Jonathan: saya baru saja check FHA requirements, DSR yg diminta 31% utk 
front-end dan 43% back-end. sementara yg non FHA biasanya mensyaratkan lebih 
berat antara 28%-36% front and back-end respectively. 

 

Nesare: Ya silahkan cek apa saja. ngapain ane bingung.

Negara ente, Bolivia, Indonesia, Nigeria, yaman, afganistan berlainan cara 
ambil kredit.

Apa yang ente mau katakan dgn FHA requirements itu?

 

Jonathan: dalam pemberian loan tidak ada persyaratan ataupun pengecekan 
immigration document. apakah anda bigot thd undocumented immigrant? posisi saya 
setuju atas dibukanya path to citizenship. apa posisi anda?

 

Nesare: orang mabuk dan gila ya kaya’ gini ini. Ane ngomong illegal immigrant 
termasuk undocumented immigrant bisa digunakan sbg factor dalam menentukan DSR 
artinya DSR yg diterima oleh kreditur bisa lebih tinggi, eh jebulnya ente 
bilang ane anti illegal immigrant. Minta ampun gobloknya! Orang ngomong apa, 
ente nangkepnya apa. makanya gak nyambung2 dan ane kerap kali goblok2in ente ya 
karena ini.

Loan officer yg tahu ada illegal immigrant walaupun tahu DSR keluarga yg minta 
mortgage itu misalnya 80%, itu tetap dikasih. Kenapa dikasih? Karena loan 
officer itu tahu income yg tercatat tidak akurat dan dia tahu ada income lain 
dari tempat lain misalnya bapak ibu yg  minta kredit itu illegal tapi tidak 
bayar pajak. Anaknya yg minta kredit itu walaupun illegal tetapi bayar pajak 
misalnya. Jadi data ini yg dipakai sbg DSR oleh loan officer. Ente ini gak 
ngerti! Terus cuap2 ke bigot undocumented immigrant lagi?!!! Minta ampun!!! 

 

https://gist.github.com/heiswayi/dca25e79011bc26d2b32

ini di Malaysia bisa sampai 62.56%

 

Koq tanya2 ane posisinya apa? emangnya kalau ane pro kenapa? Kalau anti kenapa? 
Sok2an lagi ya?!!! Kalau semua imigran masuk negara ente bisa tenggelam tu 
negara ente dan kalau gak ada rumah tinggal, ente sudah tahu belum pemerintah 
bisa menggusur imigran ini? emangnya ente mau jadi sinterklas? Kalau mau, ayo 
sekarang kerja! Bagi2 duit engkong lu!!!

 

Ini melenceng sedikit krn hanya mau ngingetin orang pinter satu ini:

Tempo hari bilang GDP growth Indonesia minus sudah didiamkan ya?!!!! Sampai ane 
gak mau kasih datanya lagi saking ente itu gobloknya! Ente tahu ndak Indonesia 
itu hanya sekali minus GDP growthnya sejak merdeka? Tahu kenapa alasannya? Di 
tahun 1964 krn dihajar sama negara ente!!!!

 

Jonathan: tentang Indonesia saya nggak tahulah, mungkin anda benar DSR nggak 
dilihat atau nggak diambil pusing.

Nesare: ya jelas diindonesia ente gak ngerti. Wong dinegara ente sendiri, ente 
gak ngerti. Tahunya hanya sikit sikit saja.

 

Pesan sponsor: don’t ever call someone a bigot unless you know its meaning. If 
not and you still do it, means you resort to two tried-and-true tactics 
available to someone on the losing side of an argument: first is to silently 
abandon various critiqued claims, and pretend that you never made them; second 
is to redefine a key concept – entirely distorting it if necessary – such that 
one’s original claims are legitimated. You have done both of them.

 

 

Hehehehe

Nesare

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, October 25, 2016 9:09 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [GELORA45] Perusahaan Publik dan Penghisapan

 

  

 

saya baru saja check FHA requirements, DSR yg diminta 31% utk front-end dan 43% 
back-end. sementara yg non FHA biasanya mensyaratkan lebih berat antara 28%-36% 
front and back-end respectively. 

 

dalam pemberian loan tidak ada persyaratan ataupun pengecekan immigration 
document. apakah anda bigot thd undocumented immigrant?

