Orang satu ini gobloknya minta ampun dan celakanya dipelihara.

Sudah ditulis sebelumnya yg diomongin adalah pemberian kredit bisa melebihi 
standard yg ditentukan oleh suatu perusahaan.

Ane kasih tahu contoh praktik yg terjadi dinegara ente bahwa banyak pemberian 
kredit ke keluarga yg illegal immigrant melebihi standard DSR yg menjadi 
patokan perusahaan pemberi kredit.

Eh ngelantur kemana2 bilang ane gak suka imigran gelap.

Emangnya ente yg humanis ini pernah nolong illegal immigrant asal Indonesia?

Aduhhhh…kalau ane sudah pernah loh!!!!!!

 

Ya jelas loan officer gak akan nanya yg ambil kredit lah apakah mereka itu 
illegal atau tidak!!!!

Gobloknya minta ampun!!!!

 

Yg terjadi adalah: loan officer approve permintaan kredit yg diajukan oleh 
peminta kredit.

Kalau income nya hanya sedikit misalnya 30%, loan officer approve ngasih 80% 
krn melihat ada bapak ibu nenek kakek ponakan dirumah itu dan juga mau ikut 
tanda tangan dalam ambil mortgage itu tetapi income nya gak bisa di verify krn 
mereka2 ini gak bayar pajak. Jadi DSR yg diikutin tidak bisa jadi patokan krn 
loan officer tahu bahwa keluarga ini bisa bayar lebih.

 

Emangnya sipenerima kredit goblok mau default kalau gak bisa bayar mortgage nya 
itu dari bulan pertama? Ente kan bilang 80% dan hanya tersisa 20% buat makan, 
nonton dan bensin dll. Ini kan asumsi ente yg goblok itu. Ini yg ane bilang 
dari dulu ente itu cupat pikirannya!

 

Lalu dari pihak pemberi kredit, emangnya mereka ini goblok kalau tidak tahu 
bahwa pasti ada income sampingan diluar si penanda tangan!!!! Moso’ loan 
officer nya mau dipecat krn ngasih kredit macet???!!!

 

Ente jelas gak ngerti gimana orang ambil mortgage dinegara ente!!!!

Lah gimana mau gaya2 menganalisa apalagi yg di RI….weleh weleh….??!!!!

 

Nesare

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, October 28, 2016 11:14 AM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: RE: [GELORA45] Perusahaan Publik dan Penghisapan

 

  

 

Anda mengedepankan imigran gelap dengan contoh orang Indonesia dan Latino hal 
itu jelas menunjukkan pandangan anda yg bigot, memangnya anda melihat dengan 
mata curiga setiap orang Indonesia dan Latino sebagai imigran gelap? Status 
keimigrasian seseorang itu tidak ditulis didahi kepala yang bisa dibaca semua 
orang, tidak ada ketentuan utk memerisa immigration document waktu seseorang 
mengajukan mortgage bahkan ada UU anti diskriminasi. Seandainya loan officer 
menanyakan status keimigrasian ke orang2 tertentu hanya karena aksen yg berat 
sementara pada orang lain tidak ditanyakan itu sudah terhitung diskriminasi 
karena national origin.

 

Saya tidak tahu secara tepat kasus DSR 80% yang anda bicarakan, tetapi ada yang 
namanya stated income bagi mereka yang self employed atau usaha sendiri. Apa 
mungkin ini yang anda maksud? Tetapi tetap saja DSR yg diterapkan 43% untuk 
back-end ratio.

 

 

---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <nesare1@... 
<mailto:nesare1@...> > wrote :



Yang ngomong loan officer ngecek dokumen imigrasi itu siapa? Ente ini bisa baca 
ndak?

Ane bilang loan officer memperhitungkan imigran gelap dalam memperhitungkan DSR 
suatu keluarga.

Lah kalau dicek dokumen imigrasinya kan gak boleh dikasih loan nya?

Ente kan bilang DSR 30% - 40%. Ane bilang lebih. Ane kasih contoh kasus imigran 
gelap. Sebetulnya keluarganya hanya punya DSR 80% tapi mortgage loan bisa 
dikasih karena dimasukkan factor imigran gelap ini yg belum tentu bayar pajak 
jadi gak bisa diverifikasi pendapatannya.

