Bang Dody yang kusayangi,

Kebetulan diantara anak2 IMMAM yg waktu itu lagi merantau ke Bandung, mungkin 
akulah salah seorang anak IMMAM yang sejak TPB yang paling banyak membaca dan 
mengoleksi buku2 Syiah (ahlul bait) dan buku2 kang Jalal, sampai2 salah seorang 
teman sekelasku meminjam buku2 tersebut diwaktu aku mau selesai kuliah dan 
sekarang dia menjadi Syiah (aku agak merasa bersalah juga karena aku belum 
sempat memberikan buku2 yang mengklarifikasi sangkaan org2 Syiah terhadap 
sahabat dan kejadian2 yg terjadi pada masa Rasulullah SAW). Asal ketemu 
dikantor aku sering diskusi dgn dia (karena dia semangat kali dgn Syiahnya) 
sampai akhirnya dia menghindari pembicaraan tsb karena memang tidak ada 
gunanya. Partnerku sekantorpun Syiah (aku kongsi 2 dgn dia) dan sampai skrg 
alhamdulillah tidak pernah kami ribut dlm berbisnis dan berdiskusi karena kalau 
demikian halnya perusahaan kami pasti bubar. 

Bang Dody, sejak TPB pun aku beberapa kali kerumah kang Jalal bahkan LMDpun 
kami bawa kang Jalal utk ngisinya. Kayaknya gak terhitung sewaktu kuliah dulu 
aku berinteraksi dengan kang Jalal. Bahkan, aku sewaktu rapat dgn di rmh kak 
Fitri (ketua IMMAM)  mencetuskan shalat ghaib berpulangnya Imam Khomeini di 
lapangan basket ITB. Sampai saat inipun aku masih bersahabat dekat dengan Ali 
Assegaf (boleh abang cek kedia) yang sangat2 Syiah. Jadi kurang apalagi 
pengetahuan dan pergaulanku terhadap Syiah. Apa bang Dody perlu turun tangan 
langsung mendidikku supaya matahatiku terbuka untuk menjadi pengikut Syiah? 
Kalau usulku, bang Dody ajaklah kang Jalal supaya kita bisa berdiskusi berempat 
dengan adikku (Adnin Armas, kang Jalal aku rasa kenal karena adikku pernah 
diundang bedah buku kang Jalal tapi adikku gak bisa hadir waktu itu). Salah 
seorang murid terkasih kang Jalal (pengurus MIZAN, gak etis aku sebut namanya) 
pernah diskusi dengan adikku di Malaysia sampai akhirnya (setelah discuss dgn 
kang Jalal tentunya) mengatakan bahwa kita memang masing2 punya pendapat 
berbeda jadi harus kita terima perbedaan tsb. Itu dia yg mengatakan lho, bukan 
adikku, bang Dody boleh cek, nanti aku kasih tahu orangnya (aku yakin ilmunya 
ttg Syiah tdk diragukan lagi). Intinya, untuk apa kita buang2 energi berselisih 
pendapat yg toh akhirnya kita sepakat untuk tidak sepakat? Aku cinta nabi, 
keluarga dan sahabat2nya. Kalo bang Dody dkk cuma cinta nabi dan keluarga Imam 
Ali, itu haknya bang Dody, untuk apa aku larang2 toh aku juga cinta keluarga 
Imam Ali. Bisa bang Dody bayangkan bagaimana sedihnya Rasulullah SAW melihat 
sesama umatnya bertengkar sementara umat lain sudah jauh meniggalkan kita.... 

Jadi, cerita2 yang bang Dody sampaikan di milis ini bukan hal baru bagiku 
apalagi bagi ulama2 yang memang benar2 ulama (aku sendiri sebenarnya gak suka 
bilang ulama Sunni dan Syiah karena kita melestarikan perbedaan ini mgk sampai 
kiamat). Kenapa kita gak mecoba menjadi umat yg berbeda dari sebelum kita 
dengan mencoba bersatu membangun umat??

Berikut ini tanggapanku disela2 email bang Dody.

