Semuanya karena tidak adanya kejelasan siapa dan aturan yang memberikan sangsi 
yang tegas, akhirnya harus saling menyalahkan dan saling menunggu ini siapa 
ya...,yang seharusnya punya kewenangan menegor dan memberi sangsi, kebiasaan 
yang tidak jelas dan kurangnya kepedulian pihak-pihak yang berwenang lama-lama 
menumbuhkan kebiasaan yang aneh-aneh di masyarakat sehingga menjadi suatu tren 
baru yang bisa diikutin bahkan menjadi kebanggaan dari suatu kaum yang lagi 
mencari jati dirinya karena tidak adanya kontrol di masyarakat umumnya, semua 
pastinya hanya saling tuding menuding; kenapa.., kenapa..., kok tidak ada yang 
menegor dan melarang kalau hal-hal tersebut kurang baik dalam kehidupan 
bermasyarakat, trus siapa..., siapa..., yang harusnya mengingatkan bahkan 
menghentikan tren-tren baru yang kurang baik ini, jadinya siapa yang seharusnya 
dapat memberi sangsi? semua tidak jelas dan kurang tegas.
Orang yang paling dekatpun saat ini juga beranggapan kalau hal ini juga tidak 
baik, tapi apa daya tangan tak sampai, itulah yang terjadi di masyarakat saat 
ini, semua akhirnya diam seribu bahasa, hanya segelintir masyarakat yang hanya 
bisa ngelus dada melihat perubahan-perubahan ini, tanpa bisa berbuat apa-apa.
Akankah fenomena ini akan terus terjadi sehingga tatanan kaidah agama, sopan 
santun, budi pekerti sudah tidak mampu membendungnya? jawabnya seharusnya 
tidak..., asalkan aturan dan ketegasan serta sangsi jelas di tegakkan dalam 
masyarakat kita, janganlah semua aturan dibuat abu-abu sehingga semuanya 
menjadi tidak jelas dan membingungkan.

salam
By



________________________________
From: PakPur <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Saturday, June 13, 2009 11:09:57 PM
Subject: Re: [kendal-online] Komitmen Guru terhadap Pendidikan Kesopanan





Wah, diskusinya makin menarik yah ...
Apa yg disampaikan Mas Ery, setidaknya menurut saya, sudah tepat. Seorang guru 
yang "masih" peduli pasti akan melakukan hal tersebut. Saya juga setuju dengan 
ungkapan Mas Ery tentang peran serta masyarakat. Sungguh tidak mudah melakukan 
hal tersebut :) Perjuangan "mental" para guru jauh lebih "berat". Setidaknya 
ini terbukti dari pertanyaan Mas Asrofi yang menjadi topik utama di sini. 
Kadang masyarakat sedikit "melupakan diri" pada peran ini. Kepedulian yang 
berbuah "pahit" kemungkinan besar akan dihindari. Inilah yang kemudian membuat 
proses "pembudayaan perilaku" yang (sayangnya) negatif ini menjadi semakin 
"mudah" berkembang dan semakin "sulit" dikontrol.
Sebagai guru, batin saya makin sering menangis, sedih karena saya menyadari 
kadang saya tidak mampu berbuat apa-apa, atau "perbuatan" saya sepertinya 
seperti menggarami lautan. Hal yang membesarkan hati saya adalah sekurang2nya 
saya tidak pernah me-ridhoi hal tersebut.

Salam "peduli"
PakPur


Pada 13 Juni 2009 22:29, ery wijaya <muh_ery_wijaya@ yahoo.co. uk> menulis:




Kalau saya (dan tentu saya yakin semua guru) pasti akan melarangnya mas Asrofi. 
Kadang pas dilarang ya si murid pasti melepasnya, tapi kemudian kan menjadi 
sangat mungkin kalau di luar sekolah dia memakainya lagi. Kemudian hal ini 
menjadi kontrol masyarakat dan keluarga yang lebih mempunyai banyak kesempatan 
dibanding dengan  seorang guru yang mungkin ketemunya hanya beberapa jam saja 
sehari. Mas Asrofi saya kira juga berhak negur anak itu (meski bukan Gurunya) 
dan meski resikonya mungkin dia gak ngenet lagi di warnetnya mas Asrofi, tapi 
setidaknya mas Asrofi ikut dalam peran serta menjadi masyarakat yang memberikan 
kontrol yang baik.

