Mba Ambar
Saya sendiri ga masalah dengan infrastruktur & transport yang seadanya 
karena memang disitulah keluar jiwa seninya seorang backpacker.
Pernah menginap di gubug yang cuma dilapisin gedeg yang super tipis dengan 
kamar mandi terbuka dan cuma bermodalkan sarung dan malamnya hujan lagi! tapi 
semua dibawa senang hati karena yang berangkat rombongan nekad modal dan jiwa. 
Tapi masalahnya yang mau menikmati keindahan Indonesia yang bejibun kan ga 
hanya golongan backpacker aja.
Baru ingat liburan kemarin ke Samosir dengan naik boat bawa rombongan oma-oma 
yang mau nostalgia :)
Ternyata mau naik kapal aja cuma diletakkan karung pasir dan dan ban.Turun 
dari ferri cuma disediakan selembar triplek! 
Harusnya yang menikmati pariwisata Indonesia kan dari semua golongan masyarakat 
dari mulai anak -anak sampai sepuh.Dari minoritas sampai mayoritas (kok jadi 
kayak iklan kampanye capres ya?) 
Kalau yang menikmati hanya segelintiran orang dari tiap golongan misal 
segelintiran backpacker, segelintiran ibu-ibu pejabat, segelintiran traveller 
media yah kapan mau majunya pariwisata kita? 
Wisata Indonesia emang ga ada matinye..
 
Salam 
Yosephine 
Curcol sambil ngerjain bejibun kerjaan 
 
 
 
 
 


--- On Tue, 6/30/09, Ambar Briastuti <[email protected]> wrote:


From: Ambar Briastuti <[email protected]>
Subject: Re: [indobackpacker] Peluang Wisata Indonesia..
To: "[email protected]" <[email protected]>
Cc: "Indra Btara" <[email protected]>, [email protected]
Date: Tuesday, June 30, 2009, 7:41 PM








Mas Anas, Sari, Yosephine, Dani, Yuanz, Indra,  Tari, 

Sebelumnya makasih bangets atas koreksi tentang World Heritage Sites di Vietnam 
yang tercatat punya 5 buah, bukan nol seperti di email sebelumnya. Buat temen2 
yang pengen tahu daftar lengkapnya bisa dilihat disini http://whc.unesco. 
org/en/list

Pertanyaan mudah : Apa sih yang membuat kita pengen mengunjungi sebuah tempat? 
Duluuuu saya percaya bahwa infrastruktur adalah kunci utama. Kalau ngga ada 
jalan, mana ada sih orang mo datang. Kalau ngga ada toilet mana ada sih orang 
mo singgah.  Hingga kemudian saya mencoba backpacker, ke tempat-tempat yang 
dianggap "tidak layak" tadi. Ada yang nyari transport aja susah bukan main, 
apalagi tempat menginap. 

Seorang kawan di kaki Merapi pernah menjawab ragu ketika saya usulkan membuat 
jalur treking (ngga musti muncak). Tanyanya, "Trus mereka ini mau diinepin 
dimana mbak?". Saya bilang, "Yah di tempat penduduk, dengan fasilitas yang 
lebih baik". Dia masih sangsi, karena sebagian penduduk disana, antara rumah 
dan kandang ternak terkadang menjadi satu. 

Lantas saya cerita pengalaman saya trekking di Thailand Selatan, di Chiang Do. 
Tiga hari trek itu, saya menginap di gubuk beratap jerami, dengan tempat tidur 
beralas biasa. Karena dingin, cuma diberi sleeping bag tipis. Tidak ada 
listrik, jadi hanya lilin. Tidak ada kendaraan, jadi dipesankan pick up 
chevrolet dengan jalanan yang 'menyenangkan'.  Kelima kawan saya (semuanya 
foreigners, dua dari Australia, dua dari Malaysia, dan satu Inggris) menyatakan 
berbahagia dengan kondisi ini. Walau tak jauh dari situ ada kandang babi dan 
kambing. Mereka tentu sudah 'diperingatkan' bahwa ini bukan sembarang 
travelling.