Salam sayang,
MA
 
  ----- Original Message ----- 
  From: Nasution, Dody Arfiandi 
  To: [email protected] 
  Sent: Friday, May 11, 2007 2:56 PM
  Subject: RE: [immam] Nabi Muhammad SAW



  Kegagalan atau Keberhasilan bukan di tandai dengan seluruh orang mengikuti 
akhlak Nabi.
  Tetapi Beliau tetap Tegar dalam menyampaikan Risalah Ilahi walaupun di 
khianati oleh sahabat-sahabatnya
  karena memang itulah tugas para Nabi. Sepanjang sejarah para Nabi dikhianati 
dan dibunuh oleh orang2 dekatnya.

  Memang benar sebelum nabi Muhammad banyak nabi (tidak semuanya) dikhianati 
org2 dekatnya termasuk anaknya sendiri (nabi Nuh), justru dari itulah Allah 
menurunkan nabi Muhammad sbg nabi penutup shg tdk ada lagi penghianatan 
besar2an supaya agama Islam tetap lestari. Jika argumen semua nabi dikhianati 
org2 dekatnya dipakai, berarti anak nabi Muhammad (apalagi sepupu) bisa 
berkhianat juga dong.  


  Apalagi definisi sahabat menurut sebagian orang adalah orang yg pernah 
bertemu Nabi SAW.
  Bayangkanlah orang yg seumur hidup memusuhinya dan memeranginya misalnya Abu 
Sofyan (bapaknya Muawiyah) dan keluargnya bahkan istrinya
  adalah yg membunuh Paman Nabi sekarang kita sebut sebagai Sahabat (setelah 
masuk Islam dgn terpaksa ketika Futuh Makkah) .

  Abu Sofyan masuk Islam apakah terpaksa atau tidak bukan urusan kita, itu 
urusan beliau dengan Allah (kita tdk mgk tahu isi hatinya), toh nabi tidak 
menolak keislaman mereka. Kalau memang mereka dilarang berIslam tentu nabi 
pasti akan menolak keislaman mereka tidak perlu menunggu wafatnya nabi baru 
umatnya boleh menolak keislaman mereka. Memang kenyataannya nabi bergaul baik 
dengan mereka koq, walau istrinya Abu Soyan membunuh Hamzah pamannya nabi, 
justru hal tersebut membuktikan ketinggian akhlak nabi dan mulianya ajaran 
Islam. Tidak ada satupun manusia dibunuh oleh kaum muslimin sewaktu Mekkah 
takluk, dan ternyata umat Islam berkembang sangat pesat paska jatuhnya Mekkah.


  Padahal ada banyak orang2 beriman yg dikecam Tuhan karena akhlaknya dan 
perbuatan tidak terpujinya kepada Nabi SAW,
  dalam Al-Quran. Apakah dengan begitu Nabi GAGAL ??. Seringkali kita baca 
Al-Quran hanya bagus bacaannya saja atau baca 
  tapi ga pernah baca artinya.

  Kebetulan saya orangnya kalau baca Quran tidak baca artinya, rasanya kurang 
afdhol dan penasaran pengen tahu apa yg saya baca walaupun saya tidak 
menyalahkan org2 yg hanya membaca saja tanpa baca artinya, karena toh dapat 
pahala juga dan bagi saya pribadi kalau kita membaca Quran dengan baik dan 
benar serta berirama (dilagukan) rasanya tenang hati ini, saya kira inilah 
mukjizat Quran sama halnya kalau kita shalat dibelakang imam yang fasih 
bacaannya, walau surat yg dibaca sgt panjang dan kita tdk tahu artinya tapi 
benar2 menyentuh relung hati kita dan shalatpun tdk terasa lama... 


  Kegagalan adalah kalau Nabi lebih mengikuti kehendak orang lain (termasuk 
sahabat-sahabatnya) ketimbang kehendak Allah SWT ?
  Sebagai contoh kalau kita baca Quran Surat Jumat diceritakan : Ketika Nabi 
lagi khotbah Jumat, hampir semua sahabat meninggalkan
  Nabi yg sedang Khutbah ketika ada pedagang2 yg datang membawa permainan. 
  Bayangkan lah itu  "sahabat" yg kabur meninggalkan Nabi yg lagi Khutbah Jumat 
? Atau "Sahabat-Sahabat" yang lari dari Medan
  Pertempuran padahal Nabi berada di tengah musuh2. (dalam perang Uhud).
  Kalau mau saja baca Kitab2 Hadits nanti kita tercengang sendiri dengan 
kelakuan sebagian besar sehabat.

