Setuju Pak Pur, Saya juga salah itu, itu memang tidak wajar, tadi pun pas mau menulis rada ragu, ternyata bener kata2 wajar itu harus kita buang jauh2 dimanapun tidak peduli di jalanan ataupun di TV. mari kita2 sama2 menyadarinya, kita harus mengambalikan budaya pisitif kita untuk saudara, adik, anak dan sepupu2 kita.
Guru di sekolah punya peranan strategis, bisa melarang anak2 bertato ataupun bertindik ria... Pak Pur, nitip ya. Sebuah pertanyaan yang perlu kita jawab buat kita semua: 1. Apakah anak laki2 / perempuan kita bertato? 2. Apakah anak laki2 kita memakai tindik? 3. Apakah anak perempuan kita memakai cenalan yang sangat pendek di jalanan? 4. Apakah kita terus belajar cara mendidik anak? atau hanya mempercayakan ke sekolah? Salam superrr! ASROFI Address 1 : Jl. RA Kartini No.14 Kebumen Sukorejo Kendal Jawa Tengah Address 2 : Jl. Attahiriyah No.33H Pejaten Barat Pasar Minggu Jakarta Selatan Address 3 : Ds. Getas Blawong Rt.02 Rw.04 Pageruyung Kendal Mobile : +6281 311 661 479 Yahoo : asrofism G-Talk : [email protected] Email : [email protected] Blog : www.asrofi.web.id Office : www.sentraproperty.com 2009/6/13 PakPur <[email protected]> > > > Mas Asrofi Ysh, > Ijinkan sedikit "mengkritisi" apa yg diungkapkan oleh Mas Asrofi. > Mas Asrofi menyebut kata "wajar" pada kasus tersebut. Inilah yg akan saya > kritisi. Mohon maaf sebelumnya. > "Kewajaran" yang terjadi dalam masyarakat kita sebenarnya adalah sebuah > akulturasi budaya yang secara otomatis diserap oleh masyarakat tersebut. > Bentuk2 atau eksperesi budaya ini bisa "masuk" lantaran masyarakat juga > memberi peluang untuk itu. Media adalah salah satu alat belajar budaya yang > paling efektif dan efisien. Cepat, murah, reliabel, dan menyebar sangat > jauh. > Fenomena tindik hanyalah salah satunya. Bagaimana dengan *tank top*, rok > mini, yg kita lihat di sinetron2. Wajarkah ? Coba tengok di Jakarta, adakah > ? > Tanggung jawab budi pekerti bangsa, ijinkan saya menyebut demikian, > sungguh, bukan hanya tanggung jawab guru semata. Saya berasumsi bahwa si > anak yang tindikan tadi punya orang tua, nah ... bagaimana sikap orang > tuanya ? saudara2nya ? lingkungannya ? Ekspresi "keakuan" inilah yg > semestinya kita semua saling "mengingatkan", namun masyarakat kita > sepertinya sudah "terlanjur sakit". Mengingatkan seseorang di jaman seperti > sekarang ini , sangat mungkin bisa berakibat fatal. > Yang kedua, "hukum" HAM yg sering dipakai oleh anak2 sekolah jaman > sekarang, diakui atau tidak, cukup menakutkan bagi guru. Siapa yang sudi > berurusan dengan polisi gara2 mengingatkan "kesopanan" seorang anak, dan > ternyata si anak tdk terima ? > Ini sebenarnya masalah kita bersama. Sama seperti bunyi knalpot yang sangat > mengganggu yang "katanya" untuk merayakan kelulusan. Bagian mana dari opera > kelulusan seperti itu yang diridhoi oleh masyarakat ? > Monggo mari kita renungkan bersama. Jika kita berpikir kita bisa berperan > ... di bagian mana di bangsa ini saya bisa berperan ? > > Salam > PakPur > > Pada 13 Juni 2009 13:37, ASROFI <[email protected]> menulis: > > >> >> Katur teman2 Kendal Online, >> >> Beberapa minggu lalu saya menemui anak SLTA Sukorejo yang memakai tindik >> di dagu. Hal semacam itu di jalan2 wajar, tapi rasanya kalo masih pakai >> sragam sekolah kok ya aneh.. >> Pertanyaan saya buat temen2 di sini yang kebetulan jadi guru: Apakah kita >> akan membiarkan anak didik kita yang cowo memakai tindik di kelas? >> >> Terimakasih, >> >> ASROFI >> >> Address 1 : Jl. RA Kartini No.14 Kebumen Sukorejo Kendal Jawa Tengah >> Address 2 : Jl. Attahiriyah No.33H Pejaten Barat Pasar Minggu Jakarta >> Selatan >> Address 3 : Ds. Getas Blawong Rt.02 Rw.04 Pageruyung Kendal >> >> Mobile : +6281 311 661 479 >> Yahoo : asrofism >> G-Talk : [email protected] >> Email : [email protected] >> Blog : www.asrofi.web.id >> Office : www.sentraproperty.com >> > > >