Banyak orang Indonesia yang imigran gelap di USA punya rumah dengan cara ini.

Kasihannya kalau mereka curiga ada polisi mau datang, mereka tinggalin saja 
semuanya termasuk perabot rumah yg baru dibeli.

Ini salah satu contohnya. Kalau orang latino lebih seru lagi ceritanya.

 

Minta ampun gobloknya! Orang ngomong apa eh ditanggapi gak keruan2!

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
[mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, October 26, 2016 11:21 AM
To: Yahoogroups <[email protected] <mailto:[email protected]> >
Subject: RE: [GELORA45] Perusahaan Publik dan Penghisapan

 

 

Loan officer sama sekali tidak mengecek immigration documents dan tidak boleh 
men-diskriminasi baik itu race, national origin, sex, sexual orientation, age, 
dlsb. Uraian anda dibawah mencerminkan pandangan bigot nan diskriminatory serta 
pengetahuan yang minim. Yg direview loan officer adalah acceptable proof of 
income. Setelah 2009 saya lihat acceptable proof of income utk individual tax 
return, dan ditambah bank statements utk menunjukkan ada duit bayar down 
payments dan closing cost.

 

---

Loan officer yg tahu ada illegal immigrant walaupun tahu DSR keluarga yg minta 
mortgage itu misalnya 80%, itu tetap dikasih. Kenapa dikasih? Karena loan 
officer itu tahu income yg tercatat tidak akurat dan dia tahu ada income lain 
dari tempat lain misalnya bapak ibu yg  minta kredit itu illegal tapi tidak 
bayar pajak. Anaknya yg minta kredit itu walaupun illegal tetapi bayar pajak 
misalnya. Jadi data ini yg dipakai sbg DSR oleh loan officer. Ente ini gak 
ngerti! Terus cuap2 ke bigot undocumented immigrant lagi?!!! Minta ampun!!!

 

---In  <mailto:[email protected]> [email protected], < 
<mailto:nesare1@...> nesare1@...> wrote :




Jonathan: saya baru saja check FHA requirements, DSR yg diminta 31% utk 
front-end dan 43% back-end. sementara yg non FHA biasanya mensyaratkan lebih 
berat antara 28%-36% front and back-end respectively. 

 

Nesare: Ya silahkan cek apa saja. ngapain ane bingung.

Negara ente, Bolivia, Indonesia, Nigeria, yaman, afganistan berlainan cara 
ambil kredit.

Apa yang ente mau katakan dgn FHA requirements itu?

 

Jonathan: dalam pemberian loan tidak ada persyaratan ataupun pengecekan 
immigration document. apakah anda bigot thd undocumented immigrant? posisi saya 
setuju atas dibukanya path to citizenship. apa posisi anda?

 

Nesare: orang mabuk dan gila ya kaya’ gini ini. Ane ngomong illegal immigrant 
termasuk undocumented immigrant bisa digunakan sbg factor dalam menentukan DSR 
artinya DSR yg diterima oleh kreditur bisa lebih tinggi, eh jebulnya ente 
bilang ane anti illegal immigrant. Minta ampun gobloknya! Orang ngomong apa, 
ente nangkepnya apa. makanya gak nyambung2 dan ane kerap kali goblok2in ente ya 
karena ini.

Loan officer yg tahu ada illegal immigrant walaupun tahu DSR keluarga yg minta 
mortgage itu misalnya 80%, itu tetap dikasih. Kenapa dikasih? Karena loan 
officer itu tahu income yg tercatat tidak akurat dan dia tahu ada income lain 
dari tempat lain misalnya bapak ibu yg  minta kredit itu illegal tapi tidak 
bayar pajak. Anaknya yg minta kredit itu walaupun illegal tetapi bayar pajak 
misalnya. Jadi data ini yg dipakai sbg DSR oleh loan officer. Ente ini gak 
ngerti! Terus cuap2 ke bigot undocumented immigrant lagi?!!! Minta ampun!!!

 

 <https://gist.github.com/heiswayi/dca25e79011bc26d2b32> 
https://gist.github.com/heiswayi/dca25e79011bc26d2b32

ini di Malaysia bisa sampai 62.56%

 

Koq tanya2 ane posisinya apa? emangnya kalau ane pro kenapa? Kalau anti kenapa? 
Sok2an lagi ya?!!! Kalau semua imigran masuk negara ente bisa tenggelam tu 
negara ente dan kalau gak ada rumah tinggal, ente sudah tahu belum pemerintah 
bisa menggusur imigran ini? emangnya ente mau jadi sinterklas? Kalau mau, ayo 
sekarang kerja! Bagi2 duit engkong lu!!!