  Coba apa yang dilakukan nabi menghadapi sahabat yang demikian? Apakah nabi 
mengeluarkan mereka dari Islam? Apakah benar mayoritas sahabat yang melakukan 
hal tersebut? Waktu perang uhud hanya sebagian sahabat yg turun dari bukit dan 
melanggar instruksi nabi, sebagian lain tetap ditempat bahkan mengingatkan 
sahabat ttg instruksi nabi, dan nabi tdk ditinggalkan sendirian karena jika 
benar ditinggalkan sendirian berarti wafatlah nabi dengan cara syahid. Sahabat 
juga minum khamar, berisrtri lebih dari 4 tetapi begitu ayat Alquran turun 
mereka tidak melakukannya lagi padahal sangat berat bagi mereka karena hal tsb 
sdh mjd kebiasaan turun temurun. Bagaimana dgn kita? Walau Quran sdh kita baca 
tapi tetap juga kita berbuat maksiat, apalagi tradisi yg sudah mendarah daging 
walau bertentangan dengan Alquran susah bener kita menghilangkannya. 


  Saya berharap di IMMAM ini agak kritislah dalam berfikir. Apa bedanya kita 
dengan orang2 yg tidak merantau. Jauh2 jauh ke Bandung
  atau ke Jakarta tetap aja cara berfikir kita ga berubah. (karena ga mau meng 
update informasi). Semakin membenarkan hypotesisnya Sigmund Freud
  bahwa "Agama itu memang candu masyrakat". Karena dilihatnya org2 bergama itu 
hanya menerima dogma agama begitu saja.
  Untuk mengetahui apa yg terjadi 1,400 tahun lalu bisa dengan membaca 
Al-Quran, Hadits2 dan pakai Akal dalam menganalisanya.

  Urusan merantau dan mencari ilmu Syiah sudah saya jawab. Tentang suruhan 
kritis cara berpikir, justru kalau kita menghujat dan menghakimi orang lain 
apalagi sahabat yg nabi sendiripun tdk pernah menghakiminya apalagi 
mengeluarkan mrk dari Islam saya kira bukan berpikir kritis namanya. Bang Dody 
masih ingat khan ayat tentang larangan mengkafirkan orang Islam?
  Bagi saya pribadi memang agama Islam rasanya seperti candu. Bila memang saya 
tidak mencandunya, mungkin saya sudah keluar dari Islam sejak dulu2nya. Tdk apa 
Sigmund Freud mencap org seperti saya pecandu agama daripada dia pecandu....

  Untuk mengetahui apa yg terjadi dimasa lalu benar dengan membaca Alquran dan 
Hadits, tapi apakah bang Dody bisa memastikan apakah yang bang Dody ketahui 
pasti benar walaupun bang Dody menggunakan akal sekalipun. Bukankah akal 
memiliki keterbatasan? Coba bang Dody gunakan Alquran, hadist dan akal 
bagaimana rupa Jibril dan malaikat lainnya? Bagaimana persisnya kejadian 
sewaktu nabi isa mau disalib sama org Yahudi? Bagaimana persisnya nabi shalat 
(yang mutlak benar menurut bang Dody)? Apakah membaca Bismillah atau dibaca dgn 
pelan (shir) atau malah nabi tdk baca sama sekali? Bagaimana nabi tahiyat, 
apakah menggerak-gerakkan telunjuk dari awal sampai akhir, atau sewaktu ada 
kata Allah terucapkan, atau sewaktu ucapan syahadat atau malah tidak digerakkan 
sama sekali? Saya yang awam ini ingin berguru dengan bang Dody jika bisa 
menjawab semua pertanyaan saya dengan menggunakan Alquran, Hadist dan analisa 
akal untuk memastikan kebenarannya.


