Saya yakin kalau bebas memilih, pak Habibie-pun akan lebih enjoy kalau boleh
meninggalkan bursa Capres ini, asalkan dengan terhormat.
Privelege dia kan sudah tingkat dunia, mau cari apa lagi? Tidak tersirat
sedikitpun ambisi pribadinya untuk mempertahankan kursi itu, dari beberapa
ucapan spontan yang sering saya saksikan langsung (baik lewat TV maupun
tidak). Hal yang sama juga saya lihat pada pak Harto ketika harus menduduki
masa jabatannya yang ketujuh. Tetapi lingkungannya yang sudah terlanjur
tidak bersih itulah yang mendorong dorong, yang ujung ujungnya untuk
kepentingan pribadi, yaitu mencari penyelamatan diri atas 'kekeliruan' yang
mereka perbuat dimasa lalu, sehingga memanfaatkan rasa setia kawan pak
Habibie secara salah, dengan berusaha mendesaknya untuk tidak mundur dari
pencalonan, agar tetap dapat dijadikan tempat berlindung. Kalau pak Habibie
tidak disana, dan bukan dari kelompok Golkar Presidennya, nampaknya
pemasaran spring bed dan home theatre ke Cipinang akan laku keras.
Bagi Mega, urusan mundur dari pencapresan itu lebih ringan, karena hanya
tinggal menggaris bawahi politik anti kekerasan yang sering dilontarkannya.
Dalam konstelasi perubahan UUD seperti yang terjadi seperti ini, menjadi
Presiden sama sekali nggak ada keistimewaan apapun. Dan inilah yang benar,
sehingga nggak masalah siapapun Presidennya.
Saya kira bagi Capres yang berani mengumumkan pengunduran dirinya, dengan
alasan menghindari kekerasan, akan jauh mendapat simpati lebih besar, dari
pada maju terus dan menang. Apalagi kalau kalah.
Yap
>From: [EMAIL PROTECTED]
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: RE: [Kuli Tinta] Massa Megawati Ancam Lakukan Revolusi
>Date: Mon, 18 Oct 1999 08:03:10 +0700
>
>Yap.. aku setuju dengan pendapatmu Bung Yap,
>seharusnya PDI-P berpikiran positif untuk segera meninggalkan gelanggang
>perebutan kursi kepresidenan ini, tapi permasalahannya sekarang pasti
>orang-orang bawah yang diwakili oleh PDIP akan merasa dikhianati, dan
>mungkin
>akan bisa timbul lagi kerusuhan-kerusuhan yang lebih parah, hemat saya,
>seharusnya PDIP diset untuk menduduki jabatan CAWAPRES saja, agar golongan
>bawah
>yang menjadi pendukung PDIP tidak merasa terlalu kecewa.
>
>- dave -
>------------------------------------------
>Pada situasi seperti ini, sangat tidak arif PDIP ikut berebut kursi
>Presiden. Sangat terpuji kalau PDIP mempersilahkan capres lain mengambil
>kursi Presiden, untuk membuktikan bahwa PDIP anti kekerasan dan berdiri
>disemua golongan. Hari esok masih panjang dan sejarah akan mencatat apa
>yang
>sesungguhnya terjadi.
>Dengan perilaku seperti yang ditunjukkan petinggi PDIP saat ini, bukan
>simpati yang didapat, malahan antipati, karena ternyata mereka tak ada
>bedanya dengan binatang politik lainnya.
>Jabatan adalah amanah, bukan sesuatu yang pantas diperebutkan. Apalagi
>kalau
>sampai harus berdarah darah. Situasi politik telah sampai pada : Menang
>jadi
>arang kalah jadi abu. Sikap bijaknya adalah, tinggalkan gelanggang
>perebutan, persilahkan yang merasa paling pantas untuk mengambilnya, dan
>menikmati segala konsekuensinya.
>
>Pengabdian pada bangsa ini, seperti sejak semula saya yakini, tidak harus
>melalui jalur formal dan perebutan jabatan. Berbuat baik bagi kemanusiaan,
>tidak harus mencederai nilai kemanusiaan itu sendiri.
>
>Bangunlah jiwanya, bangunlah bangsanya, untuk Indonesia Raya.
>
>Yap
>
>
>
>______________________________________________________________________
>Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
>dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
>Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!