 

posisi saya setuju atas dibukanya path to citizenship. apa posisi anda?

 

tentang Indonesia saya nggak tahulah, mungkin anda benar DSR nggak dilihat atau 
nggak diambil pusing.

---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <nesare1@... 
<mailto:nesare1@...> > wrote :

Ngapain ane kasih advise segala?

Wong sudah dijalankan diindonesia sejak dulu kala. Emangnya ente buta tuli atau 
sudah gila?

Ente pernah tinggal diindonesia enggak?

 

Jangankan kasih kredit.

Diindonesia itu orang kasih kredit malahan gak ada jaminan. Tahu ndak?????

Pernah denger namanya bank garansi ndak?

 

 

Katanya ngerti bisnis. Yg gini2 saja gak ngerti.

 

Sok sokan mau ngomongin USA. Ente tinggal disitu moso’ gak ngerti illegal 
immigrant dikasih kredit tanpa ada data malahan.

Emangnya ente pikir skrg sudah tidak ada lagi praktik ini?

Ngaco aja. Sok tahu. Gak ngerti sok cuap2 gak keruan2.

 

Kenapa gak bilang ane kasih advice ke Fed supaya ngurusin illegal immigrant ini?

Seharusnya ente tuh yg ngurus. Partai ente kan perlu suara mereka2 ini.

 

Jangan dikait2kan ke Indonesia akh…..ngaco aja.

 

Dari dulu Indonesia gak pernah ada aturan2 sehebat negara ente. Tetap saja tuh 
Indonesia masih berdiri!!!!

 

Sok baek nih yeah. Seakan2 baik sama Indonesia, bentar lagi bashing lagi.

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
[mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, October 25, 2016 4:13 PM
To: Yahoogroups <[email protected] <mailto:[email protected]> >
Subject: Re: [GELORA45] Perusahaan Publik dan Penghisapan

 

 

 

Yg anda sebut dibawah ini yg bikin financial crisis th 2008 yg lalu, lebih 
parah dari yg anda katakan dibikin creative financing yg dalam beberapa th 
pertama debt payments sangat kecil sekali bahkan jauh lebih kecil dari bunga 
dan cilakaknya selisihnya dimasukkan ke pokok. Sekarang sudah dibikin regulasi 
yg melarang praktek seperti ini juga dibentuk Consumer Financial Protection 
Bureau, sayangnya calon presiden Donald Trump bermaksud menghilangkan regulasi2 
itu dan mengeliminasi bureau itu.

 

Apa anda memberi advise agar Indonesia juga mengalami financial crisis?

 

---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <nesare1@... 
<mailto:nesare1@...> > wrote :

Yang ngaco yang mana?

Diindonesia itu malah bisa lebih dari 70% kalau lendernya tahu siapa bapaknya, 
kakeknya, neneknya, pembantunya.

Koq ngaco?

 

Di USA itu standar nya 35% - 40% dari pretax income. Jadi lebih besar lagi dari 
gross income dan bisa sampai 50%.

Kalau credit rating nya bagus, bisa saja dikasih sampai 70%.

Ini yg terjadi waktu dulu yg terkenal dgn istilah subprime mortgage.

Malahan pengeluaran loan sub prime mortgage ini bisa dikeluarkan dengan 
memasukkan data palsu dari undocumented artinya imigran gelap bisa dikasih 
mortgage krn pekerjaannya tidak tertera dalam IRS krn gak bayar pajak. Oleh 
lender dikasih krn mereka menganggap illegal immigrant ini punya duit walaupun 
tidak bayar pajak.

 

Apanya yg ngaco??

 

Ente itu pengetahuannya kecil!!!

 

Teriak2 tapi ngaco terus!!!

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
[mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, October 25, 2016 3:32 PM
To: Yahoogroups <[email protected] <mailto:[email protected]> >
Subject: Re: [GELORA45] Perusahaan Publik dan Penghisapan

 

 

Omongan ngaco, buat orang kebanyakan mana ada debt payment dibanding 
penghasilan (DSR) mencapai 70% itu. ha ha ha. Sebentar saja sudah ngajuin 
bangkrut. 

Biasanya sih berkisar 30%-an, di US umumnya 28% front-end ratio dan 36% 
back-end ratio. Ada perkecualian memang utk mereka yg high-income.

