--- In [email protected], "Nasution, Dody Arfiandi" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Hadits Nabi SAW : Tidak ada Agama bagi yg tidak berakal (La dina 
huwal
> Aqlu... kalau ga salah).
> 
>                              Memang disamping akal jug a perlu 
keimanan,
> itu pasti. Tapi untuk mentelaah Hadits-Hadits Nabi mutlak 
diperlukan
> Akal.
> 
>                              karena kita hidup 1,400 tahun 
kemudian.
> 
>  
> 
>  
> 
> Awal Kajian Secara Mendalam tentang Sahabat
> 
>  
> 
> Perdamaian hudaibiyah dan sahabat
> 
>  
> 
> Pada tahun keenam Hiriyah,Rasulullah bersama seribu empat ratus
> sahabatnya keluar dari Madinah dengan tujuan Umrah.
> 
> Disuruhnya para sahabat menyarungkan pedangnya masing2.Mereka 
berihram
> di Zil Hulaifah dan membawa binatang korban agar 
> 
> orang2 Quraisy tahu bahwa mereka datang  untuk umrah, bukan
> berperang.Karena sifat angkuhnya, 
> 
> orang2 Quraisy tidak mahu kelak orang Arab mendengar bahwa Muhammad
> telah masuk ke Mekkah dan 
> 
> memecahkan benteng mereka.Diutusnya serombongan delegasi yg 
diketuai
> oleh Suhail bin Amr bin Abdu Wud al Amiri 
> 
> agar meminta Nabi kembali ke tempat asalnya.Tahun depan mereka akan
> diizinkan umrah untuk selama 3 hari. 
> 
> Orang2 Quraisy juga meletakkan syarat yg berat yg kemudiannya 
diterima
> oleh Rasul SAW berdasarkan kemashlahatan yg dilihatnya dan wahyu 
Allah
> kepadanya.
> 
>  
> 
> Namun sebagian sahabat tidak senang dengan sikap Nabi seperti 
ini.Mereka
> menentangnya dengan keras.  
> 
> Umar bin Khatab datang dan berkata :"Apakah benar engkau adalah 
Nabi
> Allah yg sesungguhnya ?" 
> 
>  
> 
> "Ya", jawab Nabi
> 
>  
> 
> (pendapat pribadiku : belum pernah ada sahabat lain yg meragukan ke
> Rasulan Nabi dan menyatakan secara tegas 
> 
> seperti halnya Umar bin Khatab. Bayangkan seorang Umar bin Khatab 
berani
> berkata spt itu di depan Nabi)
> 
>  
> 
> Kita lanjutkan :
> 
>  
> 
> "Bukankah kita dalam hak dan musuh kita dalam batil ?"
> 
> "Ya", sahut Nabi Lagi. 
> 
> "Lalu kenapa kita hinakan agama kita?" desak Umar 
> 
> "Aku adalah Rasulullah.Aku tidak melanggar perintahNya dan Dia lah
> penolongku,"jawab Nabi. 
> 
> "Bukankah engkau mengatakan kepada kami bahwa kita akan mendatangi 
Rumah
> Allah dan bertawaf disana ?"
> 
>  
> 
> "Ya",Tetapi apakah aku mengtakan kepadamu pada tahun ini juga?", 
Tanya
> Nabi.
> 
> "Tidak ",jawab Umar 
> 
> "Engkau akan datang kesana dan tawaf di sekitarnya"
> 
>  
> 
> Kemudian Umar datang kepada Abu Bakar dan bertanya : 
> 
> "Hai Abu Bakar! Benarkah ini adalah Nabi Allah yg sesungguhnya ?"
> 
>  
> 
> "Ya", jawab Abu Bakar
> 
> (dari saya : tampaknya Umar bn Khatab masih ragu dengan jawaban 
Nabi.
> Maaf ! apa beliau tidak membaca Al-Quran :
> 
> Bahwa Tidaklah Nabi Allah berkata sesuatu melainkan ia wahyu dari 
Allah
> ?????)
> 
>  
> 
> Kemudian  Umar mengajukan pertanyaan yg serupa kepada Abu Bakar dan
> dijawab dengan jawaban yg serupa juga
> 
> "Hai Saudara !",kata Abu Bakar."Beliau adalah Rasul Allah yg
> sesungguhnya.Beliau tidak melanggar perintah-Nya dan
> 
>  Dialah penolongnya maka percayalah dengannya" 
> 
> Setelah Rasulullah selesai menulis piagam perdamaian,belaiu berkata
> kepada sahabat2nya : 
> 
> "Pergilah kalian sembelih binatang2 korban itu dan cukurlah 
rambut!"
> 
> Demi Allah tidak satupun sahabatnya berdiri mematuhi perintah itu
> sehingga Nabi mengucapkannya sebanyak tiga kali  . 
> 
>  
> 
> (dari saya : ajaib kan ? ....menolak perintah Nabi - yg berarti 
menolak
> perintah Tuhan, kalau anda saya yakin akan berkata : Sami'na wa
> Atho'na).
