On Wed, 30 Jun 1999, Martin Manurung wrote:
> Para Ulama pesantren yang berkumpul di Jateng sudah tegas mengatakan, bahwa
> isu gender yang dikaitkan dengan agama itu adalah lebih pada memakai agama
> untuk kepentingan politik. Berarti, memakai isu tersebut belum bisa
> dikatakan "sesuai dengan ajaran agamanya". Dan yang sangat jelas: isu itu
> bertentangan dengan demokrasi. Bung Komkom, dalam replynya ini memakai
> standard ganda (bukan glodok standard lho, he..he..he..); kalau pakai isu
> agama boleh tapi kalau bikin jap jempol tidak boleh. Bagi saya, keduanya
> tidak boleh dilakukan. Biarkan saja demokrasi bekerja. Sebab bila demokrasi
> bekerja, kita tidak mempolitisasi agama dan karena itu, tak perlu juga bikin
> jap jempol.
>
Begini bung Martin,
Maksuda saya kan begini, Kelompok yang mengaku sebagi Islam itu silahkan
saja menggunakan argument ajaran agamanya untuk menolak Megawati. Saya
rasa itu sah-sah saja dalam demokrasi, kan bebas berpendapat.
Yang penting itu hanya sebatas pendapat, dan tidak ada yang namanya
mobilisasi Massa besar-besaran dan pemaksaan.
Nah kalau jempol darah kan sudah mengarah ke ancaman dan teror, mestinya
mereka (para pendukung PDIP) nggak perlu merasa terdesak dengan
serangan-serangan anti PDIP dan anti Megawati, tetap aja gunakan mekanisme
argumentasi dan adu pendapat aja, jadi nggak perlu sampai mobilisasi massa
kayak yang di Jawa TImur/ Tengah itu.
Kan, jadi imbang, kalau diserang dengan argument ya jawab dengan argument,
Nggak perlu MOBILISASI MASSA dan INTIMIDASI, apalagi pake darah-darahan
atau sumpah-sumpahan.
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!