Bung Djie, pengalaman anda berguna bagi kami karena kami mau mengikuti Reunion 
dari mantan ITB dari seluruh dunia di Xiamen dan salah satu program nya adalah 
naik bullet train dari Quanzhou ke Wuyishan dan dari Wuyishan ke balik ke 
Xiamen. Sebetulnya, saya dan istri bukan mantan ITB (tetapi kami adalah mantan 
universitas di Jerman) tetapi untung di sponsori supaya bisa mengikuti acara 
Reunion ini. Sebetulnya peserta dibatasi cuma 200 orang dan deadline nya tgl 31 
Januari, tetapi kebetulan ada peserta yg. cancel. Sebelum dapat sponsor dari 
Los Angeles, sebetulnya saya mau minta bung Djie menjadi sponsor kami karena 
bung Djie adalah mantan ITB. 

 Kami, sebelum Beijing Olympic,  pernah naik "Maglev" bullet train dari kota 
Shanghai ke airport nya tetapi jaraknya ya tidak begitu jauh. Bullet train yg. 
kami akan pakai dgn. teknologi lain. Panitia sudah memberi tahu kepada peserta 
supaya jangan membawa koper besar sebab tidak ada tempat di bullet train utk. 
koper besar. Jadi saya akan titipkan koper2 besar di hotel di Xiamen dan cuma 
akan membawa carry-on luggage. Juga dikatakan bahwa bullet train cuma berhenti 
2 menit di setiap stasiun, jadi harus cepat naik dan turunnya dari bullet 
train. Tetapi katanya kalau sampai ketinggalan peserta bisa naik bullet train 
yg. akan datang kemudian. Juga sebelum naik bullet train akan melawati 2 
security check. Ada nasehat lain?
 

 Salam,
 BH Jo
 

---In [email protected], <djiekh@...> wrote :

 Kira2 10 tahun yang lalu saya mau menyeberang di Zebra pad di Xiamen, tetapi 
tidak bisa nyebrang, karena mobil2 melaju terus dengan kecepatan tinggi. 
Akhirnya ada orang di sana yang mengajak saya jalan jauh sedikit, dan 
menyeberang lewat bawah tunnel.
 Tunnelnya besar sekali, tetapi sebagian dipakai orang jualan. Meskipun begitu 
tidak mengganggu penyeberang. Jadi pada waktu itu 
 ada Zebra pad yang tidak berfungsi, tidak diindahkan oleh pengendara mobil. 
Orang mungkin masih berpikir jaman dulu : Mobil harus 
 ngalah pada truck yang lebih besar, karena mobil yang kecilan lebih gampang 
direm untuk dikurangi kecepatannya dan dibelokkan.
 Jadi yang kecil harus ngalah pada yang besar. Sepeda harus ngalah pada mobil. 
Orang jalan kaki harus ngalah pada sepeda.
 Baru seminggu balik dari Tiongkok. Di Shenzhen, kami mau nyebrang di Zebra 
pad. Mobil2 berhenti. Polisi juga ada di dekatnya. Camera
 juga dipasang. Orang2 yang melanggar lalu lintas, oleh polisi namanya dipasang 
di scherm besar, dan ini mempengaruhi dapatnya krediet 
 dari bank dan mendapat bankpas. Pelanggar2 dianggap bersifat buruk, akan 
melanggari juga peraturan2 lain.
 Bagaimana ya, kalau koruptor2 nama dan fotonya dipasang di layar besar di 
jalan2 di Indonesia ??
 Waktu ke lapangan udara Shanghai, kami diantar seorang wanita muda, pegawai 
kantor teman. Waktu taruh kopper untuk dicheck, ada pemuda
 bantu turunkan kopper2 kami. Istri saya tanya apa dia teman dari wanita muda 
pengantar kami. Dia tertawa, bilang tidak, dia cuma bantu kami saja.
 Kami coba High Speed train dari Huang Shan ke Shanghai. Meskipun sering 
berhenti di kota2 kecil, tetapi melaju cepat dengan kecepatan antara 
 300 - 350 km/jam. Yang turun, turun dulu. Baru penumpang baru, kemudian naik, 
tidak main desak hingga penumpang mau turun terhalang.
 Hanya kami belum lihat, bagaimana kalau di kereta api biasa, di bus, dan 
bagaimana  kalau di Xiamen, apa ekarang orang bisa nyeberang dengan 
 aman di Zebra pad.
 Waktu conrole ticket dan pasport, saya mengalami sedikit kesulitan, karena 
paspot lama yang kami copy dan kirimkan ke travel bueau di Beijing. 
 Sedangkan saya tidak bawa pasport lama, tetapi pasport baru. Saya terangkan 
ya, saya pakai pasport baru, waktu minta visa, karena syaratrnya
 hanya boleh dengan pasport yang masa berlakunya minimum 6 bulan. Wah, tidak 
diijinkan. Mau tanya dulu kepalanya. Untung istri saya, tiba2 ingat
 kalau dia foto pasport saya dengan handphone dan kirim ke travel bureai di 
Beijing. Lalu tunjukkan foto dari handphone. Lalu langsung boleh terus.
 Wah, tadinya saya pikir perlu telpon travel bureau di Beijing untuk kirim foto 
pasport lama saya ke handphone petugas.
 Salam,
 KH
 
