Terima kasih bung Abdullah.
Satu pertanyaan yang membersit diantara keindahan uraian Anda : Pola manakah yang
diterapkan di Madinah ketika masyarakat multi agama mampu hidup secara damai
sejahtera, sampai sekarang?
Bukankah kita sedang menuju masyarakat Madani yang gampangnya diartikan "Madinah
society model"?
Saya melihat dengan jelas, jalan raya yang menuju non-moslem society area disana sama
bagusnya dengan jalan yang menuju Masjidil Nabawi. Saya yakin fasilitas umum dan
fasilitas sosialnya juga begitu, sekalipun saya belum melihatnya sendiri.
Satu lagi :
Agama itu dasarnya wahyu, isinya pengaturan bagaimana hidup harus dilaksanakan
berdasarkan SUARA TUHAN.
Sedangkan demokrasi, dasarnya penalaran manusia, tetang bagaimana sebaiknya hidup
bersama menurut SUARA RAKYAT.
Padahal SUARA RAKYAT tidak selalu sama dengan SUARA TUHAN.
Komplikasi ini sangat buram batasnya. Dan keburaman menyuburkan tumbuhnya manipulasi.
--
On Fri, 2 Jul 1999 16:52:07 Abdullah Hasan wrote:
>Bung Amin, boleh ya saya memberikan komentar...
>
>Menurut pendapat saya, Agama dan Demokrasi itu itu tidak harus
>bertentangan. Agama itu menyangkut soal keyakinan. Keyakinan itu bisa
>berujud apapun. Bisa kebenaran, solusi mana yang terbaik, sistem mana yang
>terbaik, presiden mana yang lebih baik, dsb. Tapi tentunya sudah terang,
>keyakinan itu menyangkut agama mana yang paling meyakinkan.
>
>Demokrasi adalah penemuan peradaban buat menata keyakinan yang berbeda. Jadi
>tidak terjadi otot2an seperti keadaan kita saat ini. Demokrasi adalah tempat
>dimana keyakinan berbeda bisa hidup bersama. Tapi, demokrasi modern bukan
>tirani mayoritas. Dia punya berbagai alat buat menjaga keyakinan minoritas.
>Dalam demokrasi, keyakinan agama tidak dibunuh. Keyakinan agama mendapat
>kesempatan berkampanye mendapatkan suara. Membaca doa Al-Fatehah ( maaf
>saya tidak mengetahui tepat istilahnya dalam agama Kristen ) sebelum memulai
>belajar di Public School Amerika masih saja terus diperjuangkan sampai
>sekarang. Kaum konservative yakin sekali itu baik sekali untuk menjaga moral
>bangsa. Dan itu di hormati, meskipun belum tentu diterima.
>
>Demokrasi , kedaulatan rakyat , bukan buat menguji keyakinan mana yang
>benar. Keyakinan tidak harus berubah meskipun 95% manusia lain punya
>keyakinan berbeda. Demokrasi adalah sekedar giliran pada sesuatu keyakinan
>buat melakukan hal yang terbaik buat semuanya. Bila pada giliran kali ini
>gagal atau tidak perform, maka giliran berikutnya akan diserahkan pada
>keyakinan, atau manusia lain. Semuanya dengan ikhlas dan damai.
>
>Khusus pada agama Islam, saya tidak menjumpai adanya ketentuan agama yang
>berupa system ketatanegaraan. Berbagai system dipakai masyarakat Islam
>dimana-mana sesuai dengan ke-modern-an masyarakatnya. Saudi Arabia tempat
>Ka'bah Islam masih menggunkan system yang bertentangan dengan Islam : System
>Kerajaan. Iran , dibawah Ayatollah yang konservative , malahan sudah
>memakai demokrasi lebih dulu dari Nusantara. Mudah2an masyarakat kita
>bisa cepat jadi lebih modern, tidak lagi menggunakan system "jempol
>berdarah' ber-kali2.
>
>Wassalam.
>Abdullah Hasan
>
>
>-----Original Message-----
>From: Amin Riza <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
>Cc: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
>Date: Wednesday, June 30, 1999 1:55 PM
>Subject: [Kuli Tinta] Let democracy works
>
>
>Bung Martin, ini mungkin bidang garapan Anda, walaupun yang saya sampaikan
>mungkin Anda anggap langkah mundur.
>
>Disetiap posting Anda, selalu terdapat seruan :
>Dukunglah Kampanye AGAMA untuk PERDAMAIAN!
>Dan Anda adalah aktivis, atau mungkin Ketua FORMA-KUB.
>
>Berarti Anda menggunakan referensi Agama untuk menyikapi kehidupan. Lebih
>dari itu, karena kita hidup dimasyarakat dengan keragaman agama, Anda
>memandang pentingnya kerukunan hidup sekalipun beragam agama.
>
>Jadi kondisi yang Anda inginkan adalah masyarakat yang beragama dan rukun
>satu sama lain. Tolong dikoreksi kalau salah.
>
>Dalam kaitannya dengan demokrasi, tolong Anda konfirmasi, apakah benar bahwa
>tidak ada satu Agama-pun yang mengajarkan, apalagi menerapkan DEMOKRASI.
>Agama mengajarkan manusia mematuhi perintah Tuhan, dan bukan kehendak
>manusia sekalipun itu mayoritas rakyat.
>
>Apakah dengan demikian demokrasi suatu paham yang bertentangan dengan Agama
>(manapun)?
>
>Kalau ya, lalu bagaimana seharusnya kehidupan dalam bangsa dengan beragam
>agama diselenggarakan tetap dalam kerukunan?
>
>Kalau tidak, bagaimana sinkronisasi kedua hal itu (Demokrasi dan Agama)
>supaya kerukunan tetap terjalin dalam kehidupan bangsa dengan beragam Agama?
>
>Saya berharap FORMA KUB pernah menyentuh topik ini.
>
>--
>
>
>
>______________________________________________________________________
>To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
Get your FREE Email at http://mailcity.lycos.com
Get your PERSONALIZED START PAGE at http://my.lycos.com
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!