Kegagalan atau Keberhasilan bukan di tandai dengan seluruh orang
mengikuti akhlak Nabi.
Tetapi Beliau tetap Tegar dalam menyampaikan Risalah Ilahi walaupun di
khianati oleh sahabat-sahabatnya
karena memang itulah tugas para Nabi. Sepanjang sejarah para Nabi
dikhianati dan dibunuh oleh orang2 dekatnya.
Apalagi definisi sahabat menurut sebagian orang adalah orang yg pernah
bertemu Nabi SAW.
 
Bayangkanlah orang yg seumur hidup memusuhinya dan memeranginya misalnya
Abu Sofyan (bapaknya Muawiyah) dan keluargnya bahkan istrinya
adalah yg membunuh Paman Nabi sekarang kita sebut sebagai Sahabat
(setelah masuk Islam dgn terpaksa ketika Futuh Makkah) .
 
Padahal ada banyak orang2 beriman yg dikecam Tuhan karena akhlaknya dan
perbuatan tidak terpujinya kepada Nabi SAW,
dalam Al-Quran. Apakah dengan begitu Nabi GAGAL ??. Seringkali kita baca
Al-Quran hanya bagus bacaannya saja atau baca 
tapi ga pernah baca artinya.
 
Kegagalan adalah kalau Nabi lebih mengikuti kehendak orang lain
(termasuk sahabat-sahabatnya) ketimbang kehendak Allah SWT ?
Sebagai contoh kalau kita baca Quran Surat Jumat diceritakan : Ketika
Nabi lagi khotbah Jumat, hampir semua sahabat meninggalkan
Nabi yg sedang Khutbah ketika ada pedagang2 yg datang membawa permainan.

 
Bayangkan lah itu  "sahabat" yg kabur meninggalkan Nabi yg lagi Khutbah
Jumat ? Atau "Sahabat-Sahabat" yang lari dari Medan
Pertempuran padahal Nabi berada di tengah musuh2. (dalam perang Uhud).
 
Kalau mau saja baca Kitab2 Hadits nanti kita tercengang sendiri dengan
kelakuan sebagian besar sehabat.
 
Saya berharap di IMMAM ini agak kritislah dalam berfikir. Apa bedanya
kita dengan orang2 yg tidak merantau. Jauh2 jauh ke Bandung
atau ke Jakarta tetap aja cara berfikir kita ga berubah. (karena ga mau
meng update informasi). Semakin membenarkan hypotesisnya Sigmund Freud
bahwa "Agama itu memang candu masyrakat". Karena dilihatnya org2 bergama
itu hanya menerima dogma agama begitu saja.
Untuk mengetahui apa yg terjadi 1,400 tahun lalu bisa dengan membaca
Al-Quran, Hadits2 dan pakai Akal dalam menganalisanya.
 
Kecuali kalau termasuk yg Ingkaru Hadits.. ya susah..... Tidak ada
alasan kita tidak tahu sejarah Nabi SAW. Jadi nanti  diakhirat
kita tidak bisa beralasan dihadapan Tuhan karena ga punya  Video
perjuangan Nabi yg sebenarnya,, karena itu bisa kita ketahui asalkan
memegang prinsip2 kebenaran dan siap mengikuti kebenaran yg lebih tinggi
kalau kita temukan bukti2 baru ttg sejarah yg benar.
Dan yg paling penting mau menggunakan Akal, karena ini adalah kunci
Utamanya dalam mencari Kebenaran
 

________________________________

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of
Muslim Armas
Sent: Friday, May 11, 2007 12:37 AM
To: [email protected]
Subject: [immam] Nabi Muhammad SAW



Saudaraku seIMMAM,
 
Mengingat ketinggian akhlak Rasulullah SAW, mengingat keberhasilannya
dalam 23 tahun dakwahnya, makanya aku tidak pernah percaya bila sahabat2
terkasih beliau, keluarga terkasih beliau bertengkar dan penuh intrik /
tipu muslihat hanya untuk memperebutkan KEKUASAAN. Jika demikian beliau
gagal dong untuk memperbaiki akhlak umat manusia? Jika untuk sahabat
yang setia mengikuti perjuangan dan keluarga terkasih beliau saja gagal
apalagi untuk kita2 sekarang ini.....
 
Jika saudaraku mengikuti polemik antara Habibie, Wiranto dan Prabowo
(ketiga2nya masih hidup dan sehat) ternyata masing2 memiliki persepsi
yang berbeda terhadap kejadian yang sama sehingga 'pengikut' ketiganya
saling berkeras untuk mempertahankan argumen bahwa pihaknyalah yang
benar, apatah lagi kejadian 1400 tahun yang lalu yg kita dapat ceritanya
dari mulut kemulut tanpa kita saksikan langsung dan tidak bisa kita
hadirkan kembali atau kita tayangkan videonya, bagaimana kita bisa
menjudge pihak mana yang benar, dasarnya apa toh masing2 punya argumen
yg tdk ada habis2nya. Bila nabi Muhammad terbukti gagal, maka beliau
bukan nabi penutup karena masih diperlukan lagi rasul yang dapat
memperbaiki akhlak manusia.
 