 2018-04-21 14:20 GMT+02:00 BILLY GUNADIE <billygunadie@... 
mailto:billygunadie@...>:
 

 Tambahan ... 

 

 Menilai suatu bangsa atau negara, yang sederhana .. bentuk duitnya .. kumel 
atau seperti baru .. Lalu lintasnya ...
 mengatur masyarakat tertib .. juga dalam hal Antrian .... 

 Lampu traffic MERAH, mobil full stop .. penumpang Indonesia nyeletuk.. "ko ga 
jalan.. ga ada siapa-siapa..(lalu lintas kosong dan tidak ada polisi)..."....

 

 
 


 On Saturday, April 21, 2018 7:55 AM, BILLY GUNADIE <billygunadie@... 
mailto:billygunadie@...> wrote:

 

 

 

 Meneer Djie,
 

 Terima kasih atas uraian Anda, beberpa puluh tahun lalu saya menyaksikan 
pembangunan Trans-Sumatera...
 Kontraktor US dan Sub-kontraktor Korea, menggenakan operator dari Korea 
(Selatan), operator alat berat.. segala type Bulldozer, Grader, Back Hoe, 
Loader, baik Caterpillar, baik Komatsu .. menjalankan seperti mobil BALAP, bisa 
di dengar sepanjang Hutan sekitar project ... mesin mendengung dan transmission 
yang berganti.. kedengaran RPM mesin diesel.. dengan TANGKAS ... sebaliknya 
operator Indonesia .. ibarat stoomwalles ... 

 Kemudian operator di Sawah Lunto, Cylinder head bisa copot...? Kemungkinan 
tidak mengikuti spesifikasi opration how to rebuild engine...
 

 Know how ... dan juga Indonesia yang mempunyai 700 bahasa .. suku yang 
berbeda....   

 Pemerintah yang tidak bertanggung jawab terhadap WARGA-nya ..  kesejahteraan 
warga tidak mendapat perhatian, meski ada UPAYA... misalnya BPJS ... ini cuma 
manipulasi terhadap masa, ibarat food indusrty .. pharmaceutical industry ... 
yang MEMBENTUK Konsumen...
 Kalau lingkungan tercemar (open sewer), kurang gizi (ampir 60% cuma hidup 2-3$ 
perhari), TENDENSI-nya SAKIT... seharusnya MENCEGAH PENYAKIT... air minum yang 
BERSIH (bebas kuman), saja musti membeli, air leideng boleh di bilang tidak 
ada...
 

