Mega, presiden
Gelombang dukungan semakin mengental, bahkan seolah merupakan gelombang
balik yang menderas berseberangan dengan gelombang yang baru saja
dihempaskan, yang menggunakan sejumlah isu untuk menghantam Mega
sebagai calon presiden. Jika Anda bangun pagi, sempatkan untuk
mendengar sejumlah kuliah subuh yang dipancarkan melalui stasiun teve,
maka penerimaan sosok Mega sebagai calon presiden seolah 180 derajad
dibanding yang beredar di milis ini, dengan isu agamanya itu.
Selain itu, sejumlah suara di kalangan politikus pun sudah mulai
menunjukkan sikap apa yang akan mereka ambil di kala sidang MPR nanti.
Secara umum mereka bisa menerima Megawati.
Hampir bisa dipastikan separuh lebih anggota Golkar akan menyerahkan
suaranya kepada PDI-Perjuangan. Juga para anggota PPP. Mereka pasti
lebih memilih untuk lebih bersiap diri menghadapi tantangan pemilu
depan, dibanding harus mengorbankan waktu dan citranya untuk sebuah
pemilu yang sudah ketahuan hasilnya seperti saat ini. Terlalu
memperpanjang ribut tak bisa merubah urutan pemenang dan menghalangi
caleg pihak lawan untuk hadir di majelis.
Seperti pernah aku utarakan di milis ini, bahwa bagaimanapun, yang
namanya undi sudah dilempar. Semua sudah sepakat untuk melaksanakan
pemilu, tanpa ada prasyarat apa-apa, seperti soal gender, serta strata
pendidikan. Bahkan boleh jadi (bukan berniat sinis mas Pudyo) mereka
mengira bahwa PDI-Perjuangan menyimpan borok-borok (Mega yang wanita,
pernah mengunjungi pura, pendidikan cuma SMA, dan massa yang tak
berpendidikan) yang membuat tersungkur di saat pemilu. Sayang, sejarah
menoreh catatan yang lain.
Mestinya, hasil pemilu apa pun, yah sudahlah (repot aku menulis seperti
ini, karena seolah-olah menyinisi mengingat PDI-Perjuangan terbukti
menang). Mending membuat sebuah strategi baru menghadapi pemilu lima
tahun depan, senyampang pihak-pihak tertentu sedang sibuk pesta dan
mabuk kemenangan. Segera tarik simpati rakyat dengan
perbuatan-perbuatan yang jujur dan sewajarnya. Jangan seperti Agus
Miftah yang masih juga berlaku tak etis, yang disiarkan sedemikian luas
di berbagai media massa. Dengan begitu Agus Miftah akan sangat dikenal
dan dikenang, yang membuat apa pun partainya nanti, pasti tersungkur.
Diskusi di milis ini enak sekali. Semua peristiwa bebas dinilai dari
sudut pandang yang mana pun, boleh pilih, manasuka. Hamzah Haz, yang
begitu gagah menyatakan untuk maju jadi capres, dan dengan gagah pula
bikin pernyataan hanya akan memilih kader partainya, namun kemudian
datang menawarkan suaranya ke Hahihie, bisa dianggap sebagai pahlawan
nan tahu diri. Tetapi PDI-Perjuangan yang menang besar, dan tetap
menyodorkan Megawati sebagai capres, bisa diberikan nilai tak tahu
diri. Untuk yang seperti ini, aku ya nyerah saja. Tahu diri.
GIGIH
_________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!