Loan officer sama sekali tidak mengecek immigration documents dan tidak boleh 
men-diskriminasi baik itu race, national origin, sex, sexual orientation, age, 
dlsb. Uraian anda dibawah mencerminkan pandangan bigot nan diskriminatory serta 
pengetahuan yang minim. Yg direview loan officer adalah acceptable proof of 
income. Setelah 2009 saya lihat acceptable proof of income utk individual tax 
return, dan ditambah bank statements utk menunjukkan ada duit bayar down 
payments dan closing cost.
---Loan officer yg tahu ada illegal immigrant walaupun tahu DSR keluarga yg 
minta mortgage itu misalnya 80%, itu tetap dikasih. Kenapa dikasih? Karena loan 
officer itu tahu income yg tercatat tidak akurat dan dia tahu ada income lain 
dari tempat lain misalnya bapak ibu yg  minta kredit itu illegal tapi tidak 
bayar pajak. Anaknya yg minta kredit itu walaupun illegal tetapi bayar pajak 
misalnya. Jadi data ini yg dipakai sbg DSR oleh loan officer. Ente ini gak 
ngerti! Terus cuap2 ke bigot undocumented immigrant lagi?!!! Minta ampun!!!

---In [email protected], <nesare1@...> wrote :

Jonathan: saya baru saja check FHA requirements, DSR yg diminta 31% utk 
front-end dan 43% back-end. sementara yg non FHA biasanya mensyaratkan lebih 
berat antara 28%-36% front and back-end respectively.  Nesare: Ya silahkan cek 
apa saja. ngapain ane bingung.Negara ente, Bolivia, Indonesia, Nigeria, yaman, 
afganistan berlainan cara ambil kredit.Apa yang ente mau katakan dgn FHA 
requirements itu? Jonathan: dalam pemberian loan tidak ada persyaratan ataupun 
pengecekan immigration document. apakah anda bigot thd undocumented immigrant? 
posisi saya setuju atas dibukanya path to citizenship. apa posisi anda? Nesare: 
orang mabuk dan gila ya kaya’ gini ini. Ane ngomong illegal immigrant termasuk 
undocumented immigrant bisa digunakan sbg factor dalam menentukan DSR artinya 
DSR yg diterima oleh kreditur bisa lebih tinggi, eh jebulnya ente bilang ane 
anti illegal immigrant. Minta ampun gobloknya! Orang ngomong apa, ente 
nangkepnya apa. makanya gak nyambung2 dan ane kerap kali goblok2in ente ya 
karena ini.Loan officer yg tahu ada illegal immigrant walaupun tahu DSR 
keluarga yg minta mortgage itu misalnya 80%, itu tetap dikasih. Kenapa dikasih? 
Karena loan officer itu tahu income yg tercatat tidak akurat dan dia tahu ada 
income lain dari tempat lain misalnya bapak ibu yg  minta kredit itu illegal 
tapi tidak bayar pajak. Anaknya yg minta kredit itu walaupun illegal tetapi 
bayar pajak misalnya. Jadi data ini yg dipakai sbg DSR oleh loan officer. Ente 
ini gak ngerti! Terus cuap2 ke bigot undocumented immigrant lagi?!!! Minta 
ampun!!! https://gist.github.com/heiswayi/dca25e79011bc26d2b32ini di Malaysia 
bisa sampai 62.56% Koq tanya2 ane posisinya apa? emangnya kalau ane pro kenapa? 
Kalau anti kenapa? Sok2an lagi ya?!!! Kalau semua imigran masuk negara ente 
bisa tenggelam tu negara ente dan kalau gak ada rumah tinggal, ente sudah tahu 
belum pemerintah bisa menggusur imigran ini? emangnya ente mau jadi sinterklas? 
Kalau mau, ayo sekarang kerja! Bagi2 duit engkong lu!!! Ini melenceng sedikit 
krn hanya mau ngingetin orang pinter satu ini:Tempo hari bilang GDP growth 
Indonesia minus sudah didiamkan ya?!!!! Sampai ane gak mau kasih datanya lagi 
saking ente itu gobloknya! Ente tahu ndak Indonesia itu hanya sekali minus GDP 
growthnya sejak merdeka? Tahu kenapa alasannya? Di tahun 1964 krn dihajar sama 
negara ente!!!! Jonathan: tentang Indonesia saya nggak tahulah, mungkin anda 
benar DSR nggak dilihat atau nggak diambil pusing.Nesare: ya jelas diindonesia 
ente gak ngerti. Wong dinegara ente sendiri, ente gak ngerti. Tahunya hanya 
sikit sikit saja. Pesan sponsor: don’t ever call someone a bigot unless you 
know its meaning. If not and you still do it, means you resort to two 
tried-and-true tactics available to someone on the losing side of an argument: 
first is to silently abandon various critiqued claims, and pretend that you 
never made them; second is to redefine a key concept – entirely distorting it 
if necessary – such that one’s original claims are legitimated. You have done 
both of them.  HeheheheNesare From: [email protected] 
[mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, October 25, 2016 9:09 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [GELORA45] Perusahaan Publik dan Penghisapan   saya baru saja 
check FHA requirements, DSR yg diminta 31% utk front-end dan 43% back-end. 
sementara yg non FHA biasanya mensyaratkan lebih berat antara 28%-36% front and 
back-end respectively.  dalam pemberian loan tidak ada persyaratan ataupun 
pengecekan immigration document. apakah anda bigot thd undocumented immigrant? 
posisi saya setuju atas dibukanya path to citizenship. apa posisi anda? tentang 
Indonesia saya nggak tahulah, mungkin anda benar DSR nggak dilihat atau nggak 
diambil pusing.

