Bung Amin, boleh ya saya memberikan komentar...

Menurut pendapat saya,  Agama dan Demokrasi itu itu tidak harus
bertentangan. Agama itu menyangkut soal keyakinan. Keyakinan itu bisa
berujud apapun. Bisa kebenaran, solusi mana yang terbaik, sistem mana yang
terbaik, presiden mana yang lebih baik, dsb. Tapi tentunya sudah terang,
keyakinan itu menyangkut agama mana yang paling meyakinkan.

Demokrasi adalah penemuan peradaban buat menata keyakinan yang berbeda. Jadi
tidak terjadi otot2an seperti keadaan kita saat ini. Demokrasi adalah tempat
dimana keyakinan berbeda bisa hidup bersama. Tapi, demokrasi modern bukan
tirani mayoritas. Dia punya berbagai alat buat menjaga keyakinan minoritas.
Dalam demokrasi, keyakinan agama tidak dibunuh. Keyakinan agama mendapat
kesempatan berkampanye mendapatkan suara. Membaca doa Al-Fatehah (  maaf
saya tidak mengetahui tepat istilahnya dalam agama Kristen ) sebelum memulai
belajar di Public School Amerika masih saja terus diperjuangkan sampai
sekarang. Kaum konservative yakin sekali itu baik sekali untuk menjaga moral
bangsa.  Dan itu di hormati, meskipun belum tentu diterima.

Demokrasi , kedaulatan rakyat , bukan buat menguji  keyakinan mana yang
benar. Keyakinan tidak harus berubah meskipun 95% manusia lain punya
keyakinan berbeda. Demokrasi adalah sekedar giliran pada sesuatu keyakinan
buat melakukan hal yang terbaik buat semuanya.  Bila pada giliran kali ini
gagal atau tidak perform, maka giliran berikutnya akan diserahkan pada
keyakinan, atau manusia lain.  Semuanya dengan ikhlas dan damai.

Khusus pada agama Islam, saya tidak menjumpai adanya ketentuan agama yang
berupa  system ketatanegaraan. Berbagai system dipakai masyarakat Islam
dimana-mana sesuai dengan ke-modern-an masyarakatnya.  Saudi Arabia tempat
Ka'bah Islam masih menggunkan system yang bertentangan dengan Islam : System
Kerajaan. Iran ,  dibawah Ayatollah yang konservative , malahan sudah
memakai demokrasi lebih dulu dari  Nusantara.  Mudah2an masyarakat  kita
bisa cepat jadi lebih modern, tidak lagi menggunakan system "jempol
berdarah' ber-kali2.

Wassalam.
Abdullah Hasan


-----Original Message-----
From: Amin Riza <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wednesday, June 30, 1999 1:55 PM
Subject: [Kuli Tinta] Let democracy works


Bung Martin, ini mungkin bidang garapan Anda, walaupun yang saya sampaikan
mungkin Anda anggap langkah mundur.

Disetiap posting Anda, selalu terdapat seruan :
Dukunglah Kampanye AGAMA untuk PERDAMAIAN!
Dan Anda adalah aktivis, atau mungkin Ketua FORMA-KUB.

Berarti Anda menggunakan referensi Agama untuk menyikapi kehidupan. Lebih
dari itu, karena kita hidup dimasyarakat dengan keragaman agama, Anda
memandang pentingnya kerukunan hidup sekalipun beragam agama.

Jadi kondisi yang Anda inginkan adalah masyarakat yang beragama dan rukun
satu sama lain. Tolong dikoreksi kalau salah.

Dalam kaitannya dengan demokrasi, tolong Anda konfirmasi, apakah benar bahwa
tidak ada satu Agama-pun yang mengajarkan, apalagi menerapkan DEMOKRASI.
Agama mengajarkan manusia mematuhi perintah Tuhan, dan bukan kehendak
manusia sekalipun itu mayoritas rakyat.

Apakah dengan demikian demokrasi suatu paham yang bertentangan dengan Agama
(manapun)?

Kalau ya, lalu bagaimana seharusnya kehidupan dalam bangsa dengan beragam
agama diselenggarakan tetap dalam kerukunan?

Kalau tidak, bagaimana sinkronisasi kedua hal itu (Demokrasi dan Agama)
supaya kerukunan tetap terjalin dalam kehidupan bangsa dengan beragam Agama?

Saya berharap FORMA KUB pernah menyentuh topik ini.

--



______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!






Kirim email ke