 Masyarakat dipaksakan hidup yang tidak setaraf dengan penghasillan.. korupsi 
atau jalan curang di lakukan  dengan segala cara.. misalnya BUTUH duit buat 
PULSA HP....? Ampir semua manusia mempunyai HP ... beljm listrik untuk 
chargernya ... hal yang kecil ... Saya bertanya .. dari mana sumber 
listrik....? Apakah ada tenaga nuklir..? .. Umumnya menjawab..." Ah.. ada saja 
.."...?
 

 Kenapa industry mobil begitu banyak untuk negara kepulauan...? Jawa itu kurang 
layak untuk kendaraan pribadi.. sehingga jalan hanya unutk PARKIT ...
 

 POLISI fungsinya ampir tidak ada .... lalu lintas di biarkan MACET... mungkin 
juga agar pemakaian bensin bertambah .. sehingga IMPORT ...

     
 


 On Saturday, April 21, 2018 5:47 AM, kh djie <djiekh@... mailto:djiekh@...> 
wrote:

 

 Bung Billy, Benar, faktor kebudayaan juga penting.
 Tetapi sekarang di berbagai daerah, orang sudah berani kerja jauh, melihat
 tetanggnya, yang balik, ada yang jadi makmur.
 Meskipun belum sampai dapat jabatan pimpinan, semua crew dari bagian
 pembuatan air minum dari air laut di kapal Cruise Holland Amerian Line 
sepanjang
 pantai New Zealand, semuanya orang Indonesia. Kepalanya, orang Belanda, 
 lulusan TU Delft. Saya dan satu teman dari Amerika untung diijinkan lihat dan
 tanya2. Wah, multiple evaporatornya sebesar multiple evaporator pabrik gula.
 Air hasil penyulingn dialirkan ke batu2 mineral, supaya rasanya seperti air 
 minum biasa, mengandung bermacam2 ion.
 Kalau di bagian dapur, crew dan tukang masaknya semuanya orang Korea.
 Kalau di bagian bediening makan, crew dari Indonesia sudah mulai banyak naik 
 jabatan, jadi kepala grup, mengepalai beberapa orang. Bahasa Inggris mereka
 maju pesat, karena mereka dari lulusan sekolah perhotelan, tidak seperti 20 
tahun
 yang lalu. Waktu itu orang2 India, yang banyak jadi kepala grup, karena lancar 
 bahasa Inggrisnya.
 Anak teman di jakarta buka bebrapa fakultas. Yang paling laris, adalah 
fakultas 
 perhotelan. Begitu lulus, langsung dapat pekerjaan dengan gaji bagus. Beberapa
 hotel Indonesia di Jakarta pakai management asing. Wah, ya, memang maju pesat.
 Manager2 asing di Jakarta diminta bantu beri kuliah hotel management.
 
 Wah Tiongkok kalah, bagian receptienya terlalu zakelijk, kurang membantu kalau
 tidak diminta, dan seperti tidak pernah tersenyum......
 Umumnya di perusahaan2 kalau ada probleem, dilakukan brainstorming setelah 
probleem 

 didefinisikan. Tiap orang yang hadir mengajukan saran, dan ditulis di papan 
tulis.
 Yang lain pada sessie pertama belum boleh mendebat, menyatakan setuju tidaknya.
 Kemudian saran2 dikelompokkan, Baru tiap orang menjelaskan idee mengatasi
 probleem itu. Kemudian ada yang memajukan keberatan pada idee2 tertentu, dengan
 alasannya. Kemudian dicari apa ada idee2 yang kalau digabungkan, dapat 
mengatasi 
 probleem lebih baik.
 Jadi yang dicari solution bersama.
 Neef saya di Singapore cerita, wah kalau bossnya selalu menggunakan 
brainstorming
 meskipun dia tahu bagaimana mengatasinya. Ini untuk melatih bawahannya 
memikirkan
 penyelesaian persoalan dari berbagai sudut pandang.
 Salam,
 KH

 
 2018-04-21 10:58 GMT+02:00 BILLY GUNADIE <billygunadie@... 
mailto:billygunadie@...>:
 

 Di samping itu semua .. kebudayaan .. dan terbentuknya suatu sifat manusia 
oleh ALAM/ecology...
 