---In [email protected], <nesare1@...> wrote :Ngapain ane kasih advise 
segala?Wong sudah dijalankan diindonesia sejak dulu kala. Emangnya ente buta 
tuli atau sudah gila?Ente pernah tinggal diindonesia enggak? Jangankan kasih 
kredit.Diindonesia itu orang kasih kredit malahan gak ada jaminan. Tahu 
ndak?????Pernah denger namanya bank garansi ndak?  Katanya ngerti bisnis. Yg 
gini2 saja gak ngerti. Sok sokan mau ngomongin USA. Ente tinggal disitu moso’ 
gak ngerti illegal immigrant dikasih kredit tanpa ada data malahan.Emangnya 
ente pikir skrg sudah tidak ada lagi praktik ini?Ngaco aja. Sok tahu. Gak 
ngerti sok cuap2 gak keruan2. Kenapa gak bilang ane kasih advice ke Fed supaya 
ngurusin illegal immigrant ini?Seharusnya ente tuh yg ngurus. Partai ente kan 
perlu suara mereka2 ini. Jangan dikait2kan ke Indonesia akh…..ngaco aja. Dari 
dulu Indonesia gak pernah ada aturan2 sehebat negara ente. Tetap saja tuh 
Indonesia masih berdiri!!!! Sok baek nih yeah. Seakan2 baik sama Indonesia, 
bentar lagi bashing lagi. Nesare  From: [email protected] 
[mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, October 25, 2016 4:13 PM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] Perusahaan Publik dan Penghisapan   Yg anda sebut 
dibawah ini yg bikin financial crisis th 2008 yg lalu, lebih parah dari yg anda 
katakan dibikin creative financing yg dalam beberapa th pertama debt payments 
sangat kecil sekali bahkan jauh lebih kecil dari bunga dan cilakaknya 
selisihnya dimasukkan ke pokok. Sekarang sudah dibikin regulasi yg melarang 
praktek seperti ini juga dibentuk Consumer Financial Protection Bureau, 
sayangnya calon presiden Donald Trump bermaksud menghilangkan regulasi2 itu dan 
mengeliminasi bureau itu. Apa anda memberi advise agar Indonesia juga mengalami 
financial crisis? ---In [email protected], <nesare1@...> wrote :Yang 
ngaco yang mana?Diindonesia itu malah bisa lebih dari 70% kalau lendernya tahu 
siapa bapaknya, kakeknya, neneknya, pembantunya.Koq ngaco? Di USA itu standar 
nya 35% - 40% dari pretax income. Jadi lebih besar lagi dari gross income dan 
bisa sampai 50%.Kalau credit rating nya bagus, bisa saja dikasih sampai 70%.Ini 
yg terjadi waktu dulu yg terkenal dgn istilah subprime mortgage.Malahan 
pengeluaran loan sub prime mortgage ini bisa dikeluarkan dengan memasukkan data 
palsu dari undocumented artinya imigran gelap bisa dikasih mortgage krn 
pekerjaannya tidak tertera dalam IRS krn gak bayar pajak. Oleh lender dikasih 
krn mereka menganggap illegal immigrant ini punya duit walaupun tidak bayar 
pajak. Apanya yg ngaco?? Ente itu pengetahuannya kecil!!! Teriak2 tapi ngaco 
terus!!! Nesare  From: [email protected] 
[mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, October 25, 2016 3:32 PM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] Perusahaan Publik dan Penghisapan  Omongan ngaco, buat 
orang kebanyakan mana ada debt payment dibanding penghasilan (DSR) mencapai 70% 
itu. ha ha ha. Sebentar saja sudah ngajuin bangkrut. Biasanya sih berkisar 
30%-an, di US umumnya 28% front-end ratio dan 36% back-end ratio. Ada 
perkecualian memang utk mereka yg high-income. ---Begitu juga kalau orang ambil 
kredit rumah atau mortgage atau hipotek, itu ada batasnya dan biasanya batas 
ini sekian persen dari penghasilannya.Umumnya 70% adalah standard umumnya. 
---In [email protected], <nesare1@...> wrote :

