Hallo bung Jo,
Saya tidak tahu precies bagaimana cara kerja panitianya, apa semuanya
diatur oleh suatu travel bureau.
Kami perginya lewat travel bureau, jauh2 hari sudah diatur dengan pasport
lama.
Tetapi waktu mau ambil visa di Tiongkok, saya perpanjang pasport saya dulu,
karena untuk dapat visa,
hanya dapat diperoleh kalau masa berlakunya visa masih 6 bulan setelah tiba
di Tiongkok.
Wah, waktu mau masuk Tiongkok, dicocokkan antara ticket kami yang kami
dapat dari guide dengan nomor pasport.
Ya, tentu saja tidak cocok, karena saya pakai pasport baru. Ya, saya
jelaskan. Tetapi petugas check in tidak
langsung mengijinkan, mau tanya kepalanya dulu.
Untung istri saya ingat, kalau dia yang foto pasport lama saya dan kirim
per HP ke travel bureau di Tiongkok. Jadi cari
foto pasport saya di HP, tunjukkan, dan langsung OK.
Jadi bung Jo, kalau pernah kirim copy pasport lama, perlu bawa pasport lama
dan baru.
Waktu berangkat dengan High Speed Train di Shanghai, kereta apinya sudah
tunggu lama di station, dan peronnya sudah
dibuka seperempat jam sebelumnya. Di ticketnya ada nomor gerbong kereta
api, dan nomor seatnya. Saya tidak bisa
berbahasa Mandarin, tetapi bisa menebak maksudnya, dari baca angka2nya.
Jadi sambil jalan, lihat nomor gerbongnya.
Kalau naik HST dari Tokyo ke osaka dan sebaliknya, juga harus lewat
reservering. Jauh sebelum kereta api tiba, saya
sudah berdiri di tempat yang di situ precies pintu gerbong kereta apinya
akan terbuka. Orang2 antrinya miring dari kiri dan
kanan, sedangkan penumpang turun dari tengah,. Maka waktu 2 menit itu
cukup, tidak tergesa-gesa.
Yang mengatur perjalanan di Xiamen nanti adalah dr. Tjio Hock Tong. Tiap
tahun dia ke Tiongkok, mempelajari riwayat
Tiongkok, kebiasaan dan makanan. Dia banyak nulis di Kompas dan koran di
Amerika. Dia bunya apartemen di Guangzhou.
Dia paham bahasa Mandarin. Dia sudah dua kali nginap di kami. Ada probleem
apa, bisa minta tolong supaya dia yang atur.
Moga2 segalanya berjalan lancar. Kalau di Xiamen, saya paling suka makan
stinky Taufu, tahu basin, digoreng, renyah.
Ada bau2 sedikit, saya dan beberapa orang suka sekali sampai restaurant
kecilnya kami datangi tiap siang. Tetapi di grup
tur baru2 ini, ada beberapa yang tidak suka baunya.
Salam,
KH

2018-04-22 9:46 GMT+02:00 [email protected] [GELORA45] <
[email protected]>:

>
>
> Bung Djie, pengalaman anda berguna bagi kami karena kami mau mengikuti
> Reunion dari mantan ITB dari seluruh dunia di Xiamen dan salah satu program
> nya adalah naik bullet train dari Quanzhou ke Wuyishan dan dari Wuyishan ke
> balik ke Xiamen. Sebetulnya, saya dan istri bukan mantan ITB (tetapi kami
> adalah mantan universitas di Jerman) tetapi untung di sponsori supaya bisa
> mengikuti acara Reunion ini. Sebetulnya peserta dibatasi cuma 200 orang dan
> deadline nya tgl 31 Januari, tetapi kebetulan ada peserta yg. cancel.
> Sebelum dapat sponsor dari Los Angeles, sebetulnya saya mau minta bung Djie
> menjadi sponsor kami karena bung Djie adalah mantan ITB.
>
> Kami, sebelum Beijing Olympic,  pernah naik "Maglev" bullet train dari
> kota Shanghai ke airport nya tetapi jaraknya ya tidak begitu jauh. Bullet
> train yg. kami akan pakai dgn. teknologi lain. Panitia sudah memberi tahu
> kepada peserta supaya jangan membawa koper besar sebab tidak ada tempat di
> bullet train utk. koper besar. Jadi saya akan titipkan koper2 besar di
> hotel di Xiamen dan cuma akan membawa carry-on luggage. Juga dikatakan
> bahwa bullet train cuma berhenti 2 menit di setiap stasiun, jadi harus
> cepat naik dan turunnya dari bullet train. Tetapi katanya kalau sampai
> ketinggalan peserta bisa naik bullet train yg. akan datang kemudian. Juga
> sebelum naik bullet train akan melawati 2 security check. Ada nasehat lain?
>
> Salam,
> BH Jo
>
> 
>

Kirim email ke