 Dalam bahasa Sunda ada istilah "Engke deui wae lah...".... kenapa...? Iklim 
yang sepoi sepoi anginnya dan sepanjang masa hidupnya matahari terbit pukul 6 
pagi dan terbenam pukul 6 sore ..... kenikmatan hdup yang tidak di kejar waktu 
atau musim... temperatur sekitar 20an sampak sekitar 30an Celcius ... tanah 
yang subur/volcanic ...
 

 
 


 On Saturday, April 21, 2018 3:24 AM, kh djie <djiekh@... mailto:djiekh@...> 
wrote:

 

 Masalahnya tidak saja soal ketrampilan dan keahlian, tetapi juga apa itu turn 
key project, atau suatu joint venture yang pemerintah ikut . Ada pekerjaan yang 
membutuhkan keahlian pada waktu pembangunan pabrik. Ini yang paling sulit 
dipenuhi oleh tenaga kerja dalam 
 negeri. Orang yang sudah punya keahlian sudah dapat kerjaan yang mapan, enggan 
kerja di lokasi yang sulit. Faktor lain, begitu pabrik selesai berdiri, dia 
mesti cari kerja lain. Faktor lain lagi, adalah kalau turn key project. 
Kontraktor bisa rugi besar, kalau projectnya molor, tidak selesai pada 
waktunya, kena denda besar, karena pemilik pabrik ingin cepat2 bisa berproduksi 
supaya modalnya cepat kembali.
 Mungkin cara terbaik adalah seperti joint venture antara pemerintah dengan 
modal dari Tiongkok bangun Suromadu, dan nanti project 
 High Speed Train Jakarta-Bandung. Di situ jelas bagian kerja berbagai BUMN 
indonesia, dan bagian kerja Perusahaan Asing , dan mana yang dikerjakan 
bersama-sama ( design, bagian2 tertentu dll). Pengalihan teknologi bisa 
berjalan lancar. Pada turn key project, orang praktis tidak belajar banyak, 
kecuali yang kebetulan mau dan bisa dapat kerja waktu pembangunan project.
 BUMN 2 bekerja sama. Di samping itu BUMN punya cabang2, sehingga bis 
mengumpulkan tenaga2 ahli dari berbagai sektor untuk
 mengerjakan bagiannya. Mereka ini adalah orang2 yang biasa dikirim ke mana2 
mengerjakan project2 dari BUMN. Kalau project
 selesai, mereka tetap kerja sebagai pegawai di BUMN, tidak perlu cari kerja 
lain.
 Melihat situasi begini, orang2 lokal yang mau kerja, dapat bagiannya hanya 
kerja kasar, yang berat2. Kalau pabrik sudah berdiri,
 orang2 lokal dapat diberi pekerjaan jadi operator dengan bimbingan, 
menjalankan 1-2 mesin dulu. Biasanya dalam 1 minggu orang
 yang tidak pernah kerja di pabrik sudah bisa dengan didampingi instructor.
 Pemerintah rupanya tidak cukup waktu dan kemampuan membuka pendidikan resmi 
bagi tenaga kerja lokal untuk mmenuhi kebutuhan ini. Mungkin pemerintah daerah 
perlu melakukan positieve discriminatie. Misalnya saja, perusahaan yang pakai 
tenaga lokal, bulan pertama diganti uang pembayaran pekerja lokal itu 100 % 
penuh. Tiap bulan berikutnya turun 20 %. Sehingga pada bulan ke lima, pekerja 
lokal sudah punya kemampuan penuh dan perusahaan harus bayar gaji pekerja lokal 
sendiri. Juga perlu pengaturan berapa % dari pegawai perusahaan harus pekerja 
lokal. Mungkinkah dengan cara begini, gesekan2 dapat berkurang, dan meskipun 
tanpa pendidikan resmi, pnduduk lokal bisa mencapai ketrampilan tertentu, dan 
dapat kerja tetap.
 Perusahaan juga wajib melakukan pendidikan intern untuk menaikkan efficiency 
kerja, mengurangi kesalahan dalam berproduksi. Dengan pendidikan intern yang 
baik, efficiency kerja bisa naik 25 - 33% yang sangat menguntungkan perusahaan, 
tanpa orang harus kerja lebih berat, lebih cepat. Perusahaan dapat memberikan 
gaji bulan ke 13. Kalau di Indonesia sudah ada, jadi gaji bulan ke 14.
 Orang2 yang sudah bekerja seperti di perusahaan konpeksi ada yang mengajari 
teman2nya di rumah teknik menjahit. Setelah bisa, temannya dibantu melamar 
kerja. Karena ternyata sudah bisa menjahit waktu diuji, langsung diterima kerja.
 TKI di Belanda bawa temannya yang baru datang dari Indonesia untuk belajar 
kerja, ikuti dia bersih2 rumah dan kaca. Belajar cara2 pakai stofzuiger, pakai 
stoom apparaat bersihkan kamar mandi, pakai alat bersihkan kaca, pakai bahan2 
apa untuk bersihkan ini itu. Dua kali ikut, sudah bisa, sudah bisa dicarikan 
pekerjaan. Orang mau terima, karena sudah tidak perlu ngajari lagi.
 Barangkali ada saran2 lain untuk mengatasi berbagai probleem ini ?
 
