Bang Dodi ysh, Awak kurang sedap juga dengar cerita-cerita pengkhianatan ini, kalau tak kuat-kuat iman awak, bisa rusak pula aqidah awak. Mangkanya awak komentari dikit terutama untuk adik-adik kita yang imut-imut dan polos-polos itu, supaya nggak ngaruh gitcu. Kalau dapat Bang Dodi tere jugalah untuk ikut milis Surau (http://www.groups.yahoo.com/group/surau), lalu dapat melemparkan pandangan seperti ini, karena di sana banyak jago-jago tafsir, hadits, fiqih, dll yang dapat menilai dan menanggapi dengan benar. Seperti tentang cerita-cerita itu, walaupun asalnya dari kitab-kitab tersohor, belum tentu itu dapat menjadi rujukan. Pernah awak baca diskusi tentang suatu hadits yang dipelintir oleh orang Syiah, katanya dari kitab top-nya Sunni, tapi setelah diperiksa oleh mahasiswa kita yang lagi kuliah di Saudi, ternyata itu merupakan contoh rujukan yang salah dari suatu kitab hadits sahih. Jadi tidak bisa mencuplik begitu saja sesuatu yang "bernilai" sebagai hadits, apalagi sampai pada riwayat dan sejarah. Kalau Bang Muslim yang dihadapi, awak yakin saja, karena beliau ini sudah belajar dari pengalaman masa Snouk Horgronye masuk gampong keluar gampong. Jadi di gampong A dia jadi Syiah, di gampong B dia jadi Sunni. Setelahnya tinggal diantukkan saja. Cuman kalau sampai kepada Bang Muara, khawatir awak, salah-salah tangkap malah bisa jadi ekstrimis. Rugi pulak awak. Anjuran mengenai aksioma itu bisa-bisa saja. Namun runtunan aksioma itu berbeda-beda untuk setiap orang. Munculnya rasa kasih dan sayang kepada Allah itu merupakan suatu hidayah, dan setiap muslim memperolehnya dengan cara yang berbeda-beda. Memang sebaiknya kalau kita berkemampuan dan bisa mengerti dan memahami dzat Allah itu, dengan "metoda" agama, maka sebenarnya hakikat keilahiatan dan insaniyah itu akan mudah dipahami. Sependek urat leher kita. Terjangkaunya dengan tangan kita. Namun kalau masih berkutat pada "metoda", itulah jadinya, bisa-bisa kita salahkan pulak orang dulu-dulu. Sementara itu dulu. Salam.
-datuk --- In [email protected], "Nasution, Dody Arfiandi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kegagalan atau Keberhasilan bukan di tandai dengan seluruh orang > mengikuti akhlak Nabi. > Tetapi Beliau tetap Tegar dalam menyampaikan Risalah Ilahi walaupun di > khianati oleh sahabat-sahabatnya > karena memang itulah tugas para Nabi. Sepanjang sejarah para Nabi > dikhianati dan dibunuh oleh orang2 dekatnya. > Apalagi definisi sahabat menurut sebagian orang adalah orang yg pernah > bertemu Nabi SAW. > > Bayangkanlah orang yg seumur hidup memusuhinya dan memeranginya misalnya > Abu Sofyan (bapaknya Muawiyah) dan keluargnya bahkan istrinya > adalah yg membunuh Paman Nabi sekarang kita sebut sebagai Sahabat > (setelah masuk Islam dgn terpaksa ketika Futuh Makkah) . > > Padahal ada banyak orang2 beriman yg dikecam Tuhan karena akhlaknya dan > perbuatan tidak terpujinya kepada Nabi SAW, > dalam Al-Quran. Apakah dengan begitu Nabi GAGAL ??. Seringkali kita baca > Al-Quran hanya bagus bacaannya saja atau baca > tapi ga pernah baca artinya. > > Kegagalan adalah kalau Nabi lebih mengikuti kehendak orang lain > (termasuk sahabat-sahabatnya) ketimbang kehendak Allah SWT ? > Sebagai contoh kalau kita baca Quran Surat Jumat diceritakan : Ketika > Nabi lagi khotbah Jumat, hampir semua sahabat meninggalkan > Nabi yg sedang Khutbah ketika ada pedagang2 yg datang membawa permainan. > > > Bayangkan lah itu "sahabat" yg kabur meninggalkan Nabi yg lagi Khutbah > Jumat ? Atau "Sahabat-Sahabat" yang lari dari Medan > Pertempuran padahal Nabi berada di tengah musuh2. (dalam perang Uhud). > > Kalau mau saja baca Kitab2 Hadits nanti kita tercengang sendiri dengan > kelakuan sebagian besar sehabat. > > Saya berharap di IMMAM ini agak kritislah dalam berfikir. Apa bedanya > kita dengan orang2 yg tidak merantau. Jauh2 jauh ke Bandung > atau ke Jakarta tetap aja cara berfikir kita ga berubah. (karena ga mau > meng update informasi). Semakin membenarkan hypotesisnya Sigmund Freud > bahwa "Agama itu memang candu masyrakat". Karena dilihatnya org2 bergama > itu hanya menerima dogma agama begitu saja. > Untuk mengetahui apa yg terjadi 1,400 tahun lalu bisa dengan membaca > Al-Quran, Hadits2 dan pakai Akal dalam menganalisanya. > > Kecuali kalau termasuk yg Ingkaru Hadits.. ya susah..... Tidak ada > alasan kita tidak tahu sejarah Nabi SAW. Jadi nanti diakhirat > kita tidak bisa beralasan dihadapan Tuhan karena ga punya Video > perjuangan Nabi yg sebenarnya,, karena itu bisa kita ketahui asalkan > memegang prinsip2 kebenaran dan siap mengikuti kebenaran yg lebih tinggi > kalau kita temukan bukti2 baru ttg sejarah yg benar. > Dan yg paling penting mau menggunakan Akal, karena ini adalah kunci > Utamanya dalam mencari Kebenaran