Hutang itu diberikan krn ada jaminan/collateral.Kalau hutang gak bisa dibayar 
itu bukan peminjam saja. itu resiko yg memberikan pinjaman. Kenapa kasih 
pinjaman diatas asset?Ini gak mungkin dalam bank. Bank ada istilah legal 
lending limit. Pinjaman dipatok sekian persen dari agunan/jaminan yg ada.Begitu 
juga kalau orang ambil kredit rumah atau mortgage atau hipotek, itu ada 
batasnya dan biasanya batas ini sekian persen dari penghasilannya.Umumnya 70% 
adalah standard umumnya. Seperti yg telah saya tulis sebelumnya PT di Indonesia 
= corp di USA itu membatasi liability terbatas dalam asset saja. dalam balance 
sheet/neraca itu tertera kesehatan suatu perusahaan. Kelihatan assetnya, 
hutangnya dan sahamnya. Gak aneh ada perusahaan yg hutangnya melebihi asset 
tapi dikasih pinjaman. Kreditur yg ngasih hutang dalam situasi ini biasanya 
adalah venture capitalist dimana mengharapkan produk baru yg dihasilkan akan 
terbang. Ini misalnya facebook yg tadinya gak ada penghasilan tetapi orang2 
tahu bakalan hebat yg dikasih pinjaman. Jadi hutang sudah ada sebelum ada 
penerimaan yg artinya hutang lebih besar dari penerimaan. SalamNesare  From: 
[email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, October 25, 2016 10:55 AM
To: [email protected]; nesare1@...
Subject: Re: [GELORA45] Perusahaan Publik dan Penghisapan  Ooouh, tentu saja 
tidak ada yang bisa menjamin satu perusahaan itu beruntung atau jatuh pailit, 
... dalam bisnisnya. Yang jadi masalah dalam bursa saham terjadi gerak semu, 
seperti perusahaan itu sedang maju beruntung dan menaikkan nilai sahamnya, tapi 
sesungguhnya sedang dalam krisis. Bukankah gejala-gejala macam ini yang 
mestinya dicegah, ... Yaa, ... kapitalis yang kabur itu bukan dipasar bursa 
saham tentunya, tapi dalam pengertian meninggalkan perusahaannya dengan 
segunung hutang-hutangnya, termasuk upah karyuawan/buruh nya, ... itu yang 
ternyata buuaanyak terjadi di Tiongkok, khususnya saat diterpa krismon 2008. 
Salam,ChanCT  From: nesare1@... [GELORA45]Sent: Tuesday, October 25, 2016 9:49 
PMTo: [email protected]: RE: [GELORA45] Perusahaan Publik dan 
Penghisapan 