> 
>  
> 
> Ketika dilihatnya mereka tidak mematuhi perintahnya baginda masuk 
ke
> kemahnya dan keluar kembali tanpa berbicara dengan siapapun.
> 
> Beliau menyembelih binatang binatang korbannya dengan tangannya 
sendiri
> lalu memanggil tukang cukurnya dan beliau cukur rambutnya.
> 
> Ketika para sahabat melihat ini mereka berdiri dan menyembelih 
korban
> mereka lalu saling mencukur sehingga hampir-hampir mereka saling
> berbunuhan........
> 
>  
> 
> (lihat buku-buku sejarah dan sirah.Juga lihat Shahih Bukhori di 
dalam
> Bab as-Syurut fil Jihad Juz 2 hal. 132, juga Shahih Muslim Bab 
Sulhul
> Hudaibiyah jil. 2)
> 
>  
> 
> Demikianlah ringkasan kisah perdamaian Hudaibiyah.Para Ahli 
sejarah dan
> sirah seperti Thabari, Ibnul Athir dan Ibnu Sa'ad 
> 
> menuliskan cerita ini di buku mereka masing-masing.Begitu juga 
Bukhari
> dan Muslim. (kalau ini cerita dari orang2 Syiah nggak usah dibahas
> lagi......)
> 
>  
> 
> Disini aku terdiam dan berhenti.Tidak mungkin kalau kita tidak 
terkejut
> dan heran atas sikap para sahabat thd Nabi. 
> 
> Apakah org yg rasional dapat menerima ucapan orang yg mengatakan 
bahwa
> semua sahabat Nabi telah mematuhi seluruh perintah
> 
> Nabi dan melaksanakannya.Bukti sejarah ini menafikan kebenaran 
ucapan
> seperti itu.Dapatkah seorang yg rasional menilai sikap spt itu 
> 
> thd Nabi adalah masalah kecil, atau dapat diterima atau dimaafkan ?
> 
>  
> 
> Allah berfirman : "Maka demi Tuhanmu,mereka (pada hakikatnya) tidak
> beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yg 
> 
> mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati 
mereka
> sesuatu keberatan thd keputusan yg kamu berikan dan mereka menerima
> dengan sepenuhnya (Q.S.: 4 :65).
> 
>  
> 
> Apakah di sini Umar bin Khatab tidak berat menerima keputusan Nabi 
SAW
> ataukah dia bersikap ragu-ragu thd perintah Nabi, 
> 
> khususnya ketika dia berkata : Apakah engkau benar2 Nabi Allah yg
> sesungguhnya ? Bukankah engkau berkata kepada kami...... dst.
> 
>  
> 
> Apakah Umar juga menerima jawaban Nabi yg memuaskan itu ? Tidak. 
Dia
> tidak puas dengan jawaban Nabi lalu pergi kepada 
> 
> Abu Bakar mengajukan pertanyaan yg serupa.Apakah dia menerima 
jawaban
> Abu Bakar dan nasihatnya agar mematuhi perintah Nabi ?
> 
> Kita tidak tahu apakah dia menerimanya lantaran jawaban Abu Bakar 
atau
> jawaban Nabi! Kalau tidak kenapa dia berkata
> 
>  thd dirinya, "lalu aku telah lakukan beberapa perkara yg...." 
Hanya
> Allah dan Rasul-Nya saja yg tahu apa yg dilakukan Umar.
> 
> Dan kita juga tidak tahu sebab keengganan sahabat2 lain atas 
perintah
> Nabi setelah itu ketika baginda berkata :
> 
> "Pergilah sembelih binatang korban dan cukurlah rambut 
kalian!".Tidak
> satupun dari mereka mendengan perintah Nabi ini sehingga beliau 
terpaksa
> mengulanginya tiga kali.
> 
>  
> 
> Subhanallah! Aku hampir2 tidak percaya apa yg kubaca ini.Apakah 
sampai
> tahap ini para sahabat bersikap thd perintah Nabi ? 
> 
> Jika cerita ini diriwayatkan hanya oleh golongan syiah saja, maka 
aku
> akan katakana bahwa ini adalah tuduhan syiah kepada para sahabat yg
> mulia.
> 
>  
> 
> Masalahnya begitu terkenalnya dan benarnya cerita ini sehingga 
semua
> ahli hadits Ahlu Sunnah Wal jamaah meriwayatkannya di buku mereka
> masing-masing
> 
>  
> 
> Tidak ada pilihan lain keculai menerima dan bingung ???
