Tidak perlu merasa heran Mas Daniel.
PT mendukung GD menjadi Presiden juga sebuah blunder
untuk pokoknya bukan MW meskipun akhirya kita tahu itu
ternyata sebuah rahmat yang tersembunyi.
Logika Mas Daniel bisa dipahami secara sederhana. Di
sisi yang lain, gagasan GD juga mengundang analisis dan
opini yang berbeda. Salah satunya adalah Tulisan Slamet
Sutrisno di Bernas. Dia menganalisis berdasar fakta
bahwa masih banyak teori mengenai peristiwa G30S dan
tumpes kelor anggota simpatisan dan turunan PKI.
Analisisnya sampai pada pergaulan masa muda Soeharto.
Kesimpulannya adalah jawaban mengapa Soeharto harus
melakukan tumpes kelor.
Nah, pada halaman yang sama memuat pengakuan Latief
yang heran mengapa Soeharto tidak dihadirkan pada
sidangnya dulu padahal dari sana keterangannya bisa di
cross check dengan Soeharto, disamping banyak hal
diseputar peristiwa itu bisa diungkap.
Kalau itu dikaitkan dengan fakta bahwa beberapa bulan
sebelum peristiwa itu (baca:kejatuhan pemerintahan
Soekarno) ada beberapa perwira TNI AD yang berkunjung
ke Malaysia padahal pada saat itu kita sedang
berkonfrontasi dengan Malaysia. Romo Mangun di Kompas
menulis bahwa itu juga sebagai sebuah bentuk
pengkhianatan terhadap pemerintahan yang sah. Tulisan
Rm Mangun itu ditujukan untuk menanggapi tudingan
pengkhianatan LSM yang dikatakan berkhianat oleh
Pemerintah Orba pada saat itu karena telah menjelaskan
kebobrokan Indonesia di luar negeri.
Ketika banyak tuntutan mengenai pelurusan sejarah dan
kemudian GD mengeluarkan gagasan itu, bukannya telaah
terhadap gagasan itu yang muncul namun malah gagasan
itu dipelintir sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah
serangan untuk menurunkan GD pada saat kita sudah
sepakat untuk menyepakati sistem yang sedang dibangun.
Padahal, seperti Bung Daniel mengatakan, pertama bahwa
kebebasan berpendapat dijamin oleh UU, ke dua bahwa GD
sebagai presiden tidak mempunyai kekuasaan untuk
mencabut Tap MPRS itu. Bagaimana mungkin orang-orang di
Senayan tidak tahu itu? Atau jangan-jangan mereka
sebenarnya tidak menyepakati kesepakatan itu?
----- Original Message -----
From: Daniel H.T. <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Sunday, April 16, 2000 12:15 AM
Subject: [Kuli Tinta] Reaksi Berlebihan
Menyimak begitu gencarnya serangan para pakar politik
dan politikus, termasuk dan terutama para anggota MPR
dari kubu Poros Tengah soal gagasan Presiden
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tentang pencabutan TAP MPRS
No. XXV/MPRS/1966, saya yang rakyat biasa dan awam
politik merasa heran.
Keheranan saya terutama berasal dari seputar komentar
keras dari anggota-anggota MPR, termasuk Ketua MPR
Amien Rais bahwa gagasan pencabutan TAP MPRS -- apalagi
kalau TAP MPRS itu benar-benar dicabut, -- bisa menjadi
salah satu alasan kuat untuk meminta SI MPR untuk
melakukan Impeachment terhadap presiden. Kata mereka,
dari sini Gus Dur kemungkinan besar bisa dilengserkan.
Bagi saya gagasan Presiden Gus Dur tentang pencabutan
TAP MPRS tersebut masih merupakan sebatas gagasan.
Bukankah setiap warganegara berhak melontarkan gagasan
(politik)nya? Dan, saya yakin mereka yang menyerang Gus
Dur sampai dengan ancaman melakukan impeachment
tersebut, lebih dari mengerti bahwa akhirnya yang
berwenang untuk memutuskan apakah TAP MPRS itu boleh
dicabut ataukah tidak adalah lembaga tertinggi negara,
yang bukan lain adalah MPR sendiri. Bukan wewenang
Presiden.
Maka, sangat tidak logis kalau mereka ini mengrespon
gagasan Presiden seperti di atas. Kalau memang MPR
memutuskan untuk menolak gagasan Presiden tersebut,
maka tidak mungkin TAP MPR tadi bisa dicabut.
Sebaliknya, kalau TAP MPR itu sampai dicabut (yang
tentu saja diputuskan dalam SU MPR), maka sebenarnya
yang bertanggung jawab atas pencabutan tadi ya MPR
sendiri. Masa yang bertanggung jawab atas implementasi
wewenang MPR itu adalah Presiden?
Karena mereka itu pasti lebih dari mengerti terhadap
mekanisme ketatanegaraan ini, maka tak berlebihan kalau
orang kemudian curiga bahwa di balik semua itu ada
tersembunyi ambisi-ambisi politik tertentu, yang memang
menghendaki Gus Dur digusur.
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!