> Saya berharap di IMMAM ini agak kritislah dalam berfikir. Apa bedanya
> kita dengan orang2 yg tidak merantau. Jauh2 jauh ke Bandung
> atau ke Jakarta tetap aja cara berfikir kita ga berubah. (karena ga 
mau
> meng update informasi). Semakin membenarkan hypotesisnya Sigmund 
Freud
> bahwa "Agama itu memang candu masyrakat". Karena dilihatnya org2 
bergama
> itu hanya menerima dogma agama begitu saja.
> Untuk mengetahui apa yg terjadi 1,400 tahun lalu bisa dengan membaca
> Al-Quran, Hadits2 dan pakai Akal dalam menganalisanya.


kalo mau penuh menggunakan "akal" dari awal, akan susah diterima akal 
bahwa "ada" Allah yg MAHA atas segalanya dan "zat"nya benar2 berbeda 
dari apa-pun yg pernah ter-bayangkan "akal". tak mungkinlah "akal" 
bisa "mengakali" hal yg begituan, tak bisa dibilang "ada" oleh "akal".

begitu juga dgn kerasulan Muhammad. Muhammad tak punya "bukti" logis 
bahwa yg datang ke beliau adalah "jibril" dan Muhammad juga tak 
punya "metodologi" yg valid untuk mengklarifikasi bahwa apa yg 
disampaikan jibril memang benar2 bersumber dari "Allah". (mungkin juga 
Nabi Muhammad punya metodologinya, tapi disimpan untuk pengetahuan 
pribadi saja?)

untuk dua point di atas aja jelas harus mengesampingkan "akal". jadi, 
ikut dogma juga ga "jelek-jelek" amat lah ;)

salam.


Kirim email ke