download google translate app akan banyak membantu,
 Ini contohnya:
 https://www.youtube.com/watch?v=IXkiBnjNKlU 
https://www.youtube.com/watch?v=IXkiBnjNKlU
 

---In [email protected], <bhjo@...> wrote :

 
 Bung Chan, terima kasih utk. cerita/pengalamanya dgn. bullet train di RRT. 
Untungnya, kami pergi dgn. rombongan dimana pemimpin2 nya pasti mengerti 
Mandarin, jadi tidak begitu menjadi masalah walaupun kami tidak mengerti 
Mandarin atau tulisan kanji. RRT sekarang barangkali nomor 1 dalam pembangunan 
infrastrutur di segala bidang. Malahan membangun infratruktur di banyak negara 
dgn. harga yg. lebih murah dan dalam jawal/waktu yg. cepat.  Amerika dan Kanada 
sudah banyak ketinggalan di banyak bidang. Sekarang baru "perang" utk. 
pembangunan "sistem 5G" anata RRT, AS, Korea Selatan dan Jepang. Rupanya, 
menurut berita2, RRT akan bisa menjadi pemenang and mengusai bidang komunikasi, 
driverless car dll. Maka dari AS menghalangi Huawei utk. berkembang di AS.
 

 Sayangnyn kali ini, flight nya cuma transit di HK sebelum ke Vancouver. Jadi 
tidak keluar dari airport di HK. Sebelum ke Xiamen kami akan di Singapore, saya 
akan bisa membandingkan kemajuan RRT dgn. Singapore. 
 

 Salam,
 BH Jo
 

 On Sunday, April 22, 2018, 6:50:31 AM PDT, Chan CT <sadar@...> wrote: 
 

 

 Bung Jo yb,
  
 Kalau boleh saya tambahkan pengalaman saya beberapa kali gunakan KA-Cepat di 
Tiongkok, yang dibilang teknologi modern itu, dimana KA lari dengan kecepatan 
begitu tinggi sampai 300Km/h, tapi betul-betul tidak terasa! Begitu tenang 
tanpa goyang dan sedikitpun tidak terasa adanya grenjel-grenjel spt naik KA 
biasa kalau pass roda gerbong melewati celah sambungan rel KA, ... dan anehnya 
lagi kalau kita memandang keluar lewat jendela, juga tidak jadi pusing dengan 
kecepatan bayang-bayang pepohonan atau apalah diluar sana yg dilewati, seperti 
kalau kita nyetir mobil lari dengan kecepatan hampir 200Km/h. Entah kacanya 
dilapisi apa, biar mata kita tertipu tidak terasa dengan kecepatan yang tinggi 
itu.
  
 Tentu kalau rombongan tour, ada guide tidak bermasalah, tapi kalau pergi 
sendiri dan tidak mengerti bhs. Th, mungkin bisa menemui kesulitan. Seperti 
kata bung Djie, kita harus tunggu di Gate berapa sesuai dengan No.KA nya dari 
jurusan mana kemana, gerbong berapa dan No. Tempat-duduk, semua sudah diprint 
di tiketnya, hanya dengan bhs. Th! Sedang stasiunnya KA begitu besarnya dan 
banyak Gate sesuai dengan jurusan dan jam berangkat, ... Yang diceritakan bung 
Djie, kebetulan dari Shanghai KA mulai berangkat, jadi KA sudah siap di stasiun 
belasan menit sebelum berangkan, dan mereka turun ke peron 10 menit sebelum KA 
berangkat. Cukup banyak waktu. Tapi kalau stasiun tengah jalan, itu betul-betul 
cuma 2 menit untuk penumpang turun dan naik. Caranya, juga 10 menit sebelum KA 
berangkat, penumpang disuruh siap turun ke peron, berbaris didepan pintu sesuai 
No. Gerbong. Begitu KA berhenti tepat ditempat, pintu terbuka, keluarlah 
penumpang yang harus turun dulu, barulah penumpang yang naik, berbaris masuk, 
... itulah sebab bagasi jangan bawa terlalu besar dan berat-berat! Dekat pintu 
masuk gerbong itu ada pemusatan tempat barang yang agak besar. Tapi nampaknya 
tidak ada yang jaga, ... dan kontrol apakah penumpang yang turun distasiun 
berikut bisa salah ngambil bagasi. Sedang koper kecil b isa dibawa sampai 
tempat duduk, bisa ditaroh diatas spt di pesawat, atau disamping kaki kalau 
tidak keberatan mengganggu duduk saja. 
  