Chan: Kalau ternyata perusahaan itu sudah dalam keadaan kritis dan sahamnya 
harusnya sudah JATUH drastis, kan yang dirugikan publik? Sedang si kapitalis 
bisa saja kabur setelah penjualan saham masuk kantongnya, ...Nesare: sori yg 
ini ketinggalan dan pertanyaan ini penting sekali. Kalau bisnis/perusahaan 
jatuh, untung, setengah mati, setengah hidup itu normal. Begitulah memang 
jalannya suatu perusahaan. Sebagai suatu badan hokum, perusahaan ini sesuai dan 
mentaati hokum dagang dinegaranya. Kalau pailit misalnya ya semua harus ikut 
hokum pailit/bankruptcy law negara masing2. Di inodnesia PT itu = Corp di USA 
artinya liabilities dibatasi dalam perusahaan artinya hutang2 perusahaan tidak 
dapat ditransfer ke harta pribadi pemilik. Berbeda dgn Firma, CV dan tanpa 
bentuk yg adalah peninggalan belanda yg harta individu bisa dilibatkan dalam 
likwidasi/pailit itu. Makanya jangan heran diindonesia banyak orang ribut 
sampai bunuh2an krn masalah hutang perusahaan/bisnis. Pelaksanaan hokum dagang 
di Indonesia belum kuat. Begitu juga bankruptcy law itu baru merangkak sekarang 
ini. lawyer yg berkecimpung dalam bidang ini miskin biasanyaL. Kalau dinegara 
maju wah kaya2. Tentang kapitalis yg bisa kabur itu, ya semua pemiliknya 
kapitalis. Si Amir yg hanya punya 1 saham PT. Bank Mandiri Tbk misalnya itu 
artinya si Amir adalah kapitalis krn menggunakan duitnya sbg kapit utk beli 
saham. Begitu juga mereka yg punya saham2 yg banyak termasuk pemerintah itu 
semuanya adalah kapitalis krn sdh menimbung duit. Jadi gak ada yg bisa menjamin 
suatu perusahaan untung, rugi dll termasuk pemerintah. Begitu juga saham mau 
jatuh, naik, stabil itu juga gak ada yg tahu….oh sori kalau ini hanya 1 orang 
yg tahu, namanya jonathan. Jadi bung boleh tanya dia gimana bikin suatu saham 
naik atau turun. Kalau saya tidak bisa. Kalau ada yg bisa wah….enak 
sekali….pasti semua orang kaya. Tapi kalau semua orang kaya, siapa yg miskin?! 
Istilah kapitalis kabur itu gak ada. Yg ada adalah para shareholders/pemegang 
saham itu bisa keluar dan masuk ke pasar mendapatkan keuntungan atau kerugian. 
Ini konteks public company. Kalau sikapitalis lari krn berbuat diluar hokum, 
itu urusannya hokum dan bukan persoalan kepemilikan saham lagi. SalamNesare  
From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, October 25, 2016 9:27 AM
To: [email protected]; nesare1@...
Subject: Re: [GELORA45] Perusahaan Publik dan Penghisapan  OK, sementara sekian 
saja dahulu, ... biar saya bisa cernakan pengertian-pengertian yang telah 
diberikan ini. Sekali lagi banyak terimakasih, ...! Salam,ChanCT  From: 
nesare1@... [GELORA45]Sent: Tuesday, October 25, 2016 9:15 PMTo: 
[email protected]: RE: [GELORA45] Perusahaan Publik dan 
Penghisapan  Chan: seandainya saja diperkenankan 80% saham perusahaan kapitalis 
itu dilepas kepublik, bagaimana pengontrolan Pemerintah, agar saham perusahaan 
itu benar-benar mempunyai nilai segitu? Kalau ternyata perusahaan itu sudah 
dalam keadaan kritis dan sahamnya harusnya sudah JATUH drastis, kan yang 
dirugikan publik? Sedang si kapitalis bisa saja kabur setelah penjualan saham 
masuk kantongnya, ...Nesare: skenarionya yg bisa terjadi:1.     20% pemilik 
asal swasta, 80% public dan pemerintah sbg regulator.2.     20% BUMN, public 
80% dan pemerintah sbg regulator.Dari kedua scenario ini pemerintah sbg 
regulator hanyalah bisa mengatur perangkat hokum dalam arti bikin peraturan 
hokum dll utk mengontrol business practice. Umumnya ini kekuasaan eksekutif. 
Legislative bikin undang2 nya dan judikatif bagian pengadilannya. Jadi 
eksekutif dibawah presiden yg ngatur masalah regulasi ini.Masalah bagaimana 
perusahaan dijalankan itu bukan hak pemerintah. itu hak dan tanggung jawab 
perusahaan itu masing2.Dalam skenarion kedua dimana pemerintah adalah pemilik 
mayoritas BUMN menjadi lain krn pemerintah adalah pemilik BUMN. Jadi status sbg 
pemilik dan sbg regulator itu saling tindih menindih. Seharusnya kalau 
profesionalisme berjalan dgn baik, hubungan BUMN sbg perusahaan dgn pemerintah 
sbg pemilik dan pemerintah sbg regulator bisa berjalan, tetapi dalam kasus 
diindonesia profesionalisme belum berjalan dgn baik. Ditambah dgn korupnya para 
pejabat birokirat yg menjalankan BUMN itu bikin pemerintah sbg pemilik harus 
bertindak lain. Penjualan BUMN ini salah satunya adalah karena masalah ini. 
tentunya diluar pemerintah perlu duit dari public. Tetapi masalah utamanya 
bukan cari duit. Duit bisa diperoleh kalau BUMN nya berjalan dgn baik. BUMN 
untungpun, dengan adanya korupsi keuntungan itu larinya ke pejabat birokrat 
bukan masuk kantung pemerintah.Untuk mengatur supaya perusahaan tidak rugi itu 
bukan wewenang pemerintah melainkan perusahaan itu sendiri.Masalah seberapa 
persentase kepemilikan atas suatu perusahaan pun itu adalah wewenang perusahaan 
bukan pemerintah. tentunya dalam kasus BUMN, pemerintah dapat mengintervensi 
jalannya BUMN sbg pemilik tetapi bukan sbg regulator.Jadi sekali lagi mati 
hidupnya suatu perusahaan termasuk BUMN itu adalah tanggung jawab perusahaan 
bukan pemerintah. Artinya peralihan kepemilikan dari 0% s/d 100% itu bisa 
terjadi dan adalah keputusan perusahaan bukan pemerintah.Nesare<

(Message over 64 KB, truncated)

Kirim email ke