Mr Adenan, this is just great! Bravo!
The problem is the young generation we have. They are the future
leaders, basically, but only view of them having vision as yours.
Indeed, only small group of people can change the world, but do
we have them?
----- Original Message -----
From: Chandra Adenan <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 28 September 1999 10:00
Subject: Re: [Kuli Tinta] HAM
Memang banyak hal yang harus dilakukan untuk masalah yang satu
ini dan tidak
tau kapan bisa terealisasi.
Ini adalah suatu scenario global yang memang sudah dirancang oleh
barat
sejak konsep kolonialisasi konvensional tidak populer lagi. Yang
aku
sesalkan adalah ketidak mampuan pemimpin-2 kita mengantisipasi
gejala ini
sejak awal. Soekarno mungkin sudah melakukan antisipasi tetapi
dengan gaya
heroiknya itu malah menjadi boomerang, Soeharto sebenarnya secara
prinsip
sudah bagus tetapi ketidak mampuannya dalam hal operasional
membuat konsep
yang dibuat tidak dikerjakan(untuk bangsa) dengan serius.
Sedangkan BJH
walaupun mungkin punya konsep tapi diterapkan pada saat yang
tidak tepat,
sehingga terlalu banyak yang harus dikorbankan.
Apakah barat menerapkan issue HAM secara tulus...? tidak juga.
HAM yang
dihembuskan oleh personil mungkin jauh lebih tulus dibandingkan
dengan HAM
yang dijual oleh negara adi daya.
Seharusnya para pemimpin kita baik yang berkuasa maupun yang
tidak memiliki
keseriusan untuk membawa bangsa dan negaranya lepas dari
terjangan barat,
kita butuh ketulusan, kecerdasan, keadilan, keberanian dan
kedisiplinan yang
luar biasa pada diri para pemimpin kita yang akan datang.
Pada awalnya aku mengagumi Faisal Basri tetapi ketika dalam suatu
wawancara
dengan wartawan tentang kasus BB, dia menyebutkan bahwa "kita
bisa minta
bantuan dunia internasional untuk menekan pemerintah" dan
"Byaaaar...!"
kekaguman padanya hilang. Begitu mudah dia tidak percaya pada
kemampuan diri
dan bangsanya untuk menekan sebuah tindakan yang tidak benar.
Padahal sejak
jaman pra-VOC sudah kita ketahui bahwa permintaan bantuan ke
komunitas lain
akan menimbulkan konsekuensi besar yang membuat posisi kita
menjadi lemah,
kenapa tidak belajar dari se-ekor keledai yang tidak mau jatuh
dalam lubang
yang sama untuk kedua kalinya...?
Kita harus lepas dari tekanan ini dengan posisi tetap kuat, kita
harus
mengganti pemerintahan, menciptakan struktur kenegaraan yang
lebih solid dan
fondasi ekonomi yang kuat. Kita tidak perlu menjadi bangsa yang
sangat maju
dalam ekonomi dan teknologi secara cepat sehingga mengorbankan
faktor sosial
lainnya, yang kita perlukan adalah sebuah sistem yang andal yang
mampu
memayungi bangsa kita dari terjangan neo-kolonialisasi barat.
Kalau sistem
itu mampu kita ciptakan maka kemajuan dalam ekonomi dan teknologi
akan
berkembang dengan sendirinya dan insya allah akan lebih cepat
dari yang kita
duga.
Aku setuju dengan bung Sujanto, kita membutuhkan LSM lebih
banyak. Tetapi
yang lebih penting adalah bagaimana setiap LSM itu mempunyai
nilai
kebangsaan yang sangat tinggi dan aku pikir kita memerlukan
sebuah aktivitas
kampanye yang mampu mengantarkan informasi dari negeri ini ke
akar rumput di
negara-negara barat. Sehingga mereka mempunyai informasi yang
berimbang.
Kondisi bangsa ini sangat parah, orang Indonesia sudah keburu
dicap sebagai
orang bar-bar. Pada saat aku berada di NC/USA, aku perlu berdebat
panjang
dengan sekelompok orang untuk meyakinkan bahwa orang Indonesia
juga sangat
beragam tidak semua bar-bar dan banyak pula yang memiliki
keinginan
memperbaiki bangsa ini secara tulus.
Jayalah negara demi bangsa.
----- Original Message -----
From: J.Sujanto <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, September 27, 1999 8:54 AM
Subject: Re: [Kuli Tinta] HAM
> Setuju, Bung!
