiongkok sekalipun sudah begitu meningkatnya industri, jumlah klas BURUH melonjak naik banyak, tapi tetap saja PETANI masih lebih 60% penduduk Tiongkok!Proses perkembangan KONTRADIKSI kapitalis >< buruh yang terjadi dibawah pemerintah RAKYAT, tentu akan lebih berkemampuan menjinakkan KAPITALIS, cukup mementung dan menindak kapitalis nakal yg tidak hendak tunduk HUKUM dan UU yang ditentukan saja, untuk mencapai PEMBAGIAN-HASIL kerja yang lebih ADIL. Disatu pihak tetap memperkenankan kapitalis beruntung, dipihak lain meningkatkan kesejahteraan rakyat pekerja lebih baik. Dan, inilah yang nampak jelas dijalankan RRT sekarang dengan cukup baik, ... sekalipun dalam kenyataan terjadi ketimpangan antara kaya dan miskin yang sangat besar. Tapi, dipihak lain adalah kenyataan yang juga terjadi disamping segelintir ratusan milyarder, dipihak lain RRT juga BERHASIL mengentaskan 1 milyar RAKYAT yang hidup dalam garis kemiskinan, masih tersisa lebih 50 juta rakyat yang hidup digaris kemiskinan, ... dan juga melahirkan ratusan juta klas menengah-atas (sudah melampaui jumlah penduduk AS) dalam masyarakatnya.Tentu orang boleh juga bilang, dimasa Lenin dan Mao dahulu, sekalipun masyarakat dikatakan miskin, tapi merata tidak terjadi kesenjangan sosial dan kehidupan RAKYAT sepenuhnya terjamin, khususnya pendidikan dan kesehatan. Namun, kita juga harus BERANI melihat kenyataan lain yang terjadi, semua itu DILAKSANAKAN dengan disiplin KEKERASAN, atau katakanlah dengan DIPAKSAKAN! Itulah sebab kehidupan rakyat dirasakan terkekang, tidak ada kebebasan warga bersuara, berorganisasi, bahkan hanya mendengar berita luarnegeri, apalagi keluar negeri, ... bahkan sampai harus dibangun tembok Berlin yang sangat memalukan itu. Mengapa? TAKUT warganya lari keluar ke Barat! Kenyataan yang dinamakan negeri sosialis ketika itu, tidak mampu beersaing dan melawan kemakmuran negeri kapitalis. Begitu juga dengan Tiongkok dimasa Mao, ... sungguh kasihan melihat kehidupan rakyat dipinggiran kota dan desa-desa pedalaman. Di ibukota Beijing saja toko-toko tidak ada barang beraneka ragam, kecuali kebutuhan hidup sehari-hari yang itu-itu saja tanpa ada pilihan lain. Itupun kecuali membayar dengan uang juga harus keluarkan kupon, ... lalu, kalau ketoko buah-sayuran, aduuuh ampuuun, yang namanya buah-sayuran itu sudah lonyot, sudah nyaris busuk masih dijualin, padahal sekarang kwalitas buah-sayur macam begitu sudah jadi pangan babi saja!Perkembangan di RRT sekarang ini, sekalipun rakyat Tiongkok BELUM sepenuhnya mendapatkan KEBEBASAN seperti dibarat, tapi sudah JAUH lebih BEBAS ketimbang dimasa Mao dahulu. RRT sekarang sudah BERANI membuka pintu lebar-lebar tidak hanya ke HK tapi juga negara-kapitalis didunia ini! BERANI membuka pintu lebar pada setiap warganya melancong bahkan bisa membiarkan mereka yang hendak belajar dan hidup menetap diluarnegeri! Dan mayoritas mutlak RAKYAT merasa lebih suka dengan kemakmuran yang dicapai Tiongkok sekarang! Tentu, masih banyak kekurangan bahkan KESALAHAN yang masih harus dikoreksi untuk meluruskan jalan yang lebih baik. Dan RRT nampak terus memperbaiki diri, terus maju meningkatkan kemakmuran masyarakat untuk menyedot kembali puluhan juta warganya yang sudah ngendon bertahun-tahun diluarnegeri itu, ... BERANI secara terbuka bersaing dengan AS disegala bidang!Kedua, apakah benar kontradiksi-pokok masyarakat Rusia 1917 dan Tiongkok 1956 itu adalah kontradiksi antara kapitalis dan buruh??? Padahal masyarakat RUSIA dan Tiongkok ketika itu sesungguhnya belum mencapai masyarakat kapitalis, bahkan di Tiongkok sekarang yang sudah mencapai kemajuan perkeembangan industri begitu dahsyatnya, juga belum merubah menjadi negara industri. Dengan tenaga produksi yang masih sangat terbelakang, dimana mayoritas mutlak penduduk masih PETANI, bagaimana bisa menetapkan kontradiksi pokok Kapitalis >< Buruh??? Menjadi lebih tidak masuk akal, kalau dikatakan begitu antagonisnya SUDAH terjadi saling menegasi KAPITALIS >< BURUH, segi-segi yang bertentangan dalam kesatuan kontradiksi itu! Kenyataan yang terjadi dalam masyarakat Rusia dan TIongkok ketika itu, kapitalis untuk maju dan berkeembang membutuhkan kesertaan Buruh, tidak mungkin berusaha menegasi, meniadakan buruh. Sebaliknya juga, untuk mengembangkan buruh tumbuh lebih besar dan kuat, tidak mungkin menegasi dan meniadakan kapitalis. Kondisi ketika itu, tetap saling mempertahankan kesat (Message over 64 KB, truncated)
