Bang Datuk dan bang Dody yks,

Justru karena aku khawatir adik2 kita bingung dan terguncang membaca riwayat2 
dari bang Dodylah makanya aku relatif aktif menanggapinya disela2 kesibukanku. 
Tadinya aku berharap topik Sunni-Syiah ini selesai pada episode milis yg 
terdahulu makanya aku berusaha mendinginkan suasana waktu itu karena menurutku 
tidak ada gunanya sama sekali membahas topik yg bakal menjauhkan kita bukan 
malah mendekatkan kita. Buku2 dan milis2 yang membahas ttg Sunni-Syiah sangat 
banyak. Kalau akhirnya kita keukeuh dengan pendapat masing2 ya tinggal kita 
terima konsekwensinya saja kalau kita menganggap sahabat2 yang utama dan Aisyah 
RA berkhianat terhadap nabi Muhammad SAW. Kalau benar, mungkin dapat pahala, 
kalau salah........

Saya gak tahu, bang Dody saat ini memang benar2 bingung dan terguncang dgn 
riwayat2 yang bang Dody sampaikan dimilis ini sehingga ingin mencari jawaban 
dari kisah2 yg bang Dody dapatkan atau sebenarnya bang Dody sudah punya jawaban 
terhadap kisah2 tersebut dan berharap anggota milis ini sepakat dengan jawaban 
tersebut?

Kalau bang Dody ingin mendapatkan jawaban dari kisah2 tersebut (terlebih dahulu 
harus kita cek kebenaran kisah2 tsb dari sumbernya yang asli) saya akan 
berusaha mengumpulkan kembali buku2 yg membahas topik tersebut dan akan saya 
kasih ke bang Dody, tetapi kalau sebenarnya bang Dody sudah punya jawaban dan 
haqqulyakin dgn jawaban tersebut sebaiknya disampaikan saja secara to the point 
 dimilis ini sehingga tinggal anak2 IMMAM sepakat atau tidak dengan jawaban 
bang Dody dengan demikian kita dapat pindah ketopik lain seperti membangun 
PERADABAN ISLAM atau topik2 menarik lainnya....

Salam,
MA
 
  --
  --- Original Message ----- 
  From: ekaaurihandj 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, May 15, 2007 11:42 PM
  Subject: [immam] Re: Nabi Muhammad SAW


  Bang Dodi ysh,
  Awak kurang sedap juga dengar cerita-cerita pengkhianatan ini, kalau 
  tak kuat-kuat iman awak, bisa rusak pula aqidah awak. Mangkanya awak 
  komentari dikit terutama untuk adik-adik kita yang imut-imut dan 
  polos-polos itu, supaya nggak ngaruh gitcu. Kalau dapat Bang Dodi 
  tere jugalah untuk ikut milis Surau 
  (http://www.groups.yahoo.com/group/surau), lalu dapat melemparkan 
  pandangan seperti ini, karena di sana banyak jago-jago tafsir, 
  hadits, fiqih, dll yang dapat menilai dan menanggapi dengan benar.
  Seperti tentang cerita-cerita itu, walaupun asalnya dari kitab-kitab 
  tersohor, belum tentu itu dapat menjadi rujukan. Pernah awak baca 
  diskusi tentang suatu hadits yang dipelintir oleh orang Syiah, 
  katanya dari kitab top-nya Sunni, tapi setelah diperiksa oleh 
  mahasiswa kita yang lagi kuliah di Saudi, ternyata itu merupakan 
  contoh rujukan yang salah dari suatu kitab hadits sahih. Jadi tidak 
  bisa mencuplik begitu saja sesuatu yang "bernilai" sebagai hadits, 
  apalagi sampai pada riwayat dan sejarah.
  Kalau Bang Muslim yang dihadapi, awak yakin saja, karena beliau ini 
  sudah belajar dari pengalaman masa Snouk Horgronye masuk gampong 
  keluar gampong. Jadi di gampong A dia jadi Syiah, di gampong B dia 
  jadi Sunni. Setelahnya tinggal diantukkan saja. Cuman kalau sampai 
  kepada Bang Muara, khawatir awak, salah-salah tangkap malah bisa 
  jadi ekstrimis. Rugi pulak awak.
  Anjuran mengenai aksioma itu bisa-bisa saja. Namun runtunan aksioma 
  itu berbeda-beda untuk setiap orang. Munculnya rasa kasih dan sayang 
  kepada Allah itu merupakan suatu hidayah, dan setiap muslim 
  memperolehnya dengan cara yang berbeda-beda.
  Memang sebaiknya kalau kita berkemampuan dan bisa mengerti dan 
  memahami dzat Allah itu, dengan "metoda" agama, maka sebenarnya 
  hakikat keilahiatan dan insaniyah itu akan mudah dipahami. Sependek 
  urat leher kita. Terjangkaunya dengan tangan kita. Namun kalau masih 
  berkutat pada "metoda", itulah jadinya, bisa-bisa kita salahkan 
  pulak orang dulu-dulu.
  Sementara itu dulu. Salam.