Jadi menurutku, lebihbaik kita berHUSNUZHON saja supaya kita terhindar
dari dosa, sahabat terkasih dan keluarga nabi tidak ada yang licik,
menggunting dalam lipatan, kalaupun terjadi perselisihan itu terjadi
karena kesalahpahaman yg manusiawi sifatnya atau sempat termakan hasutan
org munafik. Jadi kalau dicari orang yang salah, ya kita2 ini, yang
masih lebih mementingkan urusan duniawi daripada akhirat, jauh kali
bedanya kita dengan mereka. Wallahualam
 
Salam sayang,
MA
 
 

        ----- Original Message ----- 
        From: Nasution, Dody Arfiandi <mailto:[EMAIL PROTECTED]>  
        To: undisclosed-recipients: <mailto:undisclosed-recipients:>  
        Sent: Tuesday, May 01, 2007 11:07 AM
        Subject: [immam] Maulid Nabi SAW dan Bedah Buku Karen Armstrong


        
        Salam,

        Dalam Rangka Memperingati Hari Kelahiran Manusia Paling Mulia di
Alam Semesta ini - Kami tim KKJ (Kajian Kang Jalal) bekerjasama dengan

        PSIK Paramadina dan Penerbit MIZAN mengadakan 

        "Maulid Nabi SAW" dan "Bedah Buku" karya Karen Armstrong yg
berjudul Muhammad Prophet for Our Time

        Acara tersebut akan diselenggarkan pada :  

        

        

        Hari/Tgl.   : Jumat, 4 May, 2007

        Waktu       :  pkl. 19.00 - 21.30

        Tempat     :  Auditorium Nurcholish Madjid - Aula Universitas
Paramadina

                              Jl.Jend.Gatot Subroto Kav.96-97  (samping
gedung PMI)

        

        Nara Sumber  :  KH. DR. Jalaluddin Rakhmat

        Moderator        : Aan Rukmana S.Fils  (Paramadina) 

        

        

        Acara :
        1. Teater SMU Plus Muthahhari Bandung tentang Akhlak Nabi SAW

        2. Pembacaan Sholawat oleh Ust.Abu Ali Alaydrus

        3. Bedah Buku Karen Armstrong : Prophet For Our Time  

        

        

        GRATIS...  !! 

        

        

        Datanglah lebih awal agar anda bisa bersilaturahmi dengan
teman-teman 

        

        

        

        Preview : 

        

        

        Para penguasa politik menciptakan naratif Nabi yang sesuai
dengan kepentingan politiknya. Para pendusta yang tampak saleh mencemari
naratif Nabi dengan imajinasinya. 

        Dongeng-dongeng mereka masuk ke dalam perbendaharaan hadis.
Hadis adalah berita tentang perkataan, perbuatan, 

        ketetapan, dan sifat-sifat -fisik dan mental- yang dinisbahkan
kepada Nabi saw.  Hadis adalah bahan utama tarikh Nabi. 

        Bila sebagian sumber hadis adalah rekaan para penguasa dan para
pendusta, apa yang terjadi pada tarikh Nabi? 

        Kita menemukan naratif Nabi yang tidak menggambarkan kesucian,
kemuliaan, dan keagungan Nabi.  

        Bayangkan biografi Anda ditulis oleh musuh-musuh Anda atau para
pendusta yang membonceng pada kemuliaan Anda?  

        Kisah-kisah Nabi seperti itu bertebaran pada kitab-kitab hadis
dan tarikh. Kaum muslim menerimanya tanpa kritis. 

        Kaum munafik membacanya dengan senang. Peneliti non-Muslim
berusaha memahaminya dengan latar belakang kebudayaannya. 

        

        Dalam hubungan inilah, Karen Armstrong menulis Muhammad: Prophet
for Our Time. Ia punya reputasi baik sebagai pengamat Islam yang sangat
simpatik kepada Islam.  

        Dalam banyak tulisannya, ia berusaha keras menunjukkan
kesalah-pahaman Barat kepada Islam. 

        Inilah komentar penerbit untuk bukunya yang pertama, Muhammad: A
Biography of the Prophet: This vivid and detailed biography strips 

        away centuries of distortion and myth and presents a balanced
view of the man whose religion continues to 

        dramatically affect the course of history.  

        Biografi yang hidup dan terperinci ini menghapuskan distorsi dan
mitos yang sudah berlangsung berabad-abad dan menyampaikan pandangan
seimbang tentang

        manusia yang agamanya terus-menerus secara dramatis mempengaruhi
jalannya sejarah.  Dalam buku yang Anda baca sekarang ini, 

        Armstrong juga ingin menampilkan Muhammad sebagai sosok
paradigmatik 

        yang datang pada "dunia yang penuh cacat".  "Perjalanan
hidupnya", tulis  orang yang mengaku "freelance monotheist" ini,
"menyingkapkan kerja Tuhan 

        yang misterius di dunia, dan mengilustrasikan ketundukan
sempurna...yang harus dilakukan setiap manusia kepada yang ilahi."


        Akhirnya, kita patut memberikan apresiasi kepada Armstrong,
yang tidak henti-hentinya mengajak Barat untuk memahami Islam 
        dan mengajak umat Islam untuk memahami Barat.  Ia mengakhiri
bukunya dengan mengatakan: "Jika kita ingin menghindari kehancuran,
dunia 
        Muslim dan Barat mesti belajar bukan hanya untuk bertoleransi
tetapi juga saling mengapresiasi. Titik berangkat yang baik adalah dari
sosok Muhammad:
        seorang manusia yang kompleks, yang menolak kategorisasi dangkal
yang didorong oleh ideologi, yang terkadang melakukan hal yang sulit
atau 
         mustahil untuk kita terima, tetapi memiliki kegeniusan yang
luar biasa dan mendirikan sebuah agama dan tradisi budaya yang tidak
didasarkan pada 
        pedang melainkan yang namanya -"Islam"- berarti perdamaian dan
kerukunan."
        
        Kita harus menyambut ajakan Armstrong dengan membangun kembali
naratif besar Muhammad dalam sosoknya yang penuh kemuliaan, 
        kesucian dan keteladanan. Untuk apa? Untuk mengorganisasikan
kembali keberagamaan kita yang centang perenang.
        Sekali lagi mengutip Dilthey, untuk membangun Zusamenhang des
Lebens.
        
        

        

 

Kirim email ke