> Apa yang bisa lakukan sekarang menghadapi situasi dan sikap
negara2 asing
> yang melanggar HAM?
> Apakah kita (memang sudah) harus menjadi "kelompok moral force"
atau
> membentuk lebih banyak lagi LSM bidang HAM (ump. semacam
Internet Humans
> Right Indonesia?).
> Mohon pendapat kawan-kawan netters!
> God Bless you
> jsujanto
>
> BTW tidak ada masalah selesai tuntas dengan cara balas dendam;
yang
terjadi
> penyelesaian semu, yang akan menimbulkan problem baru.
> Start The Day with Love
> Fill the Day with Love
> End the Day with Love
>
> jsujanto
> ----- Original Message -----
> From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
> To: Kuli Tinta <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: 27 September 1999 7:33 AM
> Subject: [Kuli Tinta] HAM
>
>
> > Marilah kita kembali menggunakan tolok ukur kemanusiaan.
> >
> > Apa yang telah dilakukan oleh Pemerintahan Soeharto terhadap
> > rakyat Timtim yang menentang pro integrasi adalah
bertentangan
> > dengan nilai-nilai kemanusiaan.
> >
> > Kini kita telah mengetahui bahwa pada saat itu Soeharto telah
> > digunakan oleh Amerika dan Australia yang takut kalau komunis
> > masuk melalui Timtim mengingat bumi nusantara ini terletak
pada
> > geografi yang sangat strategis secara politis dan ekonomis.
> > Ingat, F16 yang diterbangkan oleh pilot Indonesia denga
bendera
> > Star of David dari Yordania dan masuk ke Timtim adalah atas
> > peresetujuan AS. Australia juga sangat mendukung integrasi
pada
> > saat itu. Kini, apa yang mereka lakukan terhadap bangsa dan
> > negara ini? Tidak ada persahabatan sejati, yang ada adalah
> > kepentingan sejati. Rela dan Maukah kita sebagai anak bangsa
> > dipermainkan oleh negara lain? Saya sebagai pribadi maupun
anak
> > bangsa tidak mau!
> >
> > Nah, kini ketika pasukan Interfet masuk ke Timtim, aksi balas
> > dendam pro kemerdekaan yang di back up oleh Interfet mulai
> > dilakukan. Terima kasih kepada TV swasta Indonesia yang
> > menyajikan secara visual kasus-kasus balas dendam itu.
> >
> > Pembunuhan terhadap mereka yang dicurigai sebagai pro
Integrasi
> > terjadi. Pembakaran hidup-hidup seorang yang dicurigai
sebagai
> > pro integrasi diketahui oleh Interfet dan mereka diam saja
dan
> > justru berpihak. Katanya, mereka adalah penjunjung tinggi
> > nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi? Bukankah ini sama
persis
> > dengan tragedi pembunuhan besar-besaran di tahun 1965 dimana
> > orang yang dicurigai simpatisan atau pro PKI dibunuh tanpa
sebuah
> > klarifkasi? Bukankah banyak terjadi, kasus masalah senang dan
> > tidak senang lalu dikaitkan dengan stigma PKI pada saat itu
untuk
> > menyingkirkan? Bukankah kejadian ini mirip dengan apa yang
sedang
> > terjadi di Timtim?
> >
> > Siapapun pejuang HAM, tidak akan pernah berpihak kepada siapa
> > saja yang melanggar HAM karena HAM adalah universal. Kalau
memang
> > benar CNN, BBC, dan media barat yang lain menyiarkan masalah
HAM
> > dan keseimbangan berita maka mereka mestinya juga menyiarkan
> > fakta pembunuhan dan pembakaran mereka yang dituduh pro
integrasi
> > itu. Ini adalah masalah kemanusiaan yang bersifat universal
Bung.
> > Mengapa AS membela Kuwait pada saat perang teluk itu? karena
HAM?
> > He... he... karena minyak Bung! Bush memang mengatakan "this
> > picture makes me sick" ketika melihat perlakuan tentara Iraq
> > terhadap wanita Kuwait sebelum men declare perang. Namun
apakah
> > karena itu kemudian AS tergerak? Persiapan mereka sudah lama
> > Bung, untuk melindungi kepentinga mereka..
> >
> > Marilah kita sebagai anak bangsa hand in hand untuk
memanfaatkan
> > potensi itu bagi kepentinga bangsa dan neara ini dan jangan
> > sampai negara-negara (barat) yang sudah mulai kehabisan
sumber
> > daya alamnya dengan seenaknya memanfaatkannya untuk
kepentingan
> > mereka.
> >
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!