Nah kembali ke infrastruktur. Siapa sih yang membutuhkan infrastruktur? Apakah 
jalan yang mulus akan menjadi jaminan tempat itu laris manis. Atau hotel dan 
kawasan menarik akan membuta pengunjung kesana? 
Belajar dari mentalitas bangsa Asia (maaf kalau tersinggung) , kita ini suka 
membuat dan membangun hal yang baru, tetap lupa memelihara. Padahal memelihara 
itu mungkin usahanya 10x dari membangun, karena membutuhkan kesabaran, passion 
dan kesungguhan.

Kebanyakan infrastruktur pariwisata dibangun berdasar azas 'trickle down 
effect' yakni dari yang punya duit turun ke lapisan bawah atau pelaku wisata. 
Akibatnya begitu dibuatkan fasilitas, tidak ada yang merasa mempunyai, terlebih 
mau memelihara. Kan itu tanggung jawab pemerintah, mereka to yang bikin. 
Ngapain saya yang bersih2. 

Beda dengan wisata di Bali misalnya. Tanpa mengurangi peran pemerintah, di era 
awal pariwisata kebanyakan dilakukan oleh kawasan bawah dengan modal seadanya. 
Tergiur berita keindahan Bali, para turis datang dan memilih tinggal dengan 
penduduk. Lahirlah homestay, bed n breakfast atau hostel. 

Sungguh sangat sulit meyakinkan pubilk Indonesia bahwa tanpa infratruktur 
memadai-pun kita bisa. Bukannya menafikkan, tetapi itu bukanlah "the only 
factor" yang membuat sebuah negara maju di bidang pariwisata. Lihatlah 
Malaysia. Dibanding Indonesia, penginapan dan jalan disana bisa dibilang ngga 
ada apa2. Tapi karena terkoneksi dengan baik dan merasa percaya diri dengan 
asset mereka, toh dijual dengan mengesankan. 

Karena itu kenapa ada backpacker, bukannya traveller. Karena mindset seorang 
backpacker berbeda dengan traveller. Ia tidak mengharuskan transport yang 
mapan, penginapan yang empuk atau makanan yang super lezat. Mereka adalah 
orang2 yang bersedia menjadi bagian dari pangsa pasar yang berbeda dari 
"ordinary tourist". Kita jadi bertanya, apakah memang kita bisa dikatagorikan 
seperti itu? Jika tidak, berarti memang perpektif kita masih seperti dulu, yang 
mengandalkan mass-market, bukannya untuk adventures, ecotourism dan cultural 
yang lebih ke small group dan personal. 

Karena itu saya salut banget dengan upaya daerah yang mengeliat, mencoba 
memberikan wacana baru. Seperti Jember dan Blitar misalnya. Siapa sih yang mau 
kesana tiga tahun silam?  Ibarat orang jualan soto klethak di Bantul, biarpun 
kudu masuk kampung, jalanan jelek tetep mau datang. 

Mas Anas : salut dengan blog kalimantan-nya, semoga makin rajin posting tentang 
potensi daerah. Ngga perlu malu, ngga perlu minder. Seperti Pak Petrus di Ujung 
Genteng, yang akhirnya membujuk orang untuk datang. 

Salam,
Ambar B



2009/6/29 Indra Btara <indrabt...@gmail. com>









 


mempromosikan dengan serius. 
 
Pengen banget usul kalo bisa fokus pada beberapa hal dulu, jangan sekaligus 
membangun seluruh tempat wisata.
Misal 2-3 tahun depan kita fokus ke world heritage (seperti yang Mba Ambar 
bilang ada 7). Promosiin itu abis-abisan, perbaiki infrastruktur di 7 area 
tersebut, permudah penerbangan ke 7 area tersebut, persiapkan mental masyarakat 
di area tersebut, dll. Soalnya kalau terlalu banyak yang mau kita promosiin 
jadinya masing2 dipromo tapi kecil-kecil, nanggung.
Giliran wisata budaya, di beberapa tahun ke depan. Pilih beberapa budaya yang 
layak kita jual. Kesannya pilih kasih, tapi kita perlu fokus dulu. Kalo sudah 
banyak yang datang toh nantinya mereka juga akan tahu bahwa masih banyak 
pilihan mereka.

















      

Kirim email ke