 2018-04-21 6:59 GMT+02:00 Tatiana Lukman <jetaimemucho1@... 
mailto:jetaimemucho1@...>:
 1. Pada pokoknya, saya tidak mempersoalkan soal bahasa. Itu saya anggap 
masalah sekunder.
 2. Soal ketrampilan, untuk memenuhi syarat, dsb, sekali lagi, adalah tugas 
Pemerintah. Lagi-lagi soal keberpihakan. Kalau sebuah pemerintah memang 
berpihak kepada buruhnya, maka dia akan kembangkan ketrampilan buruhnya. Soal 
kesediaan meninggalkan keluarga dan bekerja berpindah-pindah, sebenarnya sudah 
dibuktikan dengan buruh migran Indonesia yang pergi ke luar negeri untuk cari 
makan. Bukan hanya meninggalkan keluarganya, bahkan mempertaruhkan nyawanya!! 
Itu yang ke luar negeri. Sedangkan yang pindah-pindah di dalam negeri juga 
dibuktikan dengan GSBI Papua Barat yang menuntut agar distop aliran buruh dari 
luar Papua, mereka menuntut agar Pemerintah berusaha meningkatkan ketrampilan 
buruh lokal supaya mengurangi pengangguran di kalangan penduduk lokal. Jadi 
sebenarnya soal pindah-pindah juga bukan masalah. Kesimpulan: bagi saya, 
masalah pokoknya adalah keberpihakan pemerintah yang menentukan kebijakannya. 
Karena pemerintah tidak perduli pada nasib buruh Indonesia, maka lahirlah semua 
kebijakan yang sangat merugikan dan menyengsarakan kaum buruh.
 


 On Friday, April 20, 2018 10:52 PM, kh djie <djiekh@... mailto:djiekh@...> 
wrote:

 

 1. Peraturan TKA harus bisa berbahasa Indonesia sudah dicabut. Jadi sulit 
untuk dipersoalkan lagi. 2. Persoalan TKA . Kalau Indonesia sudah punya tenaga 
kerja yang memenuhi syarat dan ondernemer2
     yang dapat mengerjakan sebagian projek, pembangun pabrik akan lebih murah 
pakai tenaga Indonesia.
     Kalau untuk membangun bangunan pabrik, mestinya onderanemer dari pulau 
Jawa sudah bisa, mengingat
     mereka sudah sanggup membangun gedung2 tinggi. Tetapi apakah mereka mau 
kerja di luar Jawa, merekrut
     dan membawa tenaga kerja yang sudah berpengalaman dari jawa, dan 
berbulan-bulan kerja mulai dari babat
     hutan, dan meninggalkan keluarga, meskipun diiming-iming dengan bayaran 
extra ?
     Orang2 di Tiongkok sudah biasa bekerja berpindah pindah dari satu kota ke 
kota lain, berbulan-bulan 
     meninggalkan keluarganya di desa.
     Suatu turn key project perusahaan asing yang ada dead timenya, menyebabkan 
perusahaan asing takut denda