 

---

Begitu juga kalau orang ambil kredit rumah atau mortgage atau hipotek, itu ada 
batasnya dan biasanya batas ini sekian persen dari penghasilannya.

Umumnya 70% adalah standard umumnya.

 

---In  <mailto:[email protected]> [email protected], < 
<mailto:nesare1@...> nesare1@...> wrote :



Hutang itu diberikan krn ada jaminan/collateral.

Kalau hutang gak bisa dibayar itu bukan peminjam saja. itu resiko yg memberikan 
pinjaman. Kenapa kasih pinjaman diatas asset?

Ini gak mungkin dalam bank. Bank ada istilah legal lending limit. Pinjaman 
dipatok sekian persen dari agunan/jaminan yg ada.

Begitu juga kalau orang ambil kredit rumah atau mortgage atau hipotek, itu ada 
batasnya dan biasanya batas ini sekian persen dari penghasilannya.

Umumnya 70% adalah standard umumnya.

 

Seperti yg telah saya tulis sebelumnya PT di Indonesia = corp di USA itu 
membatasi liability terbatas dalam asset saja. dalam balance sheet/neraca itu 
tertera kesehatan suatu perusahaan. Kelihatan assetnya, hutangnya dan sahamnya. 
Gak aneh ada perusahaan yg hutangnya melebihi asset tapi dikasih pinjaman. 
Kreditur yg ngasih hutang dalam situasi ini biasanya adalah venture capitalist 
dimana mengharapkan produk baru yg dihasilkan akan terbang. Ini misalnya 
facebook yg tadinya gak ada penghasilan tetapi orang2 tahu bakalan hebat yg 
dikasih pinjaman. Jadi hutang sudah ada sebelum ada penerimaan yg artinya 
hutang lebih besar dari penerimaan.

 

Salam

Nesare

 

 

From:  <mailto:[email protected]> [email protected] [ 
<mailto:[email protected]> mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, October 25, 2016 10:55 AM
To:  <mailto:[email protected]> [email protected]; nesare1@...
Subject: Re: [GELORA45] Perusahaan Publik dan Penghisapan

 

 

Ooouh, tentu saja tidak ada yang bisa menjamin satu perusahaan itu beruntung 
atau jatuh pailit, ... dalam bisnisnya. Yang jadi masalah dalam bursa saham 
terjadi gerak semu, seperti perusahaan itu sedang maju beruntung dan menaikkan 
nilai sahamnya, tapi sesungguhnya sedang dalam krisis. Bukankah gejala-gejala 
macam ini yang mestinya dicegah, ...

 

Yaa, ... kapitalis yang kabur itu bukan dipasar bursa saham tentunya, tapi 
dalam pengertian meninggalkan perusahaannya dengan segunung hutang-hutangnya, 
termasuk upah karyuawan/buruh nya, ... itu yang ternyata buuaanyak terjadi di 
Tiongkok, khususnya saat diterpa krismon 2008.

 

Salam,

ChanCT

 

 

From:  <mailto:nesare1@...> nesare1@... [GELORA45]

Sent: Tuesday, October 25, 2016 9:49 PM

To:  <mailto:[email protected]> [email protected]

Subject: RE: [GELORA45] Perusahaan Publik dan Penghisapan

 







Chan: Kalau ternyata perusahaan itu sudah dalam keadaan kritis dan sahamnya 
harusnya sudah JATUH drastis, kan yang dirugikan publik? Sedang si kapitalis 
bisa saja kabur setelah penjualan saham masuk kantongnya, ...

Nesare: sori yg ini ketinggalan dan pertanyaan ini penting sekali. Kalau 
bisnis/perusahaan jatuh, untung, setengah mati, setengah hidup itu normal. 
Begitulah memang jalannya suatu perusahaan. Sebagai suatu badan hokum, 
perusahaan ini sesuai dan mentaati hokum dagang dinegaranya. Kalau pailit 
misalnya ya semua harus ikut hokum pailit/bankruptcy law negara masing2. Di 
inodnesia PT itu = Corp di USA artinya liabilities dibatasi dalam perusahaan 
artinya hutang2 perusahaan tidak dapat ditransfer ke harta pribadi pemilik. 
Berbeda dgn Firma, CV dan tanpa bentuk yg adalah peninggalan belanda yg harta 
individu bisa dilibatkan dalam likwidasi/pailit itu. Makanya jangan heran 
diindonesia banyak orang ribut sampai bunuh2an krn masalah hutang 
perusahaan/bisnis. Pelaksanaan hokum dagang di Indonesia belum kuat. Begitu 
juga bankruptcy law itu baru merangkak sekarang ini. lawyer yg berkecimpung 
dalam bidang ini miskin biasanya:(. Kalau dinegara maju wah kaya2.