  -datuk

  --- In [email protected], "Nasution, Dody Arfiandi" 
  <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  >
  > Kegagalan atau Keberhasilan bukan di tandai dengan seluruh orang
  > mengikuti akhlak Nabi.
  > Tetapi Beliau tetap Tegar dalam menyampaikan Risalah Ilahi 
  walaupun di
  > khianati oleh sahabat-sahabatnya
  > karena memang itulah tugas para Nabi. Sepanjang sejarah para Nabi
  > dikhianati dan dibunuh oleh orang2 dekatnya.
  > Apalagi definisi sahabat menurut sebagian orang adalah orang yg 
  pernah
  > bertemu Nabi SAW.
  > 
  > Bayangkanlah orang yg seumur hidup memusuhinya dan memeranginya 
  misalnya
  > Abu Sofyan (bapaknya Muawiyah) dan keluargnya bahkan istrinya
  > adalah yg membunuh Paman Nabi sekarang kita sebut sebagai Sahabat
  > (setelah masuk Islam dgn terpaksa ketika Futuh Makkah) .
  > 
  > Padahal ada banyak orang2 beriman yg dikecam Tuhan karena 
  akhlaknya dan
  > perbuatan tidak terpujinya kepada Nabi SAW,
  > dalam Al-Quran. Apakah dengan begitu Nabi GAGAL ??. Seringkali 
  kita baca
  > Al-Quran hanya bagus bacaannya saja atau baca 
  > tapi ga pernah baca artinya.
  > 
  > Kegagalan adalah kalau Nabi lebih mengikuti kehendak orang lain
  > (termasuk sahabat-sahabatnya) ketimbang kehendak Allah SWT ?
  > Sebagai contoh kalau kita baca Quran Surat Jumat diceritakan : 
  Ketika
  > Nabi lagi khotbah Jumat, hampir semua sahabat meninggalkan
  > Nabi yg sedang Khutbah ketika ada pedagang2 yg datang membawa 
  permainan.
  > 
  > 
  > Bayangkan lah itu "sahabat" yg kabur meninggalkan Nabi yg lagi 
  Khutbah
  > Jumat ? Atau "Sahabat-Sahabat" yang lari dari Medan
  > Pertempuran padahal Nabi berada di tengah musuh2. (dalam perang 
  Uhud).
  > 
  > Kalau mau saja baca Kitab2 Hadits nanti kita tercengang sendiri 
  dengan
  > kelakuan sebagian besar sehabat.
  > 
  > Saya berharap di IMMAM ini agak kritislah dalam berfikir. Apa 
  bedanya
  > kita dengan orang2 yg tidak merantau. Jauh2 jauh ke Bandung
  > atau ke Jakarta tetap aja cara berfikir kita ga berubah. (karena 
  ga mau
  > meng update informasi). Semakin membenarkan hypotesisnya Sigmund 
  Freud
  > bahwa "Agama itu memang candu masyrakat". Karena dilihatnya org2 
  bergama
  > itu hanya menerima dogma agama begitu saja.
  > Untuk mengetahui apa yg terjadi 1,400 tahun lalu bisa dengan 
  membaca
  > Al-Quran, Hadits2 dan pakai Akal dalam menganalisanya.
  > 
  > Kecuali kalau termasuk yg Ingkaru Hadits.. ya susah..... Tidak ada
  > alasan kita tidak tahu sejarah Nabi SAW. Jadi nanti diakhirat
  > kita tidak bisa beralasan dihadapan Tuhan karena ga punya Video
  > perjuangan Nabi yg sebenarnya,, karena itu bisa kita ketahui 
  asalkan
  > memegang prinsip2 kebenaran dan siap mengikuti kebenaran yg lebih 
  tinggi
  > kalau kita temukan bukti2 baru ttg sejarah yg benar.
  > Dan yg paling penting mau menggunakan Akal, karena ini adalah kunci
  > Utamanya dalam mencari Kebenaran



   

Kirim email ke