     kalau terlambat menyelesaikan proyeknya. Mereka bawa tenaga2 yang sudah 
berpengalaman, yang pernah
     membangun proyek yang sama di tempat2 lain.
     Suatu proyek seperti Suramadu dengan pembagian jelas, mana yang 
diselesaikan BUMN Indonesia, mana yang 
     oleh perusahaan asing, mana yang bersama ( di situ pengalihan teknologi 
dapat terjadi dengan cepat) mungkin
     paling baik. Jadi BUMN Indonesia kalau perlu bisa cari ondernemer2 yang 
terpercaya hasil kerjanya.
 
 2018-04-20 21:18 GMT+02:00 Tatiana Lukman <jetaimemucho1@... 
mailto:jetaimemucho1@...>:
 Rupanya bung tidak tahu bahwa untuk melawan ketidak adilan dan kebijakan yang 
merugikan diperlukan instrumen. Bung kira setiap orang yang mengalami ketidak 
adilan, lantas kontan bisa melawan atau protes??? Seandainya protes, apakah 
lantas bisa berhasil??? Jalannya panjang bung!!!! Disitulah arti penting dari 
BERORGANISASI!!!! Pernah saya postingkan sebuah penelitian tentang kehidupan 
buruh pertambangan Nikel di Sulawesi yang dikelola modal Tkk yang membawa 
buruhnya sendiri. Buruh Indonesia yang diwawancarai sudah tentu tidak senang 
dengan adanya buruh Tkk yang jelas-jelas kondisi hidup dan upahnya jauh lebih 
baik dan tinggi dari pada dia dan kawan-kawan buruh lainnya. Namun, dia tidak 
bisa berbuat apa-apa?? Mengapa? Di situ tidak ada serikat buruh!!Dan 
mengorganisasi SB tidak mudah!!! Kemudian masih harus dilihat SB yang 
bagaimana?? Serikat buruh yang membela sungguh-sungguh kepentingan buruhnya 
atau yang berpihak kepada pengusaha????Buruh mau berorganisasi ketika sadar 
akan arti penting organisasi sebagai alat perjuangan. Dan untuk mencapai 
kesadaran itu perlu proses pendidikan yang hanya bisa didapat dari pengalaman 
perjuangannya sendiri melalui organisasi buruh.
 Masalah ketrampilan, proyek di luar Jawa dan seterusnya adalah masalah yang 
justru seharusnya menjadi tanggung jawab Pemerintah. Disinilah letak akar 
masalahnya: kebijakan pemerintah yang TIDAK MEMIHAK KEPADA kaum buruhnya 
sendiri!!!!Maka itu jangan salahkan ormas-ormas rakyat yang terus berjuang 
melawan politik/kebijakan Jokowi-JK dan menunjuk pemerintah sebagai boneka 
imperialis!! Itu bukan tuduhan kosong tanpa dasar!! 
 Anda ambil contoh perusahaan asing di Tkk yang mengerjakan pekerja asing 
karena keunggulan bahasa Inggrisnya. Nah, ini juga pencerminan dari kebijakan 
Pemerintah kapitalis Tiongkok yang tidak memihak dan membela kepentingan buruh 
Tiongkoknya sendiri. Masak mendidik buruhnya sendiri  supaya bisa berbahasa 
Inggris saja tidak mampu??? Sampai harus mendatangkan orang dari Malaysia dan 
Scotland. Dulu, pada jaman Mao, ketika hubungan masih baik dengan Soviet, 
banyak ahli dari Uni Soviet. Masalah bahasa adalah masalah sekunder yang mudah 
diselesaikan!!! Lagi-lagi soalnya terletak pada politik/kebijakan pemerintahnya 
sendiri!!! Begitu juga di Soviet Uni, pada jaman Stalin, banyak buruh dan ahli 
datang dari AS untuk menghindari krisis ekonomi tahun 30-an... Masalah bahasa 
bukanlah masalah POKOK!!!!
 