 

Tentang kapitalis yg bisa kabur itu, ya semua pemiliknya kapitalis. Si Amir yg 
hanya punya 1 saham PT. Bank Mandiri Tbk misalnya itu artinya si Amir adalah 
kapitalis krn menggunakan duitnya sbg kapit utk beli saham. Begitu juga mereka 
yg punya saham2 yg banyak termasuk pemerintah itu semuanya adalah kapitalis krn 
sdh menimbung duit.

 

Jadi gak ada yg bisa menjamin suatu perusahaan untung, rugi dll termasuk 
pemerintah. Begitu juga saham mau jatuh, naik, stabil itu juga gak ada yg 
tahu….oh sori kalau ini hanya 1 orang yg tahu, namanya jonathan. Jadi bung 
boleh tanya dia gimana bikin suatu saham naik atau turun. Kalau saya tidak 
bisa. Kalau ada yg bisa wah….enak sekali….pasti semua orang kaya. Tapi kalau 
semua orang kaya, siapa yg miskin?!

 

Istilah kapitalis kabur itu gak ada. Yg ada adalah para shareholders/pemegang 
saham itu bisa keluar dan masuk ke pasar mendapatkan keuntungan atau kerugian. 
Ini konteks public company. Kalau sikapitalis lari krn berbuat diluar hokum, 
itu urusannya hokum dan bukan persoalan kepemilikan saham lagi.

 

Salam

Nesare

 

 

From:  <mailto:[email protected]> [email protected] [ 
<mailto:[email protected]> mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, October 25, 2016 9:27 AM
To:  <mailto:[email protected]> [email protected];  
<mailto:nesare1@...> nesare1@...
Subject: Re: [GELORA45] Perusahaan Publik dan Penghisapan

 

 

OK, sementara sekian saja dahulu, ... biar saya bisa cernakan 
pengertian-pengertian yang telah diberikan ini.

 

Sekali lagi banyak terimakasih, ...!

 

Salam,

ChanCT

 

 

From:  <mailto:nesare1@...> nesare1@... [GELORA45]

Sent: Tuesday, October 25, 2016 9:15 PM

To:  <mailto:[email protected]> [email protected]

Subject: RE: [GELORA45] Perusahaan Publik dan Penghisapan

 

 

Chan: seandainya saja diperkenankan 80% saham perusahaan kapitalis itu dilepas 
kepublik, bagaimana pengontrolan Pemerintah, agar saham perusahaan itu 
benar-benar mempunyai nilai segitu? Kalau ternyata perusahaan itu sudah dalam 
keadaan kritis dan sahamnya harusnya sudah JATUH drastis, kan yang dirugikan 
publik? Sedang si kapitalis bisa saja kabur setelah penjualan saham masuk 
kantongnya, ...

Nesare: skenarionya yg bisa terjadi:

1.     20% pemilik asal swasta, 80% public dan pemerintah sbg regulator.

2.     20% BUMN, public 80% dan pemerintah sbg regulator.

Dari kedua scenario ini pemerintah sbg regulator hanyalah bisa mengatur 
perangkat hokum dalam arti bikin peraturan hokum dll utk mengontrol business 
practice. Umumnya ini kekuasaan eksekutif. Legislative bikin undang2 nya dan 
judikatif bagian pengadilannya. Jadi eksekutif dibawah presiden yg ngatur 
masalah regulasi ini.

Masalah bagaimana perusahaan dijalankan itu bukan hak pemerintah. itu hak dan 
tanggung jawab perusahaan itu masing2.