Kalau Guru melarang muridnya tindikan itu hal yang lumrah karena berada dalam 
lingkungan pendidikan, nah kalau kita sebagai anggota masyarakat ikut serta 
saya kira itu kepedulian yang luar biasa di era tumbuhnya trend masyarakat yang 
cuek satu sama lain. 

Mohon maaf kalau ada kata2 yang salah 


Salam, 


Ery Wijaya
http://erywijaya. wordpress. com/







________________________________
From: ASROFI <m...@asrofi. web.id>
To: kendal-online@ yahoogroups. com
Sent: Saturday, 13 June, 2009 22:19:08 

Subject: Re: [kendal-online] Komitmen Guru terhadap Pendidikan Kesopanan



betul mas

tapi yg aku maksud bukan soal pendidikan secara umum tetapi

"seorang anak sekolah berseragam pakai tindik di DAGU nya main di warnet saya 
di Sukorejo, kalau saya gurunya saya akan melaranynya secara lgsg dengan cara 
sebisa mungkin" 

bagaimana kalau anda jadi gurunya mas?


thks


ASROFI

Address 1 : Jl. RA Kartini No.14 Kebumen Sukorejo Kendal Jawa Tengah
Address 2 : Jl. Attahiriyah No.33H Pejaten Barat Pasar Minggu Jakarta Selatan
Address 3 : Ds. Getas Blawong Rt.02 Rw.04 Pageruyung Kendal

Mobile  :  +6281 311 661 479 
Yahoo : asrofism
G-Talk : m...@asrofi. web.id
Email : m...@asrofi. web.id
Blog : www.asrofi.web. id
Office : www.sentraproperty. com



2009/6/13 ery wijaya <muh_ery_wijaya@ yahoo.co. uk>




Klo hemat saya, waktu yang dihabiskan seorang siswa di lingkungan keluarga itu 
lebih banyak dari pada di lingkungan sekolah. Mungkin di sekolah hanya 7-8 Jam, 
tapi selebihnya adalah lingkungan keluarga. Jadi saya rasa pengaruh keluarga 
itu sangat besar membentuk karakter seorang anak, lebih dari pengaruh guru di 
sekolah.

Salam, 


Ery Wijaya
http://erywijaya. wordpress. com/







________________________________
From: ASROFI <m...@asrofi. web.id>
To: kendal-online@ yahoogroups. com
Sent: Saturday, 13 June, 2009 19:33:16
Subject: Re: [kendal-online] Komitmen Guru terhadap Pendidikan Kesopanan



Setuju Pak Pur,

Saya juga salah itu, itu memang tidak wajar, tadi pun pas mau menulis rada 
ragu, ternyata bener kata2 wajar itu harus kita buang jauh2 dimanapun tidak 
peduli di jalanan ataupun di TV. mari kita2 sama2 menyadarinya, kita harus 
mengambalikan budaya pisitif kita untuk saudara, adik, anak dan sepupu2  kita.

Guru di sekolah punya peranan strategis, bisa melarang anak2 bertato ataupun 
bertindik ria... Pak Pur, nitip ya.

Sebuah pertanyaan yang perlu kita jawab buat kita semua:

        1. Apakah anak laki2 / perempuan kita bertato?
        2. Apakah anak laki2 kita memakai tindik?
        3. Apakah anak perempuan kita memakai cenalan yang sangat pendek di 
jalanan?
        4. Apakah kita terus belajar cara mendidik anak? atau hanya 
mempercayakan ke sekolah?
Salam superrr!