 On Friday, April 20, 2018 8:32 PM, "kh djie djiekh@... mailto:djiekh@... 
[GELORA45]" <[email protected] mailto:[email protected]> wrote:

 

 

   
 Tenaga kerja illegal , ya harus ditangkap, dipenjara. Prusahaan yang 
memperkerjakannya, harus didenda berat.
 Kalau berulang, didenda beberapa kali lipat.
 Instantie yang dapat melakukan :
 - departemen tenaga kerja.
 - jawatan pajak, karena pekwerja asing harus bayar ijin kerja.
 - polisi.,
 sendiri2, atau bersama.
 Yang saya herankan kok protest terhadap adanya TKA bukan datang dari 
onderannemer2.
 Kan mereka yang paling dirugikan, kalau TKA yang mengerjakan.
 Apa sebabnya ? Apakah mereka tidak sanggup mengerjakan, tidak punya cukup 
tenaga 
 trampil ? Apakah karena proyek2 itu di luar Jawa, maka mereka kesulitan 
merekrut, membawa
 tenaga kerja dari Jawa yang telah berpengalaman mengerjakan ? Apakah tenaga 
kerja dari
 pulau Jawa enggan bekerja terus menerus ber-bulan2 di luar pulau, meninggalkan 
keluarga ?
 Kalau gaji pegawai Indonesia lebih murah dan cukup terampil, mestinya 
perusahaan mana saja
 yang berdasarkan perhitungan ekonomis, akan pakai tenaga yang murah dan 
efficient dari Indonesia?
 Saya tahu perusahaan real estate Indonesia bangun real estate di Pudong 
Shanghai. Dia pakai
 onderannemer dari Scotland yang berbahasa Inggris. Tenaga2 kerja berpengalaman 
sudah ada
 di Shanghai, tetapi terjadi kesultian komunikasi karena perbedaan bahasa. Real 
estate ini menyewa
 mandor yang berpengalaman dari Malaysia, yang bisa berbahasa Inggris dengan 
onderannemer 
 dari Scotlandia, yang memberi instruksi, dan berbahasa Mandarin dengan tukang2 
dari Shanghai
 yang harus mengerjakan sesuai dengan gambar.
 Kalau hanya pakai penterjemah yang tidak mengerti teknik, akan terjadi 
kesulitan lain.



 
 2018-04-20 19:16 GMT+02:00 Tatiana Lukman <jetaimemucho1@... 
mailto:jetaimemucho1@...>:


 Ya memang, harusnya begitu!! Tangkap, penjarakan dan denda!!! Tapi harus 
diingat pemerintah Indonesia bukan pemerintah Belanda!! Pemerintah Indonesia 
betu-betul mengorbankan kepentingan nasional dan rakyatnya sendiri. Lha, bung 
baca sendiri pernyataan Menterinya yang anda postingkan itu ,sangat tidak 
sesuai dengan kenyataan: membandingkan TKA Tiongkok dengan TKI di Tiongkok!! 
Sebuah perbandingan yang sama sekali palsu dan tetap didasarkan pada pemihakan 
kepada MODAL ASING!!
 




 On Friday, April 20, 2018 7:06 PM, "kh djie djiekh@... mailto:djiekh@... 
[GELORA45]" <[email protected] mailto:[email protected]> wrote:

 

 

   
 Tenaga kerja illegal, tangkap saja dan penjarakan.. Perusahaan yang berani 
pakai tenaga illegal jatuhi denda yang berat.
 Kalau masih berulang, denda lebih berat lagi..