 

Ini melenceng sedikit krn hanya mau ngingetin orang pinter satu ini:

Tempo hari bilang GDP growth Indonesia minus sudah didiamkan ya?!!!! Sampai ane 
gak mau kasih datanya lagi saking ente itu gobloknya! Ente tahu ndak Indonesia 
itu hanya sekali minus GDP growthnya sejak merdeka? Tahu kenapa alasannya? Di 
tahun 1964 krn dihajar sama negara ente!!!!

 

Jonathan: tentang Indonesia saya nggak tahulah, mungkin anda benar DSR nggak 
dilihat atau nggak diambil pusing.

Nesare: ya jelas diindonesia ente gak ngerti. Wong dinegara ente sendiri, ente 
gak ngerti. Tahunya hanya sikit sikit saja.

 

Pesan sponsor: don’t ever call someone a bigot unless you know its meaning. If 
not and you still do it, means you resort to two tried-and-true tactics 
available to someone on the losing side of an argument: first is to silently 
abandon various critiqued claims, and pretend that you never made them; second 
is to redefine a key concept – entirely distorting it if necessary – such that 
one’s original claims are legitimated. You have done both of them.

 

 

Hehehehe

Nesare

 

From:  <mailto:[email protected]> [email protected] [ 
<mailto:[email protected]> mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, October 25, 2016 9:09 PM
To:  <mailto:[email protected]> [email protected]
Subject: RE: [GELORA45] Perusahaan Publik dan Penghisapan

 

 

 

saya baru saja check FHA requirements, DSR yg diminta 31% utk front-end dan 43% 
back-end. sementara yg non FHA biasanya mensyaratkan lebih berat antara 28%-36% 
front and back-end respectively. 

 

dalam pemberian loan tidak ada persyaratan ataupun pengecekan immigration 
document. apakah anda bigot thd undocumented immigrant?

 

posisi saya setuju atas dibukanya path to citizenship. apa posisi anda?

 

tentang Indonesia saya nggak tahulah, mungkin anda benar DSR nggak dilihat atau 
nggak diambil pusing.

---In  <mailto:[email protected]> [email protected], < 
<mailto:nesare1@...> nesare1@...> wrote :

Ngapain ane kasih advise segala?

Wong sudah dijalankan diindonesia sejak dulu kala. Emangnya ente buta tuli atau 
sudah gila?

Ente pernah tinggal diindonesia enggak?

 

Jangankan kasih kredit.

Diindonesia itu orang kasih kredit malahan gak ada jaminan. Tahu ndak?????

Pernah denger namanya bank garansi ndak?

 

 

Katanya ngerti bisnis. Yg gini2 saja gak ngerti.

 

Sok sokan mau ngomongin USA. Ente tinggal disitu moso’ gak ngerti illegal 
immigrant dikasih kredit tanpa ada data malahan.

Emangnya ente pikir skrg sudah tidak ada lagi praktik ini?

Ngaco aja. Sok tahu. Gak ngerti sok cuap2 gak keruan2.

 

Kenapa gak bilang ane kasih advice ke Fed supaya ngurusin illegal immigrant ini?

Seharusnya ente tuh yg ngurus. Partai ente kan perlu suara mereka2 ini.

 

Jangan dikait2kan ke Indonesia akh…..ngaco aja.

 

Dari dulu Indonesia gak pernah ada aturan2 sehebat negara ente. Tetap saja tuh 
Indonesia masih berdiri!!!!

 

Sok baek nih yeah. Seakan2 baik sama Indonesia, bentar lagi bashing lagi.