 Begitu juga saat hendak turun ditengah jalan, 10 menit sebelum tiba, 
diumumkan, juga hanya dengan bhs. Th. akan tiba distasiun apa dan diminta 
penumpang yang hendak turun sudah siap-siap dengan bagasinya berbaris dekat 
pintu, dan keluar begitu pintu terbuka, ... Satu saat saya kembali dari Xia Men 
ke Shen Zhen gunakan KA-Cepat itu, kebetulan ramai dan penuh, nampak tiket yang 
dijual melebihi kapasitas, ... dan, yang menarik banyak orang desa, bawa 
pikulan hasil tanaman dan ternak ayam mereka. Kebetulan tempat duduk saya 
dibagian belakangnya ada sedikit ruang korong, pikulan ditaroh sana dan 
orangnya berdiri disamping saya. Saya tanya, kok bisa masuk naik KA tanpa ada 
tempat duduk? Dia bilang, beli tiket tanpa tempat duduk lebih murah dan karena 
hanya 2 stasiun cuma 15 menit, berdiri juga tidak masalah. Menarik juga cara Tk 
mengabdi dan melayani rakyatnya, ... rakyat jadi senang dengan ketambahan 
KA-Cepat ini untuk berpergian sesuai keperluan. Dan bagi rakyat kecil, ternyata 
harga tiket KA-Cepat masih terjangkau, tidak dirasakan terlalu mahal! Yang 
dirasakan mahal dan banyak dapatkan protes, makanan/minuman yang dijajakan di 
KA, ... entah sekarang sudah ada perbaikan belum?
  
 Yang juga menarik, jalur KA-Cepat itu frekwensinya cukup banyak, barangkali 
tidak sampai 30 menit bisa satu. Jadi, kalau kita datang terlalu pagi sebelum 
jam berangkat, boleh coba ke loket, untuk ganti tiket berangkat lebih dahulu 
dari jam semula, tentu kalau kebetulan ada tempat! Begitu juga sebaliknya, 
kalau kita datang terlambat, bisa datang ke loket untuk ganti line KA dijam 
berikut. Ganti tiket saja! Cukup praktis, ... Tentu kalau rombongan tour banyak 
orang, akan kesulitan bisa mempertahankan berangkat bersama dan dalam satu 
gerbong!
  
 Yang juga cukup menarik, biasanya di stasiun kota besar, seperti Xia Men, Shen 
Zhen bersambung dengan stasiun Metro kekota, ... memudahkan bagi kita untuk 
pindah-KA kota sesuai tujuan. Hanya saja kalau tidak bisa bhs. Th., mungkin 
juga cukup sulit untuk nyelonong sendiri, ... kecuali cukup banyak waktu dan 
bisa perlahan-lahan perhatikan petunjuk jalan dan tanya pemuda-pemudi yg 
mengerti bhs. Inggris. 
  
 Salam,
 ChanCT
  
  
 From: bhjo@... [GELORA45]
 Sent: Sunday, April 22, 2018 6:04 PM
 To: [email protected]
 Subject: Re: [GELORA45] TKI an TKA ==> Bullet train


  

   Bung Djie, 
  
 Passport kami disini, bisa minta yg. berlaku  5 atau 10 tahun. Passport saya 
berlaku 10 tahun sampai tahun 2024, jadi tidak sering repot mesti ganti 
passport.
  
 Sebetulnya saya tidak ada rencana utk. mengikuti Reunion di Xiamen/RRT. Tetapi 
waktu saya di Amerika bulan yg. lalu waktu ngobrol2 dgn. teman di 
Phoenix/Arizona, dia cerita akan mengikuti Reunion. Kebetulan saya akan di Asia 
pd. bulan September dan Oktober, jadi saya coba utk mengikuti Reunion ini. Koq 
kebetulan ada orang yg. cancel.
  
 Dunia ini kecil. Justru yg. membantu saya bisa ikut Reunion adalah Dr. Tjio 
Hock Tong, (mantan dari Mayo Clinic). Saya belum pernah bertemu muka dgn. Dr. 
Tjio tetapi bisa kenal melalui Yahoo/Googlle Group dimana kami mempunyai mutual 
friend yaitu Prof. Dr. Hoo Joe-Jie. Dr. Hoo asalnya dari Malang, barangkali 
bung Djie mengenalnya. Dr. Hoo dulu sekelas dgn. saya selama 5 1/2 tahun waktu 
di universitas di Je rman. Kemudian dia mendapat kerjaan sebagai dosen dan 
membuat riset di Kanada. Kemudian dia di tarik utk. balik ke Jerman utk. 
bekerja di universitas di Hamburg. Kemudian dia ditarik ke Amerika utk. bekerja 
sebagai dosen dan riset di universitas di Syracuse/New York.
  
 Pengalaman saya pertama kali naik bullet train, lebih dari 15 tahun yg. lalu, 
adalah juga di Jepang waktu mengikuti konferenz di kota Kyoto. Dari Kyoto ke 
Tokyo naik bullet train Shinkasen. Pengalaman yg. "mengecewakan" adalah waktu 
mau me-motret/taking picture bullet train yg. lewat dgn. cepat melalui stasiun. 
Saya selalu terlambat me-motret-nya sebab begitu kelihatan dari jauh, tahu2 
sudah hilang melewatinya. Saya tidak ingat bagaimana saya bawa kopernya.
  
 Nanti saya akan coba stinky taufu di Xiamen.
  
