Bung Djie, Passport kami disini, bisa minta yg. berlaku 5 atau 10 tahun. Passport saya berlaku 10 tahun sampai tahun 2024, jadi tidak sering repot mesti ganti passport.
Sebetulnya saya tidak ada rencana utk. mengikuti Reunion di Xiamen/RRT. Tetapi waktu saya di Amerika bulan yg. lalu waktu ngobrol2 dgn. teman di Phoenix/Arizona, dia cerita akan mengikuti Reunion. Kebetulan saya akan di Asia pd. bulan September dan Oktober, jadi saya coba utk mengikuti Reunion ini. Koq kebetulan ada orang yg. cancel. Dunia ini kecil. Justru yg. membantu saya bisa ikut Reunion adalah Dr. Tjio Hock Tong, (mantan dari Mayo Clinic). Saya belum pernah bertemu muka dgn. Dr. Tjio tetapi bisa kenal melalui Yahoo/Googlle Group dimana kami mempunyai mutual friend yaitu Prof. Dr. Hoo Joe-Jie. Dr. Hoo asalnya dari Malang, barangkali bung Djie mengenalnya. Dr. Hoo dulu sekelas dgn. saya selama 5 1/2 tahun waktu di universitas di Jerman. Kemudian dia mendapat kerjaan sebagai dosen dan membuat riset di Kanada. Kemudian dia di tarik utk. balik ke Jerman utk. bekerja di universitas di Hamburg. Kemudian dia ditarik ke Amerika utk. bekerja sebagai dosen dan riset di universitas di Syracuse/New York. Pengalaman saya pertama kali naik bullet train, lebih dari 15 tahun yg. lalu, adalah juga di Jepang waktu mengikuti konferenz di kota Kyoto. Dari Kyoto ke Tokyo naik bullet train Shinkasen. Pengalaman yg. "mengecewakan" adalah waktu mau me-motret/taking picture bullet train yg. lewat dgn. cepat melalui stasiun. Saya selalu terlambat me-motret-nya sebab begitu kelihatan dari jauh, tahu2 sudah hilang melewatinya. Saya tidak ingat bagaimana saya bawa kopernya. Nanti saya akan coba stinky taufu di Xiamen. Salam, BH Jo ---In [email protected], <djiekh@...> wrote : Hallo bung Jo, Saya tidak tahu precies bagaimana cara kerja panitianya, apa semuanya diatur oleh suatu travel bureau. Kami perginya lewat travel bureau, jauh2 hari sudah diatur dengan pasport lama. Tetapi waktu mau ambil visa di Tiongkok, saya perpanjang pasport saya dulu, karena untuk dapat visa, hanya dapat diperoleh kalau masa berlakunya visa masih 6 bulan setelah tiba di Tiongkok. Wah, waktu mau masuk Tiongkok, dicocokkan antara ticket kami yang kami dapat dari guide dengan nomor pasport. Ya, tentu saja tidak cocok, karena saya pakai pasport baru. Ya, saya jelaskan. Tetapi petugas check in tidak langsung mengijinkan, mau tanya kepalanya dulu. Untung istri saya ingat, kalau dia yang foto pasport lama saya dan kirim per HP ke travel bureau di Tiongkok. Jadi cari foto pasport saya di HP, tunjukkan, dan langsung OK. Jadi bung Jo, kalau pernah kirim copy pasport lama, perlu bawa pasport lama dan baru. Waktu berangkat dengan High Speed Train di Shanghai, kereta apinya sudah tunggu lama di station, dan peronnya sudah dibuka seperempat jam sebelumnya. Di ticketnya ada nomor gerbong kereta api, dan nomor seatnya. Saya tidak bisa berbahasa Mandarin, tetapi bisa menebak maksudnya, dari baca angka2nya. Jadi sambil jalan, lihat nomor gerbongnya. Kalau naik HST dari Tokyo ke osaka dan sebaliknya, juga harus lewat reservering. Jauh sebelum kereta api tiba, saya sudah berdiri di tempat yang di situ precies pintu gerbong kereta apinya akan terbuka. Orang2 antrinya miring dari kiri dan kanan, sedangkan penumpang turun dari tengah,. Maka waktu 2 menit itu cukup, tidak tergesa-gesa. Yang mengatur perjalanan di Xiamen nanti adalah dr. Tjio Hock Tong. Tiap tahun dia ke Tiongkok, mempelajari riwayat Tiongkok, kebiasaan dan makanan. Dia banyak nulis di Kompas dan koran di Amerika. Dia bunya apartemen di Guangzhou. Dia paham bahasa Mandarin. Dia sudah dua kali nginap di kami. Ada probleem apa, bisa minta tolong supaya dia yang atur. Moga2 segalanya berjalan lancar. Kalau di Xiamen, saya paling suka makan stinky Taufu, tahu basin, digoreng, renyah. Ada bau2 sedikit, saya dan beberapa orang suka sekali sampai restaurant kecilnya kami datangi tiap siang. Tetapi di grup tur baru2 ini, ada beberapa yang tidak suka baunya. Salam, KH 2018-04-22 9:46 GMT+02:00 bhjo@... mailto:bhjo@... [GELORA45] <[email protected] mailto:[email protected]>: Bung Djie, pengalaman anda berguna bagi kami karena kami mau mengikuti Reunion dari mantan ITB dari seluruh dunia di Xiamen dan salah satu program nya adalah naik bullet train dari Quanzhou ke Wuyishan dan dari Wuyishan ke balik ke Xiamen. Sebetulnya, saya dan istri bukan mantan ITB (tetapi kami adalah mantan universitas di Jerman) tetapi untung di sponsori supaya bisa mengikuti acara Reunion ini. Sebetulnya peserta dibatasi cuma 200 orang dan deadline nya tgl 31 Januari, tetapi kebetulan ada peserta yg. cancel. Sebelum dapat sponsor dari Los Angeles, sebetulnya saya mau minta bung Djie menjadi sponsor kami karena bung Djie adalah mantan ITB. Kami, sebelum Beijing Olympic, pernah naik "Maglev" bullet train dari kota Shanghai ke airport nya tetapi jaraknya ya tidak begitu jauh. Bullet train yg. kami akan pakai dgn. teknologi lain. Panitia sudah memberi tahu kepada peserta supaya jangan membawa koper besar sebab tidak ada tempat di bullet train utk. koper besar. Jadi saya akan titipkan koper2 besar di hotel di Xiamen dan cuma akan membawa carry-on luggage. Juga dikatakan bahwa bullet train cuma berhenti 2 menit di setiap stasiun, jadi harus cepat naik dan turunnya dari bullet train. Tetapi katanya kalau sampai ketinggalan peserta bisa naik bullet train yg. akan datang kemudian. Juga sebelum naik bullet train akan melawati 2 security check. Ada nasehat lain? Salam, BH Jo