> 
> Apa yg haru kukatakan ? Dengan apa aku harus memaafkan sahabat2 yg 
telah
> hidup bersama Nabi selama hampir 20 tahun, dari awal 
> 
> kebangkitan sehinggalah perdamaian Hudaibiyah, dimana mereka 
saksikan
> berbagai mukjizat dan cahaya kenabian.Al-Quran juga 
> 
> mengajarkan kepada mereka, siang dan malam bagaimana semestinya 
bersikap
> dan beradab di hadapan baginda Nabi dan bagaimana 
> 
> berbicara dengannya, sehingga Allah pernah mengancam untuk 
menggugurkan
> amal baik mereka jika suara mereka diangkat lebih keras dari suara 
Nabi.
> 
>  
> 
> Ketika saya buka tafsir surat  Al-Hujurat 1-2 ternyata berkenanan 
dgn
> Umar dan Abu Bakar (baca : Tafsir Al-Durr al Mantsur 7: 546-550.
> 
>  
> 
> Ringkasnya begini : Rombongan Bani Tamim menghadap Rasulullah 
SAW.Mereka
> ingin memohon kpd Nabi untuk menunjuk pemimpin buat 
> 
> mereka.Sebelum Nabi memutuskan siapa, Abu Bakar berkata : "Angkat
> Al-Qa'qa bin Ma'bad sebagai Amir." Kata Umar ,"Tidak!, angkatlah 
Al-Aqra
> bin Habist." .
> 
> Kata Abu Bakr ,"Kamu hanya ingin membantah aku saja". "Aku tidak
> bermaksud membantahmu,"kata Umar.Keduanya berbantahan sehingga 
suara
> mereka terdengar makin keras.
> 
>  
> 
> Waktu itu turunlah ayat :
> 
>  
> 
> Hai orang-orang yg beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan
> Rasul-Nya.Takutlah kamu kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha 
Mendengar
> dan 
> 
> Maha Mengetahui. Hai orang2 yg beriman, janganlah kamu menaikkan 
suaramu
> di atas suara nabi.Janganlah kamu mengeraskan suara kamu 
> 
> dalam percakapan dengan dia seperti kamu mengeraskan suara kamu 
ketika
> bercakap sesama kamu.Nanti hapus amal-amal kamu dan kamu tidak
> menyadarinya (Al-Hujurat 1-2)
> 
>  
> 
> Setelah mendengarkan teguran itu Abu Bakar 
berkata ,"Ya,Rasulullah, demi
> Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu 
> 
> kecuali seperti seorang saudara yg membisikkan rahasia. Umar juga
> berbicara kepada Nabi dengan suara yg lembut.
> 
> Mereka merasakan betul bahwa ayat Al-Quran itu berkenaan dengan 
mereka.


Bang Dodi yks (yang kusayangi),
Inilah contohnya kalau kita menempatkan kisah-kisah seperti ini 
sebagai "misi". Jadi tidak jelas lagi dialektika yang telah 
dikembangkan oleh banyak ulama dan para ahli terdahulu.
Jadi beginilah, kalau Bang Dodi meminta pakek akal, awak coba 
jugalah menggunakan akal awak. Kurang lebih, kalau semua cakap 
Rasulullah itu dimushafkan, mulai dari gua Hira' sampai ajal beliau, 
rasanya tebal kali Al Qur-an itu dibuat, bisa jutaan lembar. 
Karenanya tidak semua cakap Rasulullah itu merupakan wahyu atau 
firman dari Allah. Untuk membedakan yang mana wahyu dan bukan, 
Rasulullah menegaskan hal tersebut kepada para sahabat untuk 
dihapalkan atau dituliskan. Hingga pernah beliau lama tidak menerima 
wahyu, sampai berselimut segala. Dengan demikian tidak seluruh sikap 
Rasulullah itu tertuntun dengan wahyu.
Para sahabat tentunya mengetahui bila Rasulullah berada dalam 
situasi seperti itu atau tidak. Karenanya untuk mengisi `kekosongan 
hukum', keluarlah sikap beliau yang kita kenal sebagai hadits. Atau 
dalam beberapa keadaan tertentu para sahabat dibenarkan 
untuk `berijtihad' sesuai dengan urusannya.
Cerita Hudaibiyah itu, sama-samanya kita dengar dari Bang Imad. Pada 
saat itu memang Rasulullah "menunggu-nunggu" wahyu dari Allah untuk 
menghadapi `problema' pada saat itu. Bila sahabat mengambil beberapa 
sikap, tentunya berdasarkan olah pikir terhadap situasi yang 
berkembang. Secara "ilmu dan pengetahuan" politik hal ini dapat 
dimaklumi. Ketika akan menandatangani piagam itu, barulah wahyu itu 
datang, sebagaimana kita pelajari dari Al Fath 27. Mungkin Bang Dodi 
sudah lupa, kebetulan awak masih simpan catatannya.
Mengenai cerita-cerita laen setelah itu, agar dipahami dan 
dipelajari dengan "aqal" sirkumtansi dan kondisi pada saat itu, 
itupun kalau cerita-cerita itu benar.
Mengenai pemahaman awak tentang sejarah, nantilah awak sambung lagi. 
Sementara itu dulu bang. Salam.

-datuk


Kirim email ke