 Salam, 
 BH Jo
  
 

---In [email protected], <djiekh@...> wro te :

 Hallo bung Jo, Saya tidak tahu precies bagaimana cara kerja panitianya, apa 
semuanya diatur oleh suatu travel bureau.
 Kami perginya lewat travel bureau, jauh2 hari sudah diatur dengan pasport lama.
 Tetapi waktu mau ambil visa di Tiongkok, saya perpanjang pasport saya dulu, 
karena untuk dapat visa,
 hanya dapat diperoleh kalau masa berlakunya visa masih 6 bulan setelah tiba di 
Tiongkok.
 Wah, waktu mau masuk Tiongkok, dicocokkan antara ticket kami yang kami dapat 
dari guide dengan nomor pasport.
 Ya, tentu saja tidak cocok, karena saya pakai pasport baru. Ya, saya jelaskan. 
Tetapi petugas check in tidak
 langsung mengijinkan, mau tanya kepalanya dulu.
 Untung istri saya ingat, kalau dia yang foto pasport lama saya dan kirim per 
HP ke travel bureau di Tiongkok. Jadi cari 
 foto pasport saya di HP, tunjukkan, dan langsung OK.
 Jadi bung J o, kalau pernah kirim copy pasport lama, perlu bawa pasport lama 
dan baru.
 Waktu berangkat dengan High Speed Train di Shanghai, kereta apinya sudah 
tunggu lama di station, dan peronnya sudah 
 dibuka seperempat jam sebelumnya. Di ticketnya ada nomor gerbong kereta api, 
dan nomor seatnya. Saya tidak bisa 
 berbahasa Mandarin, tetapi bisa menebak maksudnya, dari baca angka2nya. Jadi 
sambil jalan, lihat nomor gerbongnya.
 Kalau naik HST dari Tokyo ke osaka dan sebaliknya, juga harus lewat 
reservering. Jauh sebelum kereta api tiba, saya
 sudah berdiri di tempat yang di situ precies pintu gerbong kereta apinya akan 
terbuka. Orang2 antrinya miring dari kiri dan
 kanan, sedangkan penumpang turun dari tengah,. Maka waktu 2 menit itu cukup, 
tidak tergesa-gesa.
 Yang mengatur perjalanan di Xiamen nanti adalah dr. Tjio Hock Tong. Tiap tahun 
dia ke Tiongkok, mempelajari riwayat
 Tiongkok, kebiasaan dan makanan. D ia banyak nulis di Kompas dan koran di 
Amerika. Dia bunya apartemen di Guangzhou.
 Dia paham bahasa Mandarin. Dia sudah dua kali nginap di kami. Ada probleem 
apa, bisa minta tolong supaya dia yang atur.
 Moga2 segalanya berjalan lancar. Kalau di Xiamen, saya paling suka makan 
stinky Taufu, tahu basin, digoreng, renyah.
 Ada bau2 sedikit, saya dan beberapa orang suka sekali sampai restaurant 
kecilnya kami datangi tiap siang. Tetapi di grup
 tur baru2 ini, ada beberapa yang tidak suka baunya.
 Salam,
 KH
  
 2018-04-22 9:46 GMT+02:00 bhjo@... [GELORA45] <[email protected]>:
   Bung Djie, pengalaman anda berguna bagi kami karena kami mau mengikuti 
Reunion dari mantan ITB dari seluruh dunia di Xiamen dan salah satu program nya 
adalah naik bullet train dari Quanzhou ke Wuyishan dan dari Wuyishan ke balik 
ke Xiamen. Sebetulnya, saya dan istri bukan mantan ITB (tetapi kami adalah 
mantan universitas di Jerman) tetapi untung di sponsori supaya bisa mengikuti 
acara Reunion ini. Sebetulnya peserta dibatasi cuma 200 orang dan deadline nya 
tgl 31 Januari, tetapi kebetulan ada peserta yg. cancel. Sebelum dapat sponsor 
dari Los Angeles, sebetulnya saya mau minta bung Djie menjadi sponsor kami 
karena bung Djie adalah mantan ITB.
  
 Kami, sebelum Beijing Olympic,  pernah naik "Maglev" bullet train dari kota 
Shanghai ke airpo rt nya tetapi jaraknya ya tidak begitu jauh. Bullet train yg. 
kami akan pakai dgn. teknologi lain. Panitia sudah memberi tahu kepada peserta 
supaya jangan membawa koper besar sebab tidak ada tempat di bullet train utk. 
koper besar. Jadi saya akan titipkan koper2 besar di hotel di Xiamen dan cuma 
akan membawa carry-on luggage. Juga dikatakan bahwa bullet train cuma berhenti 
2 menit di setiap stasiun, jadi harus cepat naik dan turunnya dari bullet 
train. Tetapi katanya kalau sampai ketinggalan peserta bisa naik bullet train 
yg. akan datang kemudian. Juga sebelum naik bullet train akan melawati 2 
security check. Ada nasehat lain?
  
 Salam,
 BH Jo

 




  






 













  

Kirim email ke