ASROFI

Address 1 : Jl. RA Kartini No.14 Kebumen Sukorejo Kendal Jawa Tengah
Address 2 : Jl. Attahiriyah No.33H Pejaten Barat Pasar Minggu Jakarta Selatan
Address 3 : Ds. Getas Blawong Rt.02 Rw.04 Pageruyung Kendal

Mobile  :  +6281 311 661 479 
Yahoo : asrofism
G-Talk : m...@asrofi. web.id
Email : m...@asrofi. web.id
Blog : www.asrofi.web. id
Office : www.sentraproperty. com



2009/6/13 PakPur <pak...@gmail. com>




Mas Asrofi Ysh,
Ijinkan sedikit "mengkritisi" apa  yg diungkapkan oleh Mas Asrofi. 
Mas Asrofi menyebut kata "wajar" pada kasus tersebut. Inilah yg akan saya 
kritisi. Mohon maaf sebelumnya.
"Kewajaran" yang terjadi dalam masyarakat kita sebenarnya adalah sebuah 
akulturasi budaya yang secara otomatis diserap oleh masyarakat tersebut. 
Bentuk2 atau eksperesi budaya ini bisa "masuk" lantaran masyarakat juga memberi 
peluang untuk itu. Media adalah salah satu alat belajar budaya yang paling 
efektif dan efisien. Cepat, murah, reliabel, dan menyebar sangat jauh. 
Fenomena tindik hanyalah salah satunya. Bagaimana dengan tank top, rok mini, yg 
kita lihat di sinetron2. Wajarkah ? Coba tengok di Jakarta, adakah ? 
Tanggung jawab budi pekerti bangsa, ijinkan saya menyebut demikian, sungguh, 
bukan hanya tanggung jawab guru semata. Saya berasumsi bahwa si anak yang 
tindikan tadi punya orang tua, nah ... bagaimana sikap orang tuanya ? 
saudara2nya ? lingkungannya ? Ekspresi "keakuan" inilah yg semestinya kita 
semua saling "mengingatkan", namun masyarakat kita sepertinya sudah "terlanjur 
sakit". Mengingatkan seseorang di jaman seperti sekarang ini , sangat mungkin 
bisa berakibat fatal. 
Yang kedua, "hukum" HAM yg sering dipakai oleh anak2 sekolah jaman sekarang, 
diakui atau tidak, cukup menakutkan bagi guru. Siapa yang sudi berurusan dengan 
polisi gara2 mengingatkan "kesopanan" seorang anak, dan ternyata si anak tdk 
terima ?
Ini sebenarnya masalah kita bersama. Sama seperti bunyi knalpot yang sangat 
mengganggu yang "katanya" untuk merayakan kelulusan. Bagian mana dari opera 
kelulusan seperti itu yang diridhoi oleh masyarakat ?
Monggo mari kita renungkan bersama. Jika kita berpikir kita bisa berperan ... 
di bagian mana di bangsa ini saya bisa berperan ?

Salam 
PakPur


Pada 13 Juni 2009 13:37, ASROFI <m...@asrofi. web.id> menulis: 





Katur teman2 Kendal Online,

Beberapa minggu lalu saya menemui anak SLTA Sukorejo yang memakai tindik di 
dagu. Hal semacam itu di jalan2 wajar, tapi rasanya kalo masih pakai sragam 
sekolah kok ya aneh..
Pertanyaan saya buat temen2 di sini yang kebetulan jadi guru: Apakah kita akan 
membiarkan anak didik kita yang cowo memakai tindik di kelas?

Terimakasih,

ASROFI

Address 1 : Jl. RA Kartini No.14 Kebumen Sukorejo Kendal Jawa Tengah
Address 2 : Jl. Attahiriyah No.33H Pejaten Barat Pasar Minggu Jakarta Selatan
Address 3 : Ds. Getas Blawong Rt.02 Rw.04 Pageruyung Kendal

Mobile  :  +6281 311 661 479 
Yahoo : asrofism
G-Talk : m...@asrofi. web.id
Email : m...@asrofi. web.id
Blog : www.asrofi.web. id
Office : www.sentraproperty. com










      

Kirim email ke