  Kecuali kalau termasuk yg Ingkaru Hadits.. ya susah..... Tidak ada alasan 
kita tidak tahu sejarah Nabi SAW. Jadi nanti  diakhirat
  kita tidak bisa beralasan dihadapan Tuhan karena ga punya  Video perjuangan 
Nabi yg sebenarnya,, karena itu bisa kita ketahui asalkan
  memegang prinsip2 kebenaran dan siap mengikuti kebenaran yg lebih tinggi 
kalau kita temukan bukti2 baru ttg sejarah yg benar.
  Dan yg paling penting mau menggunakan Akal, karena ini adalah kunci Utamanya 
dalam mencari Kebenaran

  Waduh, saya termasuk yang gila baca Hadist sejak SMP, sampai2 orangtua saya 
berpikir saya lebih suka ilmu agama daripada ilmu umum, mungkin bang Dody masih 
ingat sewaktu acara penerimaan anggota baru IMMAM di Lembang tahun 88 saya 
diminta ketua IMMAM utk ngasih Kultum dan saya ngoceh tentang Bab Shalat. 
Bagaimana kita bisa shalat kalo kita ingkar terhadap hadist??
  Apakah yg dimaksud dgn bukti2 baru? Hadist2 baru atau hadist2 lama yang 
seakan2 kita baru mengetahui selama ini? Kalau kita mau bicara hadist, harus 
ada diskusi khusus karena tidak cukup dengan hanya mengutip di sanasini.
   
  Akal hanya sarana bukan kunci utama untuk mencari kebenaran, bagaimana 
menjelaskan dengan akal tentang surga dan neraka? Berapa banyak orang berakal 
tetapi tidak mendapati kebenaran Islam? Jadi, janganlah kita mutlakkan akal 
dalam mencari kebenaran, masih ada iman dan hidayah........
  Wallahua'lam.
  MA


------------------------------------------------------------------------------
  From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Muslim 
Armas
  Sent: Friday, May 11, 2007 12:37 AM
  To: [email protected]
  Subject: [immam] Nabi Muhammad SAW



  Saudaraku seIMMAM,

  Mengingat ketinggian akhlak Rasulullah SAW, mengingat keberhasilannya dalam 
23 tahun dakwahnya, makanya aku tidak pernah percaya bila sahabat2 terkasih 
beliau, keluarga terkasih beliau bertengkar dan penuh intrik / tipu muslihat 
hanya untuk memperebutkan KEKUASAAN. Jika demikian beliau gagal dong untuk 
memperbaiki akhlak umat manusia? Jika untuk sahabat yang setia mengikuti 
perjuangan dan keluarga terkasih beliau saja gagal apalagi untuk kita2 sekarang 
ini.....

  Jika saudaraku mengikuti polemik antara Habibie, Wiranto dan Prabowo 
(ketiga2nya masih hidup dan sehat) ternyata masing2 memiliki persepsi yang 
berbeda terhadap kejadian yang sama sehingga 'pengikut' ketiganya saling 
berkeras untuk mempertahankan argumen bahwa pihaknyalah yang benar, apatah lagi 
kejadian 1400 tahun yang lalu yg kita dapat ceritanya dari mulut kemulut tanpa 
kita saksikan langsung dan tidak bisa kita hadirkan kembali atau kita tayangkan 
videonya, bagaimana kita bisa menjudge pihak mana yang benar, dasarnya apa toh 
masing2 punya argumen yg tdk ada habis2nya. Bila nabi Muhammad terbukti gagal, 
maka beliau bukan nabi penutup karena masih diperlukan lagi rasul yang dapat 
memperbaiki akhlak manusia.

  Jadi menurutku, lebihbaik kita berHUSNUZHON saja supaya kita terhindar dari 
dosa, sahabat terkasih dan keluarga nabi tidak ada yang licik, menggunting 
dalam lipatan, kalaupun terjadi perselisihan itu terjadi karena kesalahpahaman 
yg manusiawi sifatnya atau sempat termakan hasutan org munafik. Jadi kalau 
dicari orang yang salah, ya kita2 ini, yang masih lebih mementingkan urusan 
duniawi daripada akhirat, jauh kali bedanya kita dengan mereka. Wallahualam

  Salam sayang,
  MA
  Visit Your Group 
  SPONSORED LINKS
    a.. Hotel medan indonesia 
    b.. Medan indonesia hotel 
    c.. Medan hotel indonesia 
    d.. Medan indonesia 
    e.. Culture 
  Yahoo! Avatars
  Express Yourself

  Show your style &

  mood in Messenger.

  Y! Messenger
  PC-to-PC calls

  Call your friends

  worldwide - free!

  Yahoo! Mail
  Get on board

  You're invited to try

  the all-new Mail Beta.
  . 
   

Kirim email ke