Dalam skenarion kedua dimana pemerintah adalah pemilik mayoritas BUMN menjadi 
lain krn pemerintah adalah pemilik BUMN. Jadi status sbg pemilik dan sbg 
regulator itu saling tindih menindih. Seharusnya kalau profesionalisme berjalan 
dgn baik, hubungan BUMN sbg perusahaan dgn pemerintah sbg pemilik dan 
pemerintah sbg regulator bisa berjalan, tetapi dalam kasus diindonesia 
profesionalisme belum berjalan dgn baik. Ditambah dgn korupnya para pejabat 
birokirat yg menjalankan BUMN itu bikin pemerintah sbg pemilik harus bertindak 
lain. Penjualan BUMN ini salah satunya adalah karena masalah ini. tentunya 
diluar pemerintah perlu duit dari public. Tetapi masalah utamanya bukan cari 
duit. Duit bisa diperoleh kalau BUMN nya berjalan dgn baik. BUMN untungpun, 
dengan adanya korupsi keuntungan itu larinya ke pejabat birokrat bukan masuk 
kantung pemerintah.

Untuk mengatur supaya perusahaan tidak rugi itu bukan wewenang pemerintah 
melainkan perusahaan itu sendiri.

Masalah seberapa persentase kepemilikan atas suatu perusahaan pun itu adalah 
wewenang perusahaan bukan pemerintah. tentunya dalam kasus BUMN, pemerintah 
dapat mengintervensi jalannya BUMN sbg pemilik tetapi bukan sbg regulator.

Jadi sekali lagi mati hidupnya suatu perusahaan termasuk BUMN itu adalah 
tanggung jawab perusahaan bukan pemerintah. Artinya peralihan kepemilikan dari 
0% s/d 100% itu bisa terjadi dan adalah keputusan perusahaan bukan pemerintah.

Nesare

From:  <mailto:[email protected]> [email protected] [ 
<mailto:[email protected]> mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, October 25, 2016 8:33 AM
To:  <mailto:[email protected]> [email protected];  
<mailto:nesare1@...> nesare1@...
Subject: Re: [GELORA45] Perusahaan Publik dan Penghisapan

 

Terimakasih bung Nesare, pencerahan yang diberikan sehubungan perubsahaan 
publik dan penghisapan kali ini, ... bisa di mengerti. Tapi, kalau lain kali 
timbul penangkapan saya miring jangan segan-segan diluruskan lagi, ya!

Hanya saja, masih ada pertanyaan dalam benak saya, seandainya saja 
diperkenankan 80% saham perusahaan kapitalis itu dilepas kepublik, bagaimana 
pengontrolan Pemerintah, agar saham perusahaan itu benar-benar mempunyai nilai 
segitu? Kalau ternyata perusahaan itu sudah dalam keadaan kritis dan sahamnya 
harusnya sudah JATUH drastis, kan yang dirugikan publik? Sedang si kapitalis 
bisa saja kabur setelah penjualan saham masuk kantongnya, ...

Salam,

ChanCT

From:  <mailto:nesare1@...> nesare1@... [GELORA45]

Sent: Tuesday, October 25, 2016 7:10 PM

To:  <mailto:[email protected]> [email protected]

Subject: RE: [GELORA45] Re: {URECA_SGT} Re: Sie Tik ==> Kontradiksi









Chan: Bukankah dengan demikian bisa dikatakan “PERUSHAAN PUBLIK” itu terjadi 
hambar penghisapan manusia atas manusia, SETIDAK nya bisa dikatakan tidak 
sekejam perusahaan kapitalis perseorangan, karena BAGIAN keuntungan dari 30% 
dari saham perusahaan yang sudah dilepas ke publik itu tidak masuk kantong 
kapitalis perseorangan lagi, ... dimana nilai lebih hasil kerja karyawan/buruh 
bisa dikatakan sepenuhnya dihisap si kapitalis itu sendiri saja!

Nesare: sekali lagi yg bisa menghambarkan penghisapan itu adalah orangnya bukan 
isme nya. Mau isme apapun kalau orangnya gak bener ya tetap akan ada 
penghisapan. Begitupun sebaliknya. Saya kasih contoh adanya peralihan 
kepemilikan dari 1 pemilik ke public itu boleh2 saja bung artikan sbg mengha

(Message over 64 KB, truncated)



Kirim email ke