 
 On 20 April 2018 at 18:51, Tatiana Lukman <jetaimemucho1@... 
mailto:jetaimemucho1@...> wrote:
 Nah, postingan ini merupakan usaha untuk membenarkan pembanjiran buruh 
Tiongkok ke Indonesia, bahkan yang ilegal. Masalah yang seharusnya 
diklarifikasi dan dijelaskan adalah pekerjaan apa yang dikerjakan oleh TKI di 
Tiongkok?? Bagaimana kondisi kerja, kondisi kehidupan dan upah para TKI ini??? 
Karena harus diingat perbedaan tingkat hidup antara Indonesia dan Tiongkok. Ada 
yang bisa memberi informasi ini?
 


 On Friday, April 20, 2018 4:11 AM, "kh djie djiekh@... mailto:djiekh@... 
[GELORA45]" <[email protected] mailto:[email protected]> wrote:

 

   
 https://economy.okezone.com/ read/2016/12/21/320/1572422/ 
tki-di-china-lebih-besar- dibandingkan-jumlah-pekerja- china-di-ri 
https://economy.okezone.com/read/2016/12/21/320/1572422/tki-di-china-lebih-besar-dibandingkan-jumlah-pekerja-china-di-ri
 TKI di China Lebih Besar Dibandingkan Jumlah Pekerja China di RI
 Dedy Afrianto, Jurnalis ยท Rabu 21 Desember 2016 17:23 WIB
 

 
 
 Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri (Foto: Okezone)
 JAKARTA - Tenaga kerja asing (TKA) asal China hingga saat ini telah mencapai 
21 ribu tenaga kerja yang bekerja pada berbagai sektor. Besarnya jumlah tenaga 
kerja ini pun menjadi salah satu sorotan masyarakat di Indonesia.

 
 
 Hanya saja, jumlah tenaga kerja Indonesia (TKI) di Indonesia ternyata jauh 
lebih besar dibandingkan jumlah TKA China di Indonesia. Untuk daratan China 
saja, terdapat sekira 81 ribu TKI asal Indonesia. Angka ini belum termasuk 
jumlah TKI pada daerah yurisdiksi China lainnya.
 
 BERITA TERKAIT+ 
https://economy.okezone.com/topic/32984/tenaga-kerja-china-ilegal
 Catat! Kadin China Keluhkan Pekerjanya Selalu Dituding Tenaga Kerja Ilegal 
https://economy.okezone.com/read/2017/07/17/320/1738123/catat-kadin-china-keluhkan-pekerjanya-selalu-dituding-tenaga-kerja-ilegal
 Investasi China Makin Besar, Risikonya Tenaga Kerja Ilegal Bertambah 
https://economy.okezone.com/read/2017/05/23/320/1697837/investasi-china-makin-besar-risikonya-tenaga-kerja-ilegal-bertambah
 Menaker: Tenaga Kerja Asing Asal China Tak Perlu Dikhawatirkan 
https://economy.okezone.com/read/2017/01/23/320/1599053/menaker-tenaga-kerja-asing-asal-china-tak-perlu-dikhawatirkan
 
 "Pada saat saya menyatakan jumlah TKA dari china dibanding TKI di China lebih 
besar TKI di China, orang marah.. Padahal itu faktanya. Misal TKI di China 81 
ribu, sementara TKI di Hongkong 153 ribu, di Macau 16 ribu, Taiwan saja 200 
ribu," tutur Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Hanif Dhakiri di Menara Kadin, 
Jakarta, Rabu (21/12/2016).
 Menaker pun meminta agar isu ini tidak dibesar-besarkan. Pasalnya, hal ini 
mampu memberikan sentimen negatif bagi tenaga kerja Indonesia. Masyarakat pun 
diminta untuk tetap tenang karena pemerintah akan terus mengawal isu TKA ilegal 
pada berbagai daerah di Indonesia.
 
 "Jadi ini harus dipahami secara rasional. Jangan sampai isu TKA ini 
dibawa-bawa ke mana-mana sehingga membangun sentimen-sentimen yang tidak sehat 
bagi demokrasi kita maupun untuk persatuan bangsa," pungkasnya.




 


 
 

 




 
 
 






 
 

 




 
 
 






 
 

 




 
 
 












 
 
 











 
 
 












 
 
 






 
 
 









 

Kirim email ke