Para Ulama pesantren yang berkumpul di Jateng sudah tegas mengatakan, bahwa
isu gender yang dikaitkan dengan agama itu adalah lebih pada memakai agama
untuk kepentingan politik. Berarti, memakai isu tersebut belum bisa
dikatakan "sesuai dengan ajaran agamanya". Dan yang sangat jelas: isu itu
bertentangan dengan demokrasi. Bung Komkom, dalam replynya ini memakai
standard ganda (bukan glodok standard lho, he..he..he..); kalau pakai isu
agama boleh tapi kalau bikin jap jempol tidak boleh. Bagi saya, keduanya
tidak boleh dilakukan. Biarkan saja demokrasi bekerja. Sebab bila demokrasi
bekerja, kita tidak mempolitisasi agama dan karena itu, tak perlu juga bikin
jap jempol.
Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
____________________________________________
Dukunglah Kampanye AGAMA untuk PERDAMAIAN!
Forum Mahasiswa untuk Kerukunan Umat Beragama (FORMA-KUB)
Kunjungi http://come.to/forma-kub E-mail: [EMAIL PROTECTED]
-----Original Message-----
From: Raja Komkom S. <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 30 Juni 1999 13:10
Subject: Re: [Kuli Tinta] Mega presiden
Masuk akal,
Terus terang argument Anda di bawah sangat bagus dan bisa diterima.
Dalam Konteks demokrasi di Indonesia, tentunya apa yang terjadi di Negeri
sono nggak akan bisa di telan bulat-bulat oleh bangsa Indonesia. Ingat,
mau-tidak mau Indonesia masih dalam proses demokrasi.
Demokrasi, Semua orang bebas punya pendapat sendiri-sendiri asal sesuai
aturan demokrasi itu sendiri dan UU yang berlaku.
Penolakan Mega dengan alasan GENDER (Karena perempuan), jelas bertentangan
dengan aturan demokrasi dan UU yang berlaku, tapi sebagai negara yang
menghormati dan melindungi agama orang yang memunculkan isu gender tidak
bisa disalahkan karena itu sesuai dengan ajaran agama mereka.
Dukungan mengerikan terhadap Mega, Cap Jempol Pake Darah, tentunya sangat
bertentangan dengan prinsip demokrasi, Intimidasi namanya. Bayangkan kalau
pendukung Habibie melakukan hal yang sama, jadinya PERANG barangkali.
Jadi, setiap orang boleh mengungkapkan pendapat asal sesuai aturan, kalau
bisa isu gender, jempol pake darah itu harus dihindari dan butuh kesadaran
dari elite-elite politik untuk menyadarkan anak bawahannya.
Dalam konteks mengakui kekalahan, Kembali saya harus salut terhadap Prof.
Amien Rais.
Aturan di Indonesia, andai kita di Amerika, kita bisa langsung pilih
presiden jagoan kita. Di Indonesia, harus melalui MPR. Itulah aturannya
dan itu harus kita hormati, apapun hasil pilihan MPR. Kalau mau fair, ada
baiknya kita ganti UUD kita sekalian.
Inilah demokrasi, mari kita belajar bersama, belajar menerima kekalahan,
belajar menerima kemenangan.
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!