 

Nesare

 

 

From:  <mailto:[email protected]> [email protected] [ 
<mailto:[email protected]> mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, October 25, 2016 4:13 PM
To: Yahoogroups < <mailto:[email protected]> [email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] Perusahaan Publik dan Penghisapan

 

 

 

Yg anda sebut dibawah ini yg bikin financial crisis th 2008 yg lalu, lebih 
parah dari yg anda katakan dibikin creative financing yg dalam beberapa th 
pertama debt payments sangat kecil sekali bahkan jauh lebih kecil dari bunga 
dan cilakaknya selisihnya dimasukkan ke pokok. Sekarang sudah dibikin regulasi 
yg melarang praktek seperti ini juga dibentuk Consumer Financial Protection 
Bureau, sayangnya calon presiden Donald Trump bermaksud menghilangkan regulasi2 
itu dan mengeliminasi bureau itu.

 

Apa anda memberi advise agar Indonesia juga mengalami financial crisis?

 

---In  <mailto:[email protected]> [email protected], < 
<mailto:nesare1@...> nesare1@...> wrote :

Yang ngaco yang mana?

Diindonesia itu malah bisa lebih dari 70% kalau lendernya tahu siapa bapaknya, 
kakeknya, neneknya, pembantunya.

Koq ngaco?

 

Di USA itu standar nya 35% - 40% dari pretax income. Jadi lebih besar lagi dari 
gross income dan bisa sampai 50%.

Kalau credit rating nya bagus, bisa saja dikasih sampai 70%.

Ini yg terjadi waktu dulu yg terkenal dgn istilah subprime mortgage.

Malahan pengeluaran loan sub prime mortgage ini bisa dikeluarkan dengan 
memasukkan data palsu dari undocumented artinya imigran gelap bisa dikasih 
mortgage krn pekerjaannya tidak tertera dalam IRS krn gak bayar pajak. Oleh 
lender dikasih krn mereka menganggap illegal immigrant ini punya duit walaupun 
tidak bayar pajak.

 

Apanya yg ngaco??

 

Ente itu pengetahuannya kecil!!!

 

Teriak2 tapi ngaco terus!!!

 

Nesare

 

 

From:  <mailto:[email protected]> [email protected] [ 
<mailto:[email protected]> mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, October 25, 2016 3:32 PM
To: Yahoogroups < <mailto:[email protected]> [email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] Perusahaan Publik dan Penghisapan

 

 

Omongan ngaco, buat orang kebanyakan mana ada debt payment dibanding 
penghasilan (DSR) mencapai 70% itu. ha ha ha. Sebentar saja sudah ngajuin 
bangkrut. 

Biasanya sih berkisar 30%-an, di US umumnya 28% front-end ratio dan 36% 
back-end ratio. Ada perkecualian memang utk mereka yg high-income.

 

---

Begitu juga kalau orang ambil kredit rumah atau mortgage atau hipotek, itu ada 
batasnya dan biasanya batas ini sekian persen dari penghasilannya.

Umumnya 70% adalah standard umumnya.

 

---In  <mailto:[email protected]> [email protected], < 
<mailto:nesare1@...> nesare1@...> wrote :





Hutang itu diberikan krn ada jaminan/collateral.

Kalau hutang gak bisa dibayar itu bukan peminjam saja. itu resiko yg memberikan 
pinjaman. Kenapa kasih pinjaman diatas asset?

Ini gak mungkin dalam bank. Bank ada istilah legal lending limit. Pinjaman 
dipatok sekian persen dari agunan/jaminan yg ada.

Begitu juga kalau orang ambil kredit rumah atau mortgage atau hipotek, itu ada 
batasnya dan biasanya batas ini sekian persen dari penghasilannya.

Umumnya 70% adalah standard umumnya.

 

Seperti yg telah saya tulis sebelumnya PT di Indonesia = corp di USA itu 
membatasi liability terbatas dalam asset saja. dalam balance sheet/neraca itu 
tertera kesehatan suatu perusahaan. Kelihatan assetnya, hutangnya dan sahamnya. 
Gak aneh ada perusahaan yg hutangnya melebihi asset tapi dikasih pinjaman. 
Kreditur yg ngasih hutang dalam situasi ini biasanya adalah venture capitalist 
dimana mengharapkan produk baru yg dihasilkan akan terbang. Ini misalnya 
facebook yg tadinya gak ada penghasilan tetapi orang2 tahu bakalan hebat yg 
dikasih pinjaman. Jadi hutang sudah ada sebelum ada penerimaan yg artinya 
hutang lebih besar dari penerimaan.

 

Salam

Nesare

 

 

From:  <mailto:[email protected]> [email protected] [ 
<mailto:[email protected]> mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, October 25, 2016 10:55 AM
To:  <mailto:[email protected]> [email protected]; nesare1@...
Subject: Re: [GELORA45] Perusahaan Publik dan Penghisapan

 

 

Ooouh, tentu saja tidak ada yang bisa menjamin satu perusahaan itu beruntung 
atau jatuh pailit, ... dalam bisnisnya. Yang jadi masalah dalam bursa saham 
terjadi gerak semu, seperti perusahaan itu sedang maju beruntung dan menaikkan 
nilai sahamnya, tapi sesungguhnya sedang dalam krisis. Bukankah gejala-gejala 
macam ini yang mestinya dicegah, ...

 

Yaa, ... kapitalis yang kabur itu bukan dipasar bursa saham tentunya, tapi 
dalam pengertian meninggalkan perusahaannya dengan segunung hutang-hutangnya, 
termasuk upah karyuawan/buruh nya, ... itu yang ternyata buuaanyak terjadi di 
Tiongkok, khususnya saat diterpa krismon 2008.

 

Salam,

ChanCT

 

 

From:  <mailto:nesare1@...> nesare1@... [GELORA45]

Sent: Tuesday, October 25, 2016 9:49 PM

To:  <mailto:[email protected]> [email protected]

Subject: RE: [GELORA45] Perusahaan Publik dan Penghisapan

 







Chan: Kalau ternyata perusahaan itu sudah dalam keadaan kritis dan sahamnya 
harusnya sudah JATUH drastis, kan yang dirugikan publik? Sedang si kapitalis 
bisa saja kabur setelah penjualan saham masuk kantongnya, ...

Nesare: sori yg ini ketinggalan dan pertanyaan ini penting sekali. Kalau 
bisnis/perusahaan jatuh, untung, setengah mati, setengah hidup itu normal. 
Begitulah memang jalannya suatu perusahaan. Sebagai suatu badan hokum, 
perusahaan ini sesuai dan mentaati hokum dagang dinegaranya. Kalau pailit 
misalnya ya semua harus ikut hokum pailit/bankruptcy law negara masing2. Di 
inodnesia PT itu = Corp di USA artinya liabilities dibatasi dalam perusahaan 
artinya hutang2 perusahaan tidak dapat ditransfer ke harta pribadi pemilik. 
Berbeda dgn Firma, CV dan tanpa bentuk yg adalah peninggalan belanda yg harta 
individu bisa dilibatkan dalam likwidasi/pailit itu. Makanya jangan heran 
diindonesia banyak orang ribut sampai bunuh2an krn masalah hutang 
perusahaan/bisnis. Pelaksanaan hokum dagang di Indonesia belum kuat. Begitu 
juga bankruptcy law itu baru merangkak sekarang ini. lawyer yg berkecimpung 
dalam bidang ini miskin biasanya:(. Kalau dinegara maju wah kaya2.

 

Tentang kapitalis yg bisa kabur itu, ya semua pemiliknya kapitalis. Si Amir yg 
hanya punya 1 saham PT. Bank Mandiri Tbk misalnya itu artinya si Amir adalah 
kapitalis krn menggunakan duitnya sbg kapit utk beli saham. Begitu juga mereka 
yg punya saham2 yg banyak termasuk pemerintah itu semuanya adalah kapitalis krn 
sdh menimbung duit.

 

Jadi gak ada yg bisa menjamin suatu perusahaan untung, rugi dll termasuk 
pemerintah. Begitu juga saham mau jatuh, naik, stabil itu juga gak ada yg 
tahu….oh sori kalau ini hanya 1 orang yg tahu, namanya jonathan. Jadi bung 
boleh tanya dia gimana bikin suatu saham naik atau turun. Kalau saya tidak 
bisa. Kalau ada yg bisa wah….enak sekali….pasti semua orang kaya. Tapi kalau 
semua orang kaya, siapa yg miskin?!

 

Istilah kapitalis kabur itu gak ada. Yg ada adalah para shareholders/pemegang 
saham itu bisa keluar dan masuk ke pasar mendapatkan keuntungan atau kerugian. 
Ini konteks public company. Kalau sikapitalis lari krn berbuat diluar hokum, 
itu urusanny

(Message over 64 KB